Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 34 Azka Narendra


__ADS_3

Pertunjukan telah usai satu jam yang lalu. Tapi topik hangat di kampus sepertinya tidak akan pernah selesai. Setelah hampir dari setengahnya penghuni kampus mendengar, menyaksikan langsung apa yang terjadi pada Radit, Azka dan Joanna serta satu nama yang Joanna dan Radit ributkan adalah Dania yang menjadi korban dari Azka Narendra.


Banyak dari mereka yang menyangsikan jika Azka bisa menghamili wanita lain di luar sana, pasti Azka telah di jebak oleh wanita yang bernama Dania itu. Kalau pun Azka mau, Azka bisa melakukan itu pada Joanna, kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang percaya jika Azka sanggup membuat hamil anak gadis di luar sana. Mengingat ketampanan dan kekayaan yang dimiliki seorang Azka. Pasti akan banyak gadis di luar sana yang rela melemparkan tubuh indah mereka pada Azka.


Azka sudah dibawa ke rumah sakit oleh beberapa pegawai kampus yang sudah lama bekerja di sana. sementara Radit dan Joanna sudah tidak ada di kampus sebelum Azka dilarikan ke rumah sakit, mereka langsung pergi bersama entah kemana.


.....


Barata menatap cucu kesayangannya yang baru membuka mata. Terdapat beberapa luka lebam dan memar di wajah serta tubuh Azka.


"Rusli dan Inara sedang dalam perjalanan ke sini dari bandara. Bukan mereka saja, ada Eva dan Darwin juga. Mungkin mereka akan membicarakan pernikahan kalian yang kau batalkan."


Azka bangkit lalu duduk berhadapan dengan Barata.


"Kesalahan mereka telah menjerumuskan ku pada perbuatan yang lebih keji pada Dania. Jika Joanna dan Radit melakukannya karena mereka sama-sama mau, tapi aku sudah memaksa Dania. Mengambil kesuciannya tanpa seizinnya, meski Dania mencintai ku. Tapi, Dania sangat menolak keras saat aku akan menyentuhnya." Ucap Azka penuh sesal dan sesak.


Azka sangat menyadari hal buruk apa saja yang sudah mananti Dania di depan mata setelah berita kehamilan Dania tersebar ke seluruh penjuru sekolah dan kampus.


Dania di sini yang paling dirugikan banyak karena pelampiasan dirinya yang telah salah. Mau menyesal pun bukan jalan yang tepat ketika kehamilan Dania sudah diketahui oleh pihak sekolah dan kampus.


Barata menghela nafas berat, memang tidak mudah masalah ini, sekali pun bisa saja dirinya menggunakan uang dan kekuasaannya untuk menutupi kasus besar ini. Tapi, dirinya tidak akan melakukan itu. Azka harus mempertanggungjawabkan semua dengan cara Azka sendiri tanpa bantuan uang dan kekuasaan yang dimiliki keluarga besar mereka.


"Dari mana aku harus memperbaiki semuanya?." Azka benar-benar tidak tahu dari mana untuk memulainya. Jika bisa selesai dengan sebuah harga, maka lebih baik Azka membayarnya atau kalau perlu melebihkannya dari harga yang harus dibayarkan.

__ADS_1


"Dania lalu keluarganya." Barata menjeda ucapannya sembari melayangkan tatapan tajam pada cucunya itu.


"Jangan sampai kau terlambat mendapatkan maaf atau ampunan dari mereka." Lanjut Barata lagi.


Kini Azka yang menarik nafas berat. Sungguh tidak mudah perjuangannya. Tapi itu harus dilakukannya demi ampunan dari keluarga Dania.


Dania yang sedang mengantarkan pesanan minuman untuk beberapa meja dihentikan oleh Shaka. Pria itu menyerahkan pekerjaan itu pada karyawan yang lain. Kemudian Dania dibawanya naik ke lantai 2. Di sana sudah ada Almeer dengan wajah serius sehingga terlihat sangat tegang.


Dania duduk diantara Almeer dan Shaka. Kedua pria itu mengapitnya dari sisi kanan dan kiri.


"Ada apa Kak Shaka, Kak Almeer?." Dania menatap wajah mereka silih berganti. Kedua pria tampan itu seperti ingin berbicara serius padanya.


Hening untuk sejenak, hanya terdengar suara tarikan nafas dari Shaka dan Almeer. Seolah mereka mencari kekuatan sebelum berbicara pada Dania sehingga pada detik berikutnya Almeer yang buka suara.


"Pihak sekolah dan pihak kampus sudah tahu tentang kehamilan mu. Mereka memanggil mu dan kedua orang tua mu. Mama dan Papa mu sudah berada di sekolah. Dan..."


Dania sudah memiliki gambarannya sendiri, yang semoga saja tidak lebih dari apa yang dipikirkannya.


Shaka dan Almeer hanya saling tatap tanpa bisa memeluk gadis yang sedang menangis itu. Mereka hanya duduk dengan setia di samping Dania tanpa mengatakan apa pun lagi. Karena pastinya Dania sudah memikirkan ini semua.


"Kami akan mengantar mu. Mereka semua sudah menunggu di sekolah." Almeer menggenggam tangan Dania dengan sangat erat.


Pria itu menunjukkan kalau dirinya akan selalu ada untuk Dania dan calon bayinya. Menenangkan hati dan jiwa yang membutuhkan sandaran dan pegangan yang kuat sehingga tubuh kecil Dania akan tetap berada ditempatnya. Tidak terbawa badai gelombang yang akan menghantamnya dengan sangat kencangnya.


Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah, sudah ada Mama Ningrum dan Papa Hamzah.

__ADS_1


Kedua orang tua Dania sudah sangat tegang dan memikirkan banyak hal. Ketika mereka dijemput ke rumah dan diminta ikut bersama dari mereka perwalian sekolah. Pasti ini ada hubungannya dengan Dania.


Tapi, apa?. Itu masih menjadi tanda tanya besar dalam benak mereka.


Tidak berselang lama Dania sudah berada di tengah-tengah mereka dengan pakaian bebas. Sebab ini sudah bukan waktunya sekolah.


Mama Ningrum dan Papa Hamzah menatap putrinya yang duduk berseberangan dengan mereka. Tatapan penuh tanya tapi tidak dapat di jawab oleh Dania karena sebentar lagi pun mereka akan tahu.


"Baik lah Dania sudah datang, Ibu dan Bapak sudah ada di sini sejak tadi. Saya selaku kepada sekolah di sini, tanggung jawab ini diberikan pada saya. Maka saya yang harus menyampaikan ini semua pada Dania dan Bapak Ibu." Kepala sekolah sudah memulai pembicaraan itu.


"Mohon maaf, Pak kepala sekolah. Kalau boleh tahu ada apa dengan putri kami sehingga kami harus datang ke sekolah dengan sangat mendadak. Bahkan kami sampai harus dijemput dari rumah." Papa Hamzah pemberanikan diri bertanya pada Pak kepala sekolah. Sepertinya ada hal besar yang ingin disampaikannya.


Pak kepala sekolah menatap kearah Dania yang sudah menunduk sejak tadi, Dania sudah tidak memiliki wajah lagi di depan siapa pun.


"Dania, angkat kepala mu!. Perlihatkanlah wajah mu pada kedua orang tua mu." Perintah Pak kepala sekolah.


Perlahan wajah sendu itu dapat dilihat oleh Mama Ningrum dan Papa Hamzah serta Pak kepala sekolah.


"Jadi begini Bapak, Ibu. Dania..."


"Mohon maaf Pak kepala sekolah, apa boleh saya yang memberitahukan pada mereka tentang apa yang ingin Bapak sampaikan pada Mama dan Papa saya?." Potong Dania sambil mengajukan pertanyaan dengan wajah memelas.


Pak kepala sekolah tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk memberikan izin pada Dania.


"Ada apa Dania?." Tanya Mama Ningrum sudah tidak sabaran.

__ADS_1


"Mama...Papa...aku dikeluarkan dari sekolah mulai hari ini, semua beasiswa ku ditarik lagi." Ucap Dania dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi kenapa?." Tanya Mama Ningrum sambil memegang dadanya, sedangkan Papa Hamzah menatap kecewa dan sedih sekaligus pada Dania.


__ADS_2