
Eva tersenyum menggoda kala melihat Rusli baru keluar dari apartemen miliknya bersama Medina.
"Aku tahu pasti kau ada di sini, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sebentar saja. Aku jamin kau tidak akan menyesal tidur bersama ku." Jari lentik Eva mulai mengelus dada bidang Rusli yang terekspos karena kancing kemejanya dibiarkannya terbuka.
"Kau salah orang Eva, memang aku telah menghancurkan pernikahanku bersama Inara. Tapi bukan berarti aku akan jatuh pada wanita seperti kau." Rusli mencengkram lengan Eva hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Apa bedanya aku dengan jal@ng itu, hah?." Tanya Eva sembari meremas kuat kemeja bagian depan Rusli.
Rusli tertawa sinis lalu melepaskan tangan Eva dari kemejanya. "Oh, sangat jelas berbeda sekali. Bersama Medina aku merasakan segalanya."
"Cih, wanita itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang aku miliki." Eva memamerkan bentuk tubuh yang memang sangat seksi. Tapi bukan itu yang diinginkan oleh Rusli.
Rusli menggelengkan kepalanya lalu berlalu pergi dari sana, meninggalkan Eva yang marah-marah karena tidak dtanggapi oleh Rusli.
Rusli membawa mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Pikirannya saat ini tertuju pada Medina yang mulai menunjukkan perubahannya.
"Aku benar-benar sangat mencintai mu, Medina. Bukan karena apa pun, tapi karena hati ku sudah memilih mu." Gumam Rusli sambil menatap layar ponselnya dipenuhi wajah Medina.
Bukannya Rusli tidak pernah mencintai Inara, pernah dirinya mencintai Inara. Tapi Rusli harus kecewa karena dirinya sangat tahu kalau di dalam hati Inara masih menyimpan cinta untuk pria di masa lalunya. Dan Rusli tidak menginginkan hal itu, makanya dia mencari wanita lain yang bisa mencintainya dengan setulus hati dan dia dapatkan itu dari gadis yang bernama Medina.
Sampai di rumah yang ditujunya, untuk pertama kalinya Rusli melihat senyum manis Inara yang menghiasi wajah cantiknya. Senyum yang sama yang diperlihatkan Inara saat bersama pria dari masa lalunya.
Selama mereka berumah tangga, Rusli hampir tidak pernah melihat Inara tersenyum seperti itu pada dirinya. Meski pun saat mereka bercinta di awal-awal pernikahan mereka.
"Kenapa berdiri di situ?." Tanya Inara yang mendapati Rusli masih berdiri di ruang tamu.
Rusli mengangguk sambil menatap wajah Barata, Radit, Rania, Almeer dan Dokter Tantan serta Azka.
Almeer tidak bisa diam begitu saja meski sudah mendapatkannya ancaman dari Papanya. Dengan perjanjian kalau Dania sudah ditemukan dan kembali pada Azka, Almeer akan segera bertunangan dengan Salma.
__ADS_1
"Aku meminta Tantan supaya menikahi Inara setelah kalian resmi berpisah, mereka malah tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan." Tutur Barata memberitahu putranya.
"Aku tertawa karena aku sangat tahu kalau Inara tidak akan pernah bisa pindah kelain hati selain pada..."
"Iya, dari dulu Inara memang sangat mencintai Arjuna, cinta pertamanya." Potong Rusli sambil mengisi piringnya dengan banyak makanan. Dirinya memang sangat kelaparan setelah gagal bermalam bersama Medina.
"Arjun...Dokter Arjuna Prawira?." Ucap Inara dan Dokter Tantan bersamaan.
Dokter Tantan tertawa sangat kencang sehingga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di meja makan.
"Kalau benar Inara masih sangat mencintai Dokter Arjuna Prawira, tidak mungkin Inara meninggalkannya saat Inara mengandung Azka. Itu yang tidak pernah kau ketahui Rusli."
