Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 25 Azka Narendra


__ADS_3

Hidup Dania bisa di bilang satu Minggu ini berjalan dengan sangat tenteram. Jauh dari Azka Narendra meski harus masih bekerja di cafe miliknya. Tapi, tidak satu kali pun Azka memperlihatkan batang hidungnya ke cafe.


Berbanding sangat terbalik dengan hidup Azka yang sangat menderita karena efek kehamilan simpatik yang dialaminya, menyebabkan Azka harus dilarikan ke rumah sakit. Sudah berhari-hari Azka berada di sana di bawah kepengawasan Dokter Tantan. Tanpa ada yang mengetahuinya selain Joanna dan orang rumah Azka.


Berjauhan dengan Dania dan calon bayi mereka membuat Azka semakin tersiksa dan rasanya mau mati saja.


"Kau bisa perjuangkan gadis itu, sehingga kau dan calon bayi kalian semakin dekat. Aku lihat sepertinya gadis itu gadis yang baik." Dokter Tantan memberinya saran, Azka hanya menarik nafas panjang.


"Aku tidak mencintainya." Balas Azka menatap langit-langit kamar rumah sakit yang ditempatinya sekarang.


Dokter Tantan tertawa lalu memasukkan kedua tangan dalam saku celananya.


"Belum, kau belum mencintainya. Tapi, sudah menghabiskan banyak malam bersama gadis itu hingga hamil dan sekarang kau yang harus mengalami apa yang seharusnya dialami oleh gadis muda itu."


"Sudah, lupakan dia. Aku tidak ingin membahasnya."


Azka memejamkan matanya setelah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


Begitu juga dengan hidup Joanna, sekarang dirinya sedang ketar-ketir untuk memenuhi permintaan Azka. Untung saja saat ini Azka berada di rumah sakit, jadi dirinya masih bisa untuk mengatur strategi lagi untuk menyelamatkan Radit.


Saat ini Joanna mengunjungi Radit di kamar kos tanpa ada yang mengetahui kedatangannya.


"Bagaimana Azka bisa curiga?."


"Aku tidak tahu, mungkin sahabat-sahabatnya."


"Aneh saja, Sayang. Azka yang sudah mau melupakan kejadian itu. Sekarang malah mengungkitnya." Pikiran Radit sudah tertuju pada Dania yang telah memprovokasi Azka. Tapi, dirinya harus datang menemui Dania dan memastikannya sendiri.


"Apa ada yang kamu curigai?." Tanya Joanna saat terlihat Radit seperti sedang mengingat sesuatu.


Radit segera menggeleng, jangan sampai Joanna tahu kalau dirinya sudah bercerita pada Dania mengenai hubungan mereka.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?." Tanya balik Radit. Sangat berharap pada Joanna jika wanita itu memiliki cara lain untuk keluar dari masalah rumit ini.


Radit tidak mau jika harus masuk penjara untuk kesalahan yang mereka lakukan bersama, bukan karena adanya paksaan sehingga bisa dianggap pelecehan. Banyak yang dipertaruhkannya jika dirinya harus masuk bui.

__ADS_1


"Belum tahu, Sayang."


45 menit sebelum waktunya pulang, sebab pelajaran terakhir tidak ada guru yang mengisi karena adanya rapat dadakan seluruh guru.


"Beberapa hari tidak berkumpul dengan mu membuat kami kangen berat sama kamu, Dania." Fathia memeluk Dania yang sedang duduk.


"Aku pun rindu berat sama kalian bertiga. Maaf ya aku sibuk dengan kegiatan ku sendiri, jadi kurang memiliki waktu bersama kalian." Sesal Dania sambil memegangi tangan Fathia yang melingkar dilehernya.


"Sudah seperti pacar saja." Balas Medina dengan wajah cemberut.


"Mau bagaimana lagi, sekarang Dania yang paling sibuk diantara kita berempat." Salma menimpali.


"Iya benar." Balas Fathia.


Dari ketiganya belum ada yang berani untuk menyinggung suara Dania beberapa waktu lalu, sampai celetukkan Medina membuat hening seisi kelas.


"Dania, kamu sudah memiliki kekasih baru atau teman dekat yang bisa membuat mu mendes@h di telepon beberapa waktu lalu?."


Deg


Dania menatap intens pada Medina yang telah menanyakan perihal suara itu, apa yang bisa dikatakannya pada mereka bertiga?. Meski tidak ada kewajiban baginya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Tapi sebagai orang yang tahu diri dan kepedulian para sahabatnya terhadap masalah-masalahnya, menjadikan Dania harus mengatakan yang sebenarnya.


Kini semua pasang mata menatap penuh tanya dan menunggu apa jawaban dari Dania.


"Medina!. Dania!." Salma menggeleng sambil menatap keduanya.


"Sudah lupakan itu, Dania. Medina hanya bercanda dan kami tidak pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Medina.


"Dan untuk teman-teman yang lain, kalian bisa mengerjakan tugas lagi atau melanjutkan aktivitas yang lain dari pada hanya menatap kami terus." Fathia memberikan instruksi pasa teman-teman kelasnya.


Ini di luar dugaan mereka semua, kalau teman-teman mereka yang lain peduli atau sangat kepo terhadap pertanyaan Medina.


"Fathia benar, aku hanya bercanda saja. Maaf kalau aku keterlaluan bercandanya." Ucap Medina sebelum meninggalkan kelas yang diikuti oleh Salma. Sementara Fathia menanami Dania yang berkeringat dingin.


Sampai tiba waktu pulang sekolah, medina dan Salma tidak ada kunjung kembali ke dalam kelas. Sehingga Fathia yang harus membawa tas kedua sahabatnya. Sedangkan Dania harus pulang untuk bersiap bekerja.

__ADS_1


Dania pulang dengan menaiki angkutan umum yang lewat di depan sekolahnya. Saat ini adalah rumah yang menjadi tujuannya setelah membaca pesan dari Almeer, yang mengatakan kalau Almeer akan datang menjemput Dania.


Setelah dua puluh menit, Dania tiba di rumah. Kepulangannya di sambut oleh Radit yang sejak tadi ada di rumah baru mereka.


"Kakak ada perlu sama kamu!." Radit langsung menarik kasar tangan Dania lalu membawa ke dalam kamar Dania.


Mama dan Papa hanya bisa saling pandang melihat perilaku Radit yang menurut mereka sangat kasar terhadap Dania.


"Ada apa, Kak Radit?." Dania duduk di sisi ranjang.


"Kamu ada bilang sama Azka soal hubungan aku dan Joanna?."


Dania mengangguk sehingga Radit membentaknya.


"Ah, Sial. Kenapa kamu sangat bodoh, Dania?!."


Lalu Dania segera menggeleng. "Kak Azka tidak mempercayainya, Ka!."


"Tetap saja, Dania!. Kau sangat bodoh!, tidak tahu diuntung!."


"Memang kenapa, Kak Radit?. Karena Kak Azka tidak percaya dengan pengkhianatan kalian. Kak Azka lebih percaya pada calon istrinya." Dania memberitahu yang sebenarnya. Tapi, sepertinya Radit sudah sangat marah pada Dania.


"Kau mau tahu, Dania. Sekarang Azka ingin memasukkan ku ke dalam penjara karena masalah itu. Karena kebodohan mu!. Padahal aku tidak melecahkan Joanna, kami melakukannya karena dasar suka.


"Kau harus bertanggung jawab kalau sampai aku harus masuk penjara dan kamu harus membayarnya dengan sangat mahal, Dania!."


Dania menutup mulutnya, begitu fatal kah untuk Radit dari terbongkarnya hubungan gelap yang terjadi antara Joanna dan Radit?. Apa benar ini kesalahannya juga?.


"Mama! Mama!." Dari luar pintu kamar Dania, terdengar teriakan papa Hamzah yang memanggil Mama Ningrum.


Dania dan Radit segera keluar, keduanya begitu kaget saat mendapati Mama Ningrum yang sudah tergeletak di atas lantai.


"Kau yang harus bertanggung jawab untuk semua kekacauan ini, Dania!." Radit menepis kuat tangan Dania yang hendak menyentuh Mama Ningrum.


Dania bangkit, hanya berjalan dari belakang mengikuti Radit dan Papa Hamzah, yang membopong tubuh Mama Ningrum sampai masuk ke dalam mobil Radit.

__ADS_1


Pikirannya menjadi sangat kalut saat tatapan Papa Hamzah tidak ramah padanya.


"Apa ini salah ku?."


__ADS_2