
Barata memenuhi janjinya pada Dania, meski dia harus merogoh uang yang sangat banyak. Tapi, itu tidak ada apa-apanya bagi seorang Barata yang memiliki banyak pohon uang di mana-mana.
Barata diminta membayar Radit lebih tinggi yaitu hampir 1 M dibandingkan dengan Rania yang hanya diminta 500 jt supaya tidak masuk ke dalam penjara. Barata langsung membuat perjanjian dengan keduanya mengenai uang dan pekerjaan kotor mereka yang harus segera mereka tinggalkan.
Radit dan Rania bisa langsung di bawa pulang oleh Barata pagi itu juga. Keduanya berada di bawah pengawasan Barata langsung. Bahkan Barata yang mengantarkan mereka pulang ke tempat baru yang telah disediakan Barata. Guna memudahkan Barata dalam memantau setiap gerak gerik dari Radit dan Rania.
"Terima kasih sudah membantu ku untuk mengeluarkan mereka?." Ucap Barata pada orang dalam yang dikenalnya dengan baik.
"Iya, senang bisa membantu mu, Tuan Barata."
"Karena tidak ada yang aku lakukan lagi di sini. Aku pamit sekarang."
"Aku senang Tuan Barata bisa datang mengunjungi ku di sini."
"Iya, aku juga senang bisa datang kemari."
Setelah mengatakan itu Barata langsung keluar dan menemui Joanna. Meski Barata tidak menyukai Joanna tapi melihat wanita itu ada di sini dan tidak ada yang datang menjenguknya, Barata sedikit merasa kasihan pada Joanna. Namun tidak bisa memberikan jaminan apa pun untuk Joanna.
Waktu saat ini sudah menujukan pukul 4 sore. Dania baru saja mendapatkan kabar kalau Almeer harus ikut rapat jadi tidak bisa menjemput Dania ke tempat kerja. Bukan suatu masalah yang besar bagi Dania untuk pulang sendiri ke rumah Azka. Banyak kendaraan yang bisa digunakanya untuk bisa sampai di tempat tujuan.
"Kekasih tampan mu tidak terlihat sore ini?." Tanya Hernita saat mereka keluar dari toko.
Dania menggeleng. "Aku pulang sendiri."
"Mau aku antar?."
"Tidak, terima kasih."
Dania langsung pamitan pada Hernita setelah ada angkutan umum yang berhenti didepannya. Untungnya mobil itu berhenti di depan perumahan elit milik Azka. Jadi Dania hanya tinggal jalan kaki saja menuju rumah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.
Dania membuka sedikit kaca mobil sambil menajamkan penglihatannya kearah mobil mewah berwarna silver saat lampu merah. Apa mungkin aku salah lihat?. Batin Dania dengan tatapan yang tidak lepas dari dua orang yang ada di dalam mobil silver tersebut.
Hingga mobil silver itu melaju dengan kencang dan berbelok arah, namun Dania masih memikirkan kedua orang tersebut.
__ADS_1
Inara dan Barata cukup kaget dengan kepulangan Dania yang tanpa Almeer, bahkan penjaga gerbang melaporkan kalau Dania berjalan kaki.
"Kamu bisa menelepon ku atau Kakek Barata kalau Almeer tidak bisa mengantarkan mu kemari?." Inara membawa Dania duduk di meja makan.
"Inara benar, setidaknya ada supir yang akan menjemput mu." Timpal Barata.
"Maaf, tapi saya tidak ingin merepotkan siapa pun." Balas Dania. "Lagi pula masih ada angkutan umum dan jarak dari depan ke rumah ini tidak sampai 15 menit." Lanjut Dania menjelaskan.
"Bukan masalah dekat atau ada angkutan umumnya, Dania. Tapi, kami tidak mau terjadi sesuatu pada mu atau bayi mu." Ucap Inara memberikan pengertian.
"Aku setuju dengan menantu ku." Lagi-lagi Barata ikut menimpali.
"Maaf..." Ucap Dania singkat.
"Aku akan bicara juga pada Almeer, biar dia saja yang mengabari kita."