Rusli menghentikan gerakannya sambil menatap Inara dengan perasaan yang entah seperti apa, dirinya pun tidak bisa mengartikannya.Sementara yang ditatap Rusli sedang mengunyah makanannya.
"Selesai sarapan, aku tunggu di ruang kerja!." Ucap Rusli meninggalkan piringnya yang masih penuh dengan makanan yang baru diambilnya.
Pikirannya semakin kacau ketika dia baru mengetahui hal penting tentang Inara yang baru terungkap.
"Tidak baik meninggalkan makanan sebanyak itu di meja makan. Makan lah di sini sambil kita bicara." Inara meletakkan nampannya di depan Rusli.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada ku?." Tanya Rusli sambil menahan tangan Inara.
"Kejadian itu sudah lama, jadi lupakan saja." Inara menurunkan tangannya dan duduk di depan Rusli.
"Ayo di makan!." Ucap Inara lagi sambil menatap makanannya.
"Aku tidak sejahat yang kau pikirkan, Inara. Aku pernah mencintai mu. Tapi aku tahu kau masih sangat mencintai Arjuna dan aku tidak bisa menerima itu."
Inara mengangguk. " Apa pun yang terjadi di masa lalu tidak akan merubah apa pun hubungan kita di masa sekarang. Surat-suratnya mungkin satu atau dua Minggu lagi selesai dan kita akan resmi berpisah. Kau bebas dan segera nikahilah Medina. Dia gadis yang cantik dan baik, Dania juga bilang pada ku kalau dia sahabat yang baik." Lanjut Inara sambil menatap wajah Rusli.
__ADS_1
"Aku menginginkan bayi kita pada waktu itu, tapi aku terlalu sakit hati karena di hati mu yang aku tahu hanya ada Arjuna."
"Aku senang mendengarnya, ternyata kau juga menginginkan Azka lahir. Itu sudah lebih dari pada cukup bagi ku."
Rusli bangkit dan menghampiri Inara lalu berlutut di hadapan Inara.
"Aku mencintai mu, Inara. Tapi, aku juga sudah merusak Medina. Aku yang membawanya dalam hubungan rumah tangga kita. Tolong ampuni aku."
Inara memegangi kedua pundak Rusli dengan senyum yang sama yang dilihatnya tadi pagi. Sungguh hangat dan penuh cinta.
"Bahagialah dengan Medina, cintai wanita itu dengan segenap jiwa raga mu. Jangan mencintai orang yang pergi meninggalkan mu. Masa lalu sudah memberi kita banyak pelajaran."
Inara dan Rusli saling memeluk hangat setelah sekian lama. Hubungan mereka menghangat di kala pernikahan mereka sudah berada di ujung jurang perpisahan.
Rusli melerai pelukan mereka, tangannya terulur mengelus wajah Inara yang masih sangat terasa sangat lembut.
Entah siapa yang memulainya, bibir mereka sudah menempel. Rusli dapat merasakan kenyalnya bibir Inara sehingga Rusli menggerakkan bibirnya di atas bibir Inara yang masih diam.
"Kita pernah berciuman lebih dari pada ini." Ucap Rusli di sela-sela bibirnya yang masih sesekali menempel pada bibir Inara yang sedikit terbuka.
Inara hanya mengangguk.
Cup
Keduanya berciuman dengan penuh perasaan dan penghayatan, sama seperti awal mereka berciuman dan melakukan hubungan suami istri.
Baik Rusli atau pun Inara saling memberikan respon terhadap ciumannya lawannya.
Sementara di meja makan, Radit dan Azka segera meluncur ke kosan Medina saat Medina mengabari kalau Adnan sedang bersama kedua temannya yang membawa Dania.
__ADS_1
"Jangan sampai kita gagal lagi!." Ucap Azka yang duduk si samping Radit. Karena Radit yang membawa mobilnya.
"Iya, aku janji pada mu akan membawa Dania pulang hari ini juga!." Radit sangat yakin bisa membawa Dania pulang bersamanya.