
"Aku tidak sehina itu, Azka!. Sehingga memakai cara kotor untuk mendapatkan hati wanita yang aku inginkan. Kalau pun Dania tidak mau dengan ku, aku tetap akan membela dan melindunginya." Tegas Almeer.
Dania menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Almeer dan Azka sejak tadi. Dania tahu, kenapa Almeer melakukan ini?. Karena Almeer menaruh hati padanya, wanita yang sudah kotor dan sangat hina.
Adnan dan Almeer adalah dua pria yang memiliki perasaan padanya. Almeer mau menerima dirinya yang sudah berbadan dua dan Adnan tetap baik dan perhatian walaupun dirinya masih belum memberi kepastian.
Tapi, dengan bodohnya saat ini hati Dania masih ditempati oleh Azka Narendra yang merupakan cinta pertama dalam hidupnya.
"Tidak akan pernah aku biarkan kau, atau pun pria lain di luar sana menggantikan posisi ku!. Dia, adalah milik ku dan selamanya akan tetap menjadi milik ku!."
"Kau memang serakah dan egois, Azka!. Aku baru mengenal sisi kau yang seperti ini selama kita bersahabat."
"Iya, ini lah aku yang sebenarnya, Almeer!." Azka meraih gelas di atas nakas lalu dilemparkannya kearah Almeer. Tapi, untung saja Dania menarik tangan Almeer dengan cepat hingga gelas itu membentur dinding hingga pecah berkeping.
Joanna yang semalam tidak pulang pun, baru sampai di rumah dan langsung menuju kamar Azka. Dari anak tangga Joanna dapat mendengar ada keributan di dalam sana, Joanna semakin memperlebar langkahnya guna mengetahui apa yang terjadi di kamar calon suaminya.
Ceklek
Joanna membuka pintu kamar dan pandangannya langsung tertuju pada Almeer dan Dania. Yang sejurus kemudian matanya bersitatap dengan mata Azka yang dipenuhi oleh amarah. Tapi tentunya dirinya tidak tahu untuk siapa amarah itu ditujukan.
Azka memperhatikan Joanna yang berjalan mendekat kearahnya dengan seksama. Azka masih ingat dengan pakaian Joanna yang dilihatnya dari video tersebut. Berarti Almeer tidak sedang membohonginya, itu benar adalah Joanna yang sangat dicintai dan dipercayainya.
"Aku dan Dania harus pulang, kau jangan pernah berharap lagi pada Dania untuk datang dan membantu kau di sini atau di kantor. Kemarin itu yang pertama dan terakhir kalinya Dania memberikan bantuannya." Almeer membawa Dania pergi dari kamar Azka.
Almeer tidak ingin Dania semakin terseret dalam masalah Joanna dan Azka. Almeer akan selalu melindungi Dania meski harus berhadapan dengan Azka.
__ADS_1
"Sekarang kamu tenang saja, Dania. Azka tidak akan berani mendekati mu lagi. Kalau misalkan masih berani, berarti Azka harus berurusan dengan ku." Ucap Almeer saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Untuk saat ini Dania bisa bernafas lega, sebab permasalahannya mulai bisa diurai. Ya, walau pun ada campur tangan orang lain didalamnya. Dania harus bisa melupakan dan membuang Azka dari hidupnya. Meski ada darah daging Azka yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Terima kasih, Kak Almeer. Aku ternyata tidak salah bercerita dan memberitahukan semuanya pada Kak Almeer. Sekarang aku bisa terlepas dari Kak Azka. Terima kasih." Dania tersenyum bahagia untuk kebebasannya dari Azka.
"Tidak perlu sungkan Dania, kalau ada apa-apa cerita saja pada ku. Siapa tahu aku bisa membantu dan menyelesaikan masalah mu." Almeer sangat senang, dirinya bisa sedekat seperti sekarang dengan Dania.
Mungkin sekarang Adnan bukan lagi saingan yang berat untuk dirinya, setidaknya Almeer sudah memiliki satu poin plus di mata Dania. Dan semoga kedepannya Dania bisa membuka diri dan menerimanya dengan baik.
Sekarang di dalam kamar Azka, pria itu diam seribu bahasa terhadap Joanna. Hanya tatapan matanya yang sangat tajam tertuju pada Joanna.
Dengan tanpa rasa bersalah atau merasa curiga atas apa yang yang telah terjadi, Joanna mendekat kearah Azka dan duduk di samping pria itu.
"Ada apa, sayang?. Kamu bertengkar sangat hebat dengan Almeer, apa karena pelayan itu membuat ulah?." Joanna mengelus lengan Azka yang berotot. Tapi, sayangnya Joanna belum pernah merasakan betapa gagahnya Azka saat di tempat tidur. Sebab Azka yang masih menolaknya sampai detik ini.
Wanita yang penuh kasih, cinta, tulus dalam menyayanginya kini seolah tidak di kenali Azka setelah pengkhianatan yang dilakukannya.
Hingga tanpa terasa air matanya menetes dan melewati pipinya. Demi wanita seperti Joanna dia sampai harus menangis.
"Sayang, kamu kenapa?. Ada apa?. Cerita sama aku, sayang. Ada masalah apa yang aku tidak tahu yang membuat mu sampai menangis?." Dengan penuh kelembutan Joanna menanyai Azka yang mengusap air matanya sendiri dengan kasar.
Bila melihat Joanna yang saat ini ada dihadapannya, dengan segala kelembutan, penuh kasih dan perhatiannya, rasanya sangat tidak mungkin jika wanita ini menyakiti hatinya dengan berkhianat.
"Apa kamu masih mencinta ku, Jo?." Tanya Azka setelah beberapa waktu terdiam.
__ADS_1
Sambil tersenyum lalu mengecup pipi Azka Joanna menjawabnya. "Tentu saja, sayang. Aku sangat mencintai mu dan sampai mati pun tetap mencintai mu, sayang. Hanya kamu satu-satunya, sayang."
Azka mengangguk lalu manatap Joanna dengan sangat lekat, dirinya ingin lebih memastikannya lagi. Tidak cukup hanya dengan video yang dilihatnya dari ponsel Almeer.
"Apa dengan menyerahkan tubuh mu pada orang lain masih bisa kamu bilang cinta pada ku?."
Jantung Joanna sudah sangat berdebar mendengar pertanyaan Azka. Walau dirinya tahu kemana arah pembicaraan Azka, namun Joanna lebih memilih berpura-pura.
"Sayang, ada apa?." Joanna menangkup wajah Azka lalu memeluknya.
"Apa benar malam itu kamu dilecehkan atau memang kalian tidur bersama?."
"Hiks...Hiks....Hiks... Sayang, kamu kenapa membahas malam itu lagi?. Dengan susah payah aku melupakan malam laknat itu. Tapi, sekarang kamu malah mengingatkan aku lagi." Joanna menangis didalam pelukan Azka.
Kemudian Azka terdiam, memberikan waktu pada Joanna untuk menyelesaikan tangisannya. Setelah reda dan terlihat Joanna mulai tenang, Azka kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Joanna semakin menangis histeris sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dirinya menangis kencang untuk menutupi apa yang selama ini disimpannya dengan rapi, tidak mungkin Azka akan mengetahuinya jika tidak ada pihak lain yang campur tangan.
"Baik, kalau memang itu benar itu pelecehan. Kita akan bawa Radit pada pihak yang berwajib dan kamu sendiri yang harus menjebloskannya ke penjara. Aku tidak ingin pria itu berkeliaran bebas di luar sana." Pinta Azka dengan sangat tegas.
Tentu saja itu permintaan yang sangat berat yang harus ikuti oleh Joanna karena perjanjian dirinya dan Radit tidak seperti itu.
"Apa tidak ada cara lain, Sayang?."
"Bukti kan pada ku, Joanna!. Kalau Radit memang melecehkan mu!."
__ADS_1
"Baik, aku akan membawa Radit ke jalur hukum." Daripada hubunganna bersama Azka hancur, lebih baik dirinya menghancurkan Radit yang hanya dijadikannya pemuas kenikmatannya.