
Bugh Bugh Bugh
Tiga lawan satu tidak jadi masalah bagi Azka yang sedikit menguasai ilmu bela diri dalam menghadapi tiga bandit yang hampir saja melecehkan istrinya.
Untung saja ada beberapa pekerja OB di lantai itu dan melihat kejadian sehingga dengan cepat melaporkan pada pihak keamanan gedung. Dan dengan mudahnya Azka, Rusli dan Barata bisa datang di lokasi kejadian.
Amarah Azka kian memuncak ketika ketiga pria itu mendekati Dania dengan tatapan liar dan sangat mesum. Tanpa memikirkan apapun lagi Azka langsung menyerang mereka secara membabi buta.
Padahal ketiga pria itu sudah puluhan kali meminta ampun pada anak pemilik perusahaan. Namun Azka menulikan pendengarannya, tidak mau mendengar ataupun melihat manusia sampah seperti mereka.
"Tolong maafkan atas kelancangan dan kesalahan kami. Kami tidak akan mengulanginya!."
Dan ketiga orang yang sudah babak belur itu baru saja menandatangani sebuah kontrak kerja sama dengan perusahaan Rusli untuk produk yang mereka miliki. Seketika Azka membatalkan kerja sama tersebut dan memasukkan mereka dalam daftar hitam perusahaan.
Sebenarnya, Azka tidak akan pernah puas sebelum melihat ketiga pria itu membusuk di bawah tanah. Namun karena Rusli, Barata dan Inara yang menenangkannya. Akhirnya Azka harus puas dengan mereka yang babak belur saja.
"Buat mereka bicara, Pa. Siapa yang ada dibalik mereka bertiga?."
"Iya kau tenang saja. Sekarang kau pulang, bawa Dania. Biarkan Inara dan Zayyid bersama ku dan Papa."
Azka mengangguk sambil menatap Dania yang begitu ketakutan di dalam pelukan Barata.
"Semuanya sudah aman, sekarang ada suamimu yang akan melindungi." Barata mengecup pucuk kepala Dania dengan teramat sayang sebelum diserahkan kepada tangan Azka. Kapan penderitaan wanita itu akan hilang dan merasakan hidup bebas tanpa ketakutan apapun?.
Barata dan Rusli meminta beberapa keamanan untuk membawa ketiga pria itu ke dalam ruangan yang tidak jauh dari sana.
Setelah hampir satu jam mengintrograsi mereka dan itu murni kesalahan mereka, tidak ada campur tangan siapa pun. Maka mereka diminta untuk menghancurkan ponsel milik mereka bertiga dihadapan Rusli dan Barata. Dan menyerahkan ketiganya pada pihak yang berwajib karena pelecehan yang coba mereka lakukan terhadap Dania. Beberapa pegawai OB akan menjadi saksi.
Azka membawa Dania ke apartemen miliknya, ingin memanfaatkan momen mereka berdua lagi.
Mereka lebih memilih duduk santai di atas sofa yang cukup besar sambil berpelukan, Dania masih mendengarkan suaminya bercerita masalah mereka. Yang pasti akan segera berakhir dan mereka bisa hidup dengan tenang.
__ADS_1
"Bagaimana pun ini pasti akan berakhir sayang, kamu harus sabar dan kuat untuk menghadapinya. Ada aku, keluarga kita dan Zayyid yang akan menemani mu melewati semua ini.
"Hanya membutuhkan waktu sebentar lagi sebelum semuanya menghilang dan pergi secara perlahan. Ingat ada aku dan Zayyid yang akan menguatkan, kita akan menjadi penguat satu sama lain.
"Kamu harus percaya sayang, akan ada pelangi setelah badai. Begitu juga dengan rumah tangga kita, pasti kita akan bisa sangat bahagia setelah badai ini berlalu.
"Kamu mempercayainya bukan?."
Azka menundukkan sedikit pandangannya, bertemu pandang dengan mata Dania yang sedang menatapnya penuh cinta.
"Aku sangat percaya Kak." Jawab Dania lalu menempelkan bibirnya pada bibir Azka.
Pria itu tersenyum hangat lalu menahan tengkuk Dania dan kembali mencium bibir Dania dengan sangat dalam dan liar. Dan mulai melepaskan pakaian masing-masing hingga polos.
