
Mama Ningrum mengalami sesak nafas hingga harus di bantu dengan selang oksigen. Dania yang melihat dari luar pun sangat bersedih dengan keadaan Mama Ningrum yang demikian.
Tidak terhitung lagi dirinya menangisi Mama Ningrum yang tidak bisa ditemuinya karena larangan Radit dan Papa Hamzah hanya diam saja.
Dania hanya mampu memanggil nama Mama Ningrum di dalam hatinya, Mama yang teramat menyayanginya.
Dania terlalu fokus memperhatikan Mama Ningrum dari balik jendela kaca, sehingga tidak memperhatikan Radit yang sudah berdiri disampingnya.
"Kalau saja kamu tidak bodoh, Mama tidak akan menderita begini!." Dengan kasar Radit mendorong tubuh Dania hingga oleng dan hampir terjatuh. Namun, untungnya ada tangan kekar seseorang yang menangkap tubuh Dania.
Perlahan Dania mendongak, menatap pria yang saat ini memeluk tubuhnya dengan begitu erat. "Kak Almeer."
Almeer langsung meninggalkan pekerjaannya setelah Dania mengabarinya tidak masuk bekerja dan berada di rumah sakit.
"Kamu tidak apa-apa?."
Dania menggeleng sambil melepaskan diri dari pelukan Almeer. Kemudian berdiri di sebelah Almeer dengan tatapan yang tertuju pada Radit.
"Kau datang menjadi pahlawan untuk adik ku?!." Bentak Radit sambil mendorong dada Almeer.
"Iya, aku akan menjadi pahlawan untuk Dania. Jadi kau harus berpikir ulang sebelum menyakitinya lagi."
Radit terwata sinis. "Atas dasar apa, hah?. Kau siapanya?."
"Aku tidak perlu menjadi siapa pun untuk bisa melindungi Dania, yang terpenting aku akan menjadi orang terdepan yang akan melindungi mereka."
Radit mengerutkan dahinya sampai dalam, dia tidak mengerti siapa lagi yang ingin dilindunginya selain Dania. Tapi, Radit tidak ambil pusing untuk itu karena sekarang masalahnya sendiri sudah merembet kemana-mana.
"Ku ingat kan sekali lagi pada mu, Dania!. Jangan pernah masuk menemui Mama selama tidak ada izin dari ku, kamu mengerti?."
"Tapi aku mau bertemu Mama, Kak Radit!." Dania memegangi kedua lengan Radit sembari menangis. Tapi, Radit tetap tidak memperbolehkannya.
"Jangan sampai aku berbuat kasar pada mu karena kamu melanggarnya!." Ancam Radit yang kemudian pergi dari sana, dirinya menuju bagian administrasi.
__ADS_1
Dania menangis menatap Mama Ningrum dari balik jendela kaca yang tidak tertutup tirai. Mama Ningrum sudah membuka matanya tapi belum bisa diajak bicara.
Dania yang tidak masuk ke ruangan Mama Ningrum pun, hanya bisa pasrah dan berdiam diri ditempatnya sekarang. Sekilas Papa Hamzah melihat kearahnya, tapi Papa Hamzah hanya diam.
Apa yang terjadi pada Dania, Almeer dan Radit tidak lepas dari pengamatan Azka. Sejak tadi pria itu keluar dari ruangan setelah merasa tubuhnya kembali bugar dan melihat Radit dan Hamzah yang membawa Ningrum.
Azka melihat ketulusan yang ditunjukkan Almeer pada Dania. Dia pun hanya bisa menarik nafas panjang dan pergi dari sana menuju ruangan Dokter Tantan.
Azka dan Radit berpapasan di koridor rumah sakit saat Radit selesai dari bagian administrasi. Keduanya saling berhadapan, diam berdiri dengan tatapan yang hanya mereka sendiri yang tahu. Sehingga pada akhirnya Azka yang buka suka terlebih dulu.
"Aku akan pastikan kau akan membusuk di penjara!."
Radit teryawa meremehkan. "Tidak Azka, kau jangan terlalu berambisi untuk memenjarakan ku. Jika itu sampai terjadi, bisa aku pastikan kau akan malu dan sangat kecewa terhadap Joanna. Jadi, lebih baik kau duduk manis saja."
Azka menatap Radit yang sepertinya tidak main-main dengan apa yang diucapkannya barusan. Berarti memang ada sesuatu antara Joanna dan pria itu. Dan video itu benar adanya.
Radit tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membuat Azka bungkam.
"Sebelum kau menyesalinya dengan membawa masalah ku dan Joanna pada jalur hukum. Lebih baik kau cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, ok." Setelah mengatakan itu Radit melewati tubuh Azka dengan menabrakan dada bidangnya pada bahu Azka sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Karena Radit melakukannya dengan semua tenaga yang dimilikinya.
Radit masih melihat jika Dania dan Almeer masih berdiri di sana, kemudian dia meminta Dania untuk masuk ke dalam dan menemuinya Mama mereka.
Dania tidak membuang-buang waktu dan segera berlari ke dalam ruangan dan saat ini sudah berdiri di samping Mama Ningrum.
"Mama..." Panggil Dania hendak memegang tangan Mama Ningrum namun sudah terlebih dulu di cekal oleh Radit.
"Waktu mu tidak banyak, Dania. Dalam tiga hari kamu harus menyiapkan uang 30 jt untuk pengobatan Mama. Kalau tidak bisa, jangan harap kamu bisa melihat apalagi menemuinya." Bisik Radit di sebelah belakang Dania.
Dania menggeleng, tidak mungkin dirinya tidak melihat sang Mama. Tapi, syarat yang diajukan Radit pun begitu sulit baginya, dalam waktu tiga hari pula. Dari mana uang itu akan didapatnya?.
"Tapi, Kak..."
"Sekarang kamu keluar, setelah membawa uang itu kamu boleh menemui Mama lagi." Kemudian Radit mendorong tubuh Dania membawanya keluar tanpa berpamitan pada Papa atau pun Mama nya.
__ADS_1
Papa Hamzah dan Mama Ningrum tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan suara yang sangat pelan. Mereka berdua hanya bisa melihatnya saja.
Tidak lama kemudian Radit kembali masuk dan menutup pintunya.
"Mau pergi kemana Dania?." Tanya Papa Hamzah ketika melihat punggung Dania semakin menjauh dari ruangan rawat istrinya.
"Aku meminta Dania pulang untuk menyiapkan pakaian Mama."
"Lalu dengan biaya rumah sakit ini bagamana, Radit?."
"Papa tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya. Yang terpenting Mama bisa kembali sehat."
Papa Hamzah hanya bisa mengangguk sebab dirinya pun sudah tidak memiliki uang lagi.
Sementara itu di rumah besar Azka Narendra. Semua pelayan rumah berjajar rapi di depan seorang pria paruh baya, rambut sudah berwarna putih semua, janggut dan brewok yang memutih juga. Namun, barisan gigi tetap utuh sempurna belum ada yang tanggal satu pun. Dia adalah pemilik nama dari Narendra Barata Ningrat.
"Sudah berapa hari cucu kesayangan ku masuk rumah sakit?." Sambil hilir mudik pria paruh baya itu menanyai semua pelayan yang ada didepannya.
"Marni, kau pun tidak bisa menjawabnya?." Tanya Barata pada Marni sang kepala pelayan.
"Sudah satu Minggu ini, Tuan Besar." Jawabnya gugup.
"Ok, aku minta kau catat di mana aku bisa mengunjungi cucu kesayangan ku. Dan satu lagi, kau ceritakan semuanya pada ku, mengapa cucu ku bisa masuk rumah sakit?."
Bibi Marni menarik nafas perlahan lalu membuangnya dengan begitu pelan. Beban berat sedang berada dipundaknya ketika di minta untuk menceritakan apa yang telah terjadi pada Azka.
"Baik, sepertinya kau sangat keberatan untuk bercerita di depan mereka semua. Yang lain silakan bubar dan kembali pada pekerjaan masing-masing."
"Iya, Tuan Besar. Terima kasih." Mereka semuanya pun dengan tertib undur diri dari hadapan Barata.
Kini menyisakan Bibi Marni dan Barata yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan.
"Sekarang ceritakan semuanya pada ku, jangan sampai ada yang terlewat atau kau tutupi dari ku!."
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit lamanya Marni bercerita, dan Barata hanya tersenyum simpul ketika mendengar tentang cucu kesayangannya.
"Dania...Dania...Dania. Aku harus bertemu dengan gadis itu." Gumamnya.