
Beberapa bulan kemudian,
Azka sudah harus memimpin perusahaan yang ditinggalkan oleh Rusli. Pria itu bersama Barata harus menemani istrinya ke Kanada setelah Inara dinyatakan hamil oleh Dokter. Namun ada sedikit masalah dengan kandungannya. Karena di sini tidak ada sanak saudara yang akan membantu Inara jadi dengan sangat berat hati mereka harus berkumpul bersama keluarga besar Inara di sana.
Meninggalkan cucu kesayangan yang sudah sering dikunjunginya di apartemen putranya. Demi calon bayi yang baru datang menghuni rahimnya.
Bahagia, tentu saja sangat bahagia. Semua orang yang mengetahuinya ikut sangat berbahagia dengan kehamilan kedua Inara. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut adiknya Azka Narendra.
Jujur saja, pria yang menduduki jabatan CEO sekaligus pemilik perusahaan. Harus banyak menyesuaikan waktu untuk bekerja dan kelurga.
Rencananya, Azka akan meminta Dania untuk mengisi posisi asisten pribadi, tanpa harus menggeser posisi Nency di perusahaan itu yang sudah bekerja lama untuk Rusli.
Azka sangat membutuhkan sosok Dania disisinya, karena istrinya itu sangat pintar meski sekarang masih sekolah secara private. Mungkin bisa dikatakan, Azka tidak bisa bekerja dengan Nency yang notebenenya adalah sekretaris yang paling bisa diandalkan. Tapi entah kenapa Azka merasa tidak bisa berintetaski dengan Nency.
"Kalau aku ikut bekerja di kantor, bagaimana dengan Zayyid?." Dania masih bimbang menerima permintaan suaminya. Si kecil Zayyid sedang lucu-lucunya dan sangat mengemaskan sekali. Rasanya sayang kalau harus melepaskan momen emas itu.
"Untuk sementara waktu kita akan membawanya ke kantor sayang, sebelum mendapatkan pengasuh yang bagus untuk putra tampan kita. Aku juga tidak ingin ada orang sembarangan yang akan membantu kita menjaga Zayyid." Jawab Azka panjang lebar.
Dania yang sudah bertekad untuk tidak takut lagi menghadapi orang-orang di luar sana, langsung menyanggupi apa yang diminta oleh suaminya.
"Oh, sayang. Terima kasih, kamu yang terbaik." Azka mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada bibir merah istrinya.
Sore ini, Azka membantu Dania memilihkan bebarapa pakaian yang ada di dalam lemari, yang bisa dipakai Dania untuk ke kantor esok hari. Pria itu ingin memamerkan istri cantiknya pada rekan-rekan bisnis sekaligus para karyawannya.
__ADS_1
Setelah didapat beberapa potong, Dania memisahkannya supaya memudahkan dirinya.
Si kecil Zayyid masih sangat pulas tidurnya, padahal sudah waktunya anak itu mandi. Namun memon itu dimanfaatkan oleh Azka untuk bermanja pada Dania sebelum Dania disibukkan dengan anak mereka.
"Kak!, pelan-pelan." Terasa sakit saat Azka menggigit gemas ujung dadanya.
"Maaf sayang, habis dia sangat mengemaskan." Azka mengulanginya lagi sehingga Dania reflek menarik rambut suaminya supaya menjauh dari dadanya. Ujung dada Dania sedikit lecet karena ulah suaminya.
Azka tersenyum sambil menggaruk kepalanya ketika Dania menutupi area dada dengan kedua tangannya.
"Kak Azka mainnya kasar!." Dania mencebik kesal sambil memajukan bibirnya beberapa centi meter. Dan yang ada, bukannya Azka merasa bersalah. Pria itu malah medorong tubuh istrinya sampai terjatuh di atas tempat tidur, yang otomatis kedua tangan Dania memegangi leher Azka dengan sangat kencang.
Ujung dada yang tadi digigit Azka kini terlihat lagi dan kembali memancing Azka untuk menghisapnya. Dania hanya bisa pasrah di bawah tubuh suaminya, karena kali ini pria itu bermain sangat lembut sekali.
"Kamu lapar, sayang." Tanya Azka sembari bangkit dan meraih jubahnya.
Dania menggeleng sambil memejamkan matanya, dia begitu lelah akibat pertempuran mereka yang lebih dikuasai oleh suamianya. Banyak tenaga yang terkuras namun Dania begitu enggan untuk bangun dan memakan sesuatu.
Azka tidak mempedulikan gelengan kepala Dania, karena pria itu tetap pergi keluar dan mengambil sesuatu dari meja makan. Bahkan ada yang diambilnya dari dalam kulkas.
"Ayo sayang, kita makan dulu." Azka sudah duduk di atas kasur dan meletakkannya nampan di depan wajah istrinya.
"Tapi aku ngantuk Kak!." Rengek Dania yang sudah tidak bisa membuka matanya lagi.
__ADS_1
"Hanya beberapa suap saja sayang. Kasihan cacing di dalam perut mu pasti sangat kelaparan." Pria itu masih membujuknya, sebenarnya Azka sangat kasihan tapi istrinya memang harus bangun.
"Kakak saja yang makan." Wajah Dania semakin dalam bersembunyi di bawah bantal, rasa kantuknya bukan main-main. Sehingga Azka membiarkan Dania untuk tidur dengan perut kosong. Dan makanan itu dirinya yang menghabiskan tanpa sisa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 ketika Azka dan anak istrinya sampai di perusahaan. Sudah tidak ada yang tidak mengenal sosok Dania sebagai istri sekaligus ibu dