Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 9 Azka Narendra


__ADS_3

Minggu pagi ini merupakan pagi terakhir Dania dan kedua orang tuannya menempati rumah besar milik mereka. Setelah Rumah itu diberikan pada pihak bank untuk membayar semua hutang mereka.


Tidak banyak yang bisa mereka bawa dari rumah karena tempat mereka yang baru pun tidak menampung banyak. Hanya satu lemari kayu pakaian berukuran sedang dan beberapa meja berukuran kecil saja serta perabotan dapur.


Radit dan Rania tidak protes sedikit pun saat di minta untuk keluar dari rumah itu karena akan di ambil alih oleh pihak bank. Bahkan dalam waktu singkat mereka sudah memiliki tempat yang baru berupa kos-kosan, yang cukup elit untuk ukuran mahasiswa seperti mereka.


Bahkan Radit dan Rania tidak ada sedikit pun itikad baik untuk mengantarkan kepindahan Dania dan kedua orang tuanya menggunakan mobil yang dimiliki oleh mereka.


Tapi Dania dan kedua orang tuanya tidak ambil pusing dengan sikap masa bodoh Radit dan Rania.


Mobil bak yang mereka sewa sudah berhenti di depan sebuah rumah kecil yang mereka sewa dengan tarif 1.2jt perbulan. Papa Hamzah sudah membayarnya untuk dua bulan ke depan, itu pun dari hasil penjualan kalung Mama Ningrum.


Dengan bantuan supir mobil bak dan tukang, barang bawaan Dania sudah tertata rapi di dalam rumah kecil itu.


Setelah selesai dan membayar mobil serta jasa angkut barang. Mama Ningrum dan Dania bisa duduk santai di kursi yang diletakkan di depan tv.


"Semoga saja kita bisa memulai hidup baru di tempat ini."


"Tapi sepertinya di sini kini memiliki banyak tetangga, Ma. Jadi kita harus pandai dan sesekali berbaur bersama mereka."


"Papa setuju dengan Dania. Di sini terlihat banyak orang berlalu lalang di depan rumah kita."


Mama Ningrum mengangguk sambil mengawasi jalan yang ada di depan persis rumah mereka.


Senin pagi ini begitu cerah, Secerah senyum Dania yang sudah tiba di sekolah di saat ketiga sahabatnya belum ada yang datang.


Dania menunggu mereka di dalam kelas sambil memegang selebaran kertas sebuah lowongan pekerjaan yang akan coba dilamarnya. Mengingat kondisi keluarganya mereka yang sedang membutuhkan uang. Dirinya tidak boleh membuang kesempatan yang ada di depan mata.


Ketiga sahabatnya datang di waktu yang bersamaan dengan bunyi bel masuk kelas. Ketiganya sedang tertawa lepas, Dania pun merasakan kebahagiaan untuk mereka.


"Aku sudah mendapatkan uang untuk menyelamatkan rumah mu." Bisik Medina dibarengi sebuah pelukan dari Salma dan Fathia karena guru mereka belum datang.

__ADS_1


Dania menatap tidak percaya pengakuan Medina, tapi itu lah Medina si yang paling peduli terhadap kesusahan sahabat-sahabatnya.


Dania mengatakan maaf karena tidak memberitahu mereka atas keputusan kedua orang tuanya, baru lah sekarang Dania menceritakannya dengan detail termasuk dirinya yang akan mencoba bekerja.


Pada awalnya mereka tidak percaya kalau keluarga Dania bisa melepas rumah yang pastinya penuh kenangan. Tapi ketiganya harus percaya karena Dania sudah pindah di tempat yang baru.


"Ok, tidak masalah jika itu keputusan dari kedua orang tua mu. Aku percaya kamu dan keluarga mu bisa melewati masa-masa sulit ini. Dan semoga saja kedepannya tidak ada lagi kejadian buruk seperti kemarin." Ucap Medina sangat menghormati kedua orang tua Dania.


Sebenarnya bukan hanya pada kedua orang tua Dania saja, melainkan pada Mama Salma, Kedua orang Fathia juga karena dirinya sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.


"Terima kasih, Medina. Tapi, ngomong-ngomong dari mana kalian mendapatkan uang sebanyak itu?." Tanya Dania penasaran.