"Iya, Pa. Itu lebih baik." Inara setuju dengan apa yang disampaikan Barata.
Satu bulan sudah Dania tinggal di rumah Azka. Hanya satu kali di awal saja Almeer tidak mengantarkan Dania. Selebihnya Almeer selalu mengantar jemput Dania.
Sudah terhitung dua kali Dania mengunjungi Radit dan Rania diteman oleh Barata, mereka memiliki pekerjaan baru di tempat usaha catering milik kenalan Barata.
Selama satu bulan itu juga Azka benar-benar tidak ada menemui Dania. Bukannya justru itu lebih baik, supaya dirinya semakin cepat melupakan Azka. Namun sayang, saat-saat itu Dania sudah sangat berat kala harus menahan rindu yang menggunung untuk pria itu.
Entah bawaan calon bayi yang kini menginjak 4 Bulan 2 Minggu atau memang dirinya yang ingin sekali bertemu dengan si pemilik anak dalam rahimnya yang berjenis kelamin perempuan.
Maka pagi ini setelah Almeer mengatarnya ke toko bunga, Dania tidak langsung masuk ke dalam toko. Setelah memastikan mobil Almeer pergi dari sana, Dania menggunakan ojek online untuk mendatangi apartemen Azka. Entah ada atau tidak orang itu di sana, yang terpenting Dania datang ke apartemen.
Cukup dengan waktu 20 menit saja Dania sudah sampai di depan pintu unit apartemen Azka. Dania diam mematung menatap pintu kokoh yang tutup rapat. Dengan melihat itu saja Dania sudah sangat merasa senang.
"Lebih baik aku ke toko sekarang, aku sudah senang walau hanya melihat pintu apartemennya." Gumam Dania dan langsung berbalik badan.
"Dania..." Dengan suara lirih pemilik apartemen tersebut memanggil namanya.
__ADS_1
Sontak saja Dania kembali membalik tubuhnya dan melihatnya Azka yang lagi-lagi dengan wajah pucat dan pakaian sudah basah.
"Kak Azka!." Dania berlari menghambur ke dalam pelukan Akza yang tidak berdiri tegap. Azka sedikit oleng namun tidak sampai terjatuh.
Pelukan keduanya sangat erat, sama-sama menyampaikan rasa rindu yang sangat menggebu di dalam dada.
Perlahan keadaan Azka membaik apalagi kini berada dalam dekapan wanita yang mati-matian sedang dihindarinya. Tapi, wanita itu malah datang padanya membawa penawar penderitaannya yang belum selesai.
"Kak Azka masih mual muntah juga?. Apa kata Dokter Tantan?. Padahal ini sudah lewat dari tiga bulan, tapi kenapa Kak Azka masih mengalami morning sickness?." Cecar Dania setelah membantu Azka berganti pakaian.
"Aku juga tidak tahu, Dania." Balas Azka yang kemudian memeluk Dania dari belakang. "Tapi saat kamu berada di dekat ku semuanya menghilang Dania." Lanjut Azka sambil menghirup aroma wangi Dania yang begitu sangat dirindukannya.
Azka mengelus perut yang tadinya rata kini sudah sedikit menyembul dari balik kemeja yang Dania kenakan.
"Apa aku boleh melihatnya?." Sebelum Dania memberikan jawabannya, Azka sudah terlebih dahulu membuka dua kancing kemeja Dania dari bawah.
Lalu Azka memutar tubuh Dania menjadi berhadapan dengan dirinya. Azka mengecup kening Dania beberapa saat lalu kembali menatap pada perut Dania.
"Sudah tumbuh lebih besar calon bayi kita, Dania." Azka menekuk kedua kakinya berlutut di depan Dania.
"Iya Kak. Dia sangat sehat. Kemarin aku dan Ibu Inara melihatnya."
"Tidak bersama Almeer?."
"Tidak, karena Kak Azka yang melarang ku."
Azka tersenyum tipis lalu menempelkan wajahnya pada perut Dania.
"Hei baby girl...aku Daddy mu. Kamu mendengar suara merdu ku?."
Cup
Azka mengecup perut Dania yang menyembul.
__ADS_1