Sementara itu di kampus, Fathia bertemu dengan Hernita yang merupakan kakak tingkatnya di kampus itu. Dan Hernita masih bekerja di toko bunga Dania yang memang dimiliki oleh Barata.
Keduanya bercerita dan sama-sama mengenal sosok Dania. Hernita dan Fathia sama-sama berharap bisa terus berteman baik. Bukan hanya untuk di kampus saja.
"Aku sudah harus pulang, Fat. Dari sini aku langsung ke tempat kerja."
"Sama aku juga. Aku duluan ya." Pamit Hernita lalu berjalan menuju tempat motornya diparkir.
Fathia segera bergegas masuk kembali ke dalam kelas setelah jam istirahat selesai.
Disaat Fathia sedang sibuk menyiapkan materi barunya, sudah terdengar seorang pria yang mengabsen beberapa dari mereka. Sepertinya Fathia mengenal suara itu.
Benar saja, Dokter Levi sudah duduk di kursi Dosen dengan buku absen ditangannya.
Senyum manis Dokter Levi tertuju pada Fathia yang bengong menatap Dokter itu. Kenapa dirinya tidak tahu kalau Dokter Levi mengajar di kampus tempatnya menimba ilmu?. Tapi, untuk apa juga dirinya tahu?. Dengan cepat Fathia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Selama hampir satu jam lamanya Dokter Levi menerangkan ilmu menageman, Fathia dapat menyimaknya dengan baik. Karena dia tidak ingin pulang tanpa ilmu yang didapatnya.
__ADS_1
"Fathia, tolong bawakan semua buku ini ke ruangan saya!." Perintah itu terdengar manis di telinga Fathia. Ternyata saat bicara tegas seperti ini, Dokter Levi terlihat sangat berwibawa sekali.
Tapi Fathia tidak lupa kalau Dokter Levi sudah memiliki seorang tunanagan yang baru tadi pagi dikenalnya, Nency.
"Baik Dokter Levi, eh maaf Pak Levi." Jawab Fathia sambil mengikuti tubuh tegap Dokter Levi. Sepanjang langkah kakinya menuju ruangan Dokter Levi, selama itu pula pikiran Fathia tertuju pada nama panggilan untuk Dokter atau Pak Levi.
Sampai-sampai Fathia tidak menyadari jika dirinya sudah menabrak punggung lebar nan kokoh milik Dokter Levi.
"Ma... maafkan saya Pak Dokter Levi." Akhirnya seperti itu nama panggilan yang keluar dari mulutnya Fathia.
"Kenapa kamu bengong?."
Dengan cepat Fathia menggeleng.
"Ayo, masuk!."
Fathia segera menganggukkan kepalanya dan masuk melewati tubuh Dokter Levi. Lalu meletakkan semua buku di meja yang bertuliskan Dokter Levi Wibisana Atmaja.
"Saya pulang ya, Pak Dokter Levi!." Pamit Fathia pada pria itu.
"Tunggu 30 menit lagi, aku akan mengantar mu pulang."
"Tidak Pak Dokter Levi, terika kasih. Saya naik ojek saja."
"Hanya 30 menit lagi Fathia, kamu bisa duduk di sana dan mengerjakan tugas yang aku berikan." Dokter Levi menunjuk sebuah kursi yang didepanya sudah ada laptop.
Mendapatkan tatapan penuh permohonan lalu Fathia pun luluh dan mengangguk mengiyakan. Kemudian duduk di kursi yang tadi ditunjuk Dokter Levi.
"Gadis manis." Guman Dokter Levi sambil mulai menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk di atas meja.
Kembali lagi ke apartemen milik Azka, sudah sama-sama dua kali mendapatkan pelepasan. Azka dan Dania lalu mandi bersama dan berganti pakaian. Azka yang sudah selesai lebih dulu langsung menuju dapur dan membuat makanan dengan bahan-bahan yang ada di kulkas.
__ADS_1
Sebelum mendatangi apartemen miliknya, Azka meminta penjaga apartemen untuk merapikan isi apartemen dan mengisi kulkasnya. Karena mungkin sekarang Azka akan lebih sering pulang ke apartemen itu.
"Bagaimana menurut mu sayang, kalau kita tinggal di apartemen ini saja?." Tanya Azka saat Dania baru bergabung dengan dirinya di dapur.