
Malam ini Zayyid baru samapi di tempat baru mereka setelah mengejak Dania untuk menemui Dokter Tantan, guna memeriksa kandungan Dania yang menurut hitungan mereka sudah memasuki usia 8 bulan dan ternyata sangat tepat sekali.
Di mana kandungan Dania semakin terlihat membesar setelah kurang lebih dua bulan mereka tinggal di tempat baru tersebut. Tubuh Dania terlihat semakin berisi dan sangat cantik dengan berat badan yang sekarang.
Bayinya pun sangat sehat dan tidak kekurangan suatu apa pun. Selalu ada hal luar biasa di saat Dania terpuruk dengan keadaannya.
Setelah makan malam, keduanya duduk santai di depan rumah di bawah lampu yang terang benderang. Dania begitu asyik menatap hasil USG bayinya yang tadi pagi.
"Apa yang sudah kamu persiapkan untuk bayi mu nanti?. Apa ayahnya tahu kapan perkiraan bayinya akan lahir?."
Dania menggeleng untuk kedua jawaban tersebut.
"Bagaimana kalau aku yang membelikan semua perlengkapan bayi kalian?." Zayyid mengusulkan pada Dania sambil membuka laptopnya.
"Iya." Jawab Dania singkat.
"Besok pagi mereka akan datang ke sini menemui dan melihat keadaan mu. Jadi kamu harus istirahat lebih cepat malam ini, supaya besok pagi terlihat lebih segar dan sehat menyambut mereka semua."
Setelah mereka melakukan pembicara yang serius dan mendalam, akhirnya Dania mencoba untuk menemui keluarga terdekatnya terlebih dahulu. Berharap dirinya akan mudah beradaptasi dengan mereka semua.
"Mereka semua, siapa saja?. Apa aku boleh tahu?."
"Tentu saja kamu boleh tahu, karena mereka semua tamu sekaligus keluarga mu."
Dania mengangguk.
"Ada Inara, Barata, Rusli, ketiga sahabat mu, kedua kakak mu, Chaca dan Shaka serta Almeer." Zayyid mengabsen semua yang akan hadir.
Dania diam menatap Zayyid dengan begitu lekat dan gurat wajah kekecewaan.
"Hanya mereka yang datang?. Tidak ada lagi yang lainnya?."
"Oh iya aku lupa. Ada lagi yang lain yang akan memeriksa kesehatan mu, Dokter Tantan dan Dokter Levi."
Dania mengangguk lemah lalu menyandarkan tubuhnya pada badan kursi.
__ADS_1
"Apa ada yang kamu tunggu kedatangannya, Dania?. Siapa yang kamu sedang harapkan?." Zayyid menutup laptopnya lalu menatap Dania.
"Tidak ada, mungkin hanya perasaan ku saja dia akan datang menemui ku dan menguatkan aku. Tapi, sepertinya dia sudah sangat jijik dengan keadaan ku yang sekarang yang sudah disentuh pria lain dihadapannya." Ucap Dania lirih.
"Menurut mu seperti itu?." Zayyid mengepalkan kedua tangannya tanpa sepengetahuan Dania.
"Mungkin dia juga sudah melupakan kami, jadi tidak salah kalau aku juga ingin melupakannya namun belum bisa."
"Bagaimana kalau dia tidak pernah melupakan mu dan bayi kalian?. Bagaimana kalau dia ternyata lebih menderita karena tidak bisa melakukan apa pun untuk mu dan bayinya?."
Dania menggeleng lemah. "Dia tidak pernah benar-benar mencintai ku."
Dania bangkit dan meninggalkan Zayyid di sana seorang diri.
Dirinya tidak ingin terlalu sakit lagi dengan pria yang bernama Azka Narendra.
Zayyid hanya diam ditempatnya tanpa bisa melakukan apa pun.
Keesokan paginya
Padahal dari mereka belum ada yang menyapanya, mereka hanya tersenyum dan mencoba untuk membuat Dania nyaman dengan kehadiran mereka. Tapi sepertinya Dania malah melihatnya lain. Termasuk pada Radit, Dokter Tantan dan Dokter Levi yang sudah biasa berhadapan dengan Dania.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa masuk ke dalam kamar." Zayyid melihat Dania yang sudah berkeringat.
Dania mengangguk lalu mengikuti Zayyid yang menuntunnya masuk ke dalam kamar.
"Maaf kan aku Kak Zayyid, aku belum bisa menemui mereka. Aku merasa mereka..."
"Ssstttt... " Zayyid menempelkan telunjuknya pada bibir Dania, tatapan keduanya saling mengunci dan hampir saja Zayyid tidak bisa menahan dirinya.
Zayyid berdehem untuk mengusir kecanggungan yang terjadi diantara mereka lalu meminta Dania untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Aku akan bicara pada mereka, pasti mereka akan mengerti. Dan mungkin besok lagi mereka coba datang ke sini. Bagaimana?."
Dengan cepat Dania mengangguk.
__ADS_1
Zayyid keluar dari kamar dan menemui semua orang yang ada di ruang depan dan ternyata sangat mengkhawatirkan Dania.
"Bagaimana keadaan Dania?." Inara langsung memegangi tangan Zayyid.
"Dania tidak apa-apa. Hanya saja Dania masih merasa belum terbiasa lagi." Jawab Zayyid.
"Boleh aku menemuinya sendiri saja?. Kalau dia menolak, aku langsung keluar. Bagaimana?." Tanya Inara sambil memohon pada Zayyid.
"Temui lah, mungkin Dania mau kalau hanya sendiri yang menemuinya."
Inara mengangguk kemudian mengikuti Zayyid dari belakang hingga mereka berhenti di depan kamar yang ditempati Dania.
"Pintunya tidak dikunci." Ucap Zayyid sambil membuka pintunya sedikit.
"Terima kasih."
Zayyid membiarkan Inara masuk dan dirinya masih menunggu di depan kamar. Karena ingin tahu reaksi Dania akan seperti apa pada Inara.
"Dania..." Panggil Inara dengan suara yang begitu lembut terdengar pada telinga Dania.
"Ibu Inara..." Dania bangkit dan segera duduk di pinggir tempat tidur. Dania segera berhambur ke dalam pelukan Inara ketika kedua tangan Inara terbuka kearahnya.
"Kamu gadis yang kuat, Dania. Semua ini pasti bisa kamu lewati dan hadapi." Ucap Inara dengan suara yang lemah lembut. Tangannya mengusap punggung Dania dengan penuh kasih sayang.
Dania semakin terisak di dalam pelukan Inara yang sangat hangat, dirinya seolah mendapatkan kasih sayang pengganti Mamanya yang sudah tidak ada.
"Ada kami yang akan selalu menemani mu baik dekat atau pun tidak. Doa kami selalu menyertai mu, Dania. Kami semua sangat menyayangi mu, kami sedang melakukan yang terbaik untuk mu." Lanjut Inara semakin mengeratkan pelukannya tanpa menyakiti calon bayi Dania yang ada di dalam perut.
Untuk beberapa saat Inara membiarkan Dania menumpahkan kesedihan di dalam pelukannya, Inara pun sangat senang karena bisa memeluk Dania lagi.
"Cucu ku sudah bertambah besar." Inara beralih pada perut buncit Dania setelah melerai pelukannya.
"Hai jagoan...aku nenek mu, kakek dan buyut mu ada di luar sana serta yang lainnya. Sebentar lagi kita akan bertemu jagoan, baik-baik ya di dalam sana." Inara mengajak bicara calon cucunya sambil mengusap perut Dania.
Dania menahan tangan Inara lalu menggenggamnya. "Apa Kak Azka tidak mau menemui kami?. Apa kami sangat menjijikkan bagi Kak Azka sampai-sampai..."
__ADS_1
"Azka sangat ingin memeluk mu, mengajak bicara bayi kalian. Tapi anak itu tidak tahu cara melakukannya, sehingga dia masih butuh waktu untuk berbicara pada mu dan bayi kalian." Potong Inara. Karena tidak ingin Dania salah paham pada putranya yang berjuang melawan segala rasa yang datang menghampirinya.