Dania menatap ketiga sahabatnya silih berganti, menunggu siapa yang akan berbicara. Tapi tanpa diduganya, Fathia dan Salma menyebut satu orang nama dan menunjuknya. "Medina."


"Hah, Medina?. Dari mana uang sebanyak itu?. Kamu pinter banget bisa dapat pinjaman."


Medina tersenyum kikuk saat Dania menyebut pinjaman namun Medina malah meneruskannya.


"Maaf, jadi membuat mu sedih." Kini Dania yang memeluk Medina yang diikuti oleh dua sahabat yang lannya.


.....


Pulang sekolah, hanya Medina yang bisa menemani Dania untuk melamar pekerjaan di sebuah cafe yang baru di buka. Salma dan Fathia memiliki kesibukan masing-masing. Tapi itu tidak jadi masalah bagi Dania, karena mereka tidak selalu harus bersama-sama.


Sebelum keluar sekolah Medina meminjamkan pakaian ganti yang selalu dibawanya. Sementara Medina menutupinya atasannya dengan kardigan.


Posisi cafe tersebut tidak jauh dari rumah dan sekolah Dania. Ya, bisa di bilang berada di tengah-tengah.


"Ini cafe pasti bakalan banyak pengunjungnya, Dania. Secara tempatnya strategis banget." Ucap Medina saat turun dari taksi online. Medina yang memaksa Dania untuk menerima ajakannya menaiki taksi online tersebut.


"Iya, mudah-mudah aku bisa di terima bekerja di sini."

__ADS_1


"Aku yakin, Dania. Orang cantik, baik, rajin, dan tekun seperti kamu yang mereka butuhkan." Puji Medina sambil melihat ke dalam cafe, masih banyak orang yang mengantre untuk di interview.


Dania memberikan lamaran pekerjaan yang tadi dibuatnya di sekolah pada bagian pendaftaran. Setelahnya Dania di suruh menunggu giliran untuk di panggil interview.


Dania sudah mengabari kedua orang tuanya akan pulang terlambat namun belum mau menceritakannya tentang lamaran pekerjaan yang mendadak ini. Takutnya mereka akan bersedih dan tersinggung dengan yang dirinya lakukan.


Medina bersikeras ingin tetap menunggu Dania sampai selesai, padahal mereka sudah menunggu hampir 5 jam. Dania merasa kasihan dan tidak enak hati pada sahabatnya itu. Harus ikut susah karena menunggu dirinya di sana.


"Aku ingin jadi orang pertama yang tahu kamu di terima." Ucap Medina dengan begitu yakin.


"Aku tidak yakin, Medina. Ini saja sudah hampir jam 20.00, aku belum di panggil dan peserta hanya tinggal beberapa orang saja." Dania menarik nafasnya panjang. Dania merasa pesimis jika dihadapkan pada dunia kerja seperti ini.


Selesai Dania mengatakan itu, namanya di panggil oleh bagian pendaftaran yang baru keluar dari ruang interview.


"Dania!."


Dania segera menghampiri. "Iya saya."


"Besok jam 4 sore kamu datang ke sini lagi untuk pembagian seragam dan tugas."


"Maksudnya apa ya, Mbak?. Maaf saya enggak mau salah mengerti." Dania tidak percaya sepenuhnya dengan pendengarannya.


"Kamu sudah di terima kerja di cafe ini tanpa tes interview. Untuk tanda tangan kontrak, pengambilan seragam dan pembagian tugas kerjanya, besok jam 4 sore kamu datang ke sini lagi." Bagian pendaftaran mengulang kembali apa yang sudah dikatakannya pada Dania.


"Terima kasih, Mbak."


"Sama-sama."


Dania dan Medina saling berpelukan sambil tertawa bahagia dengan di terimanya Dania bekerja di cafe tersebut.


"Aku juga bilang apa, siapa yang tidak butuh karyawan seperti mu." Ucap Medina kembali memeluk Dania setelah beberapa waktu terlepas.

__ADS_1


Sepasang mata tajam memindai setiap gerak-gerik Dania di bawah sana, dari lantai dua gedung cafe tersebut.


__ADS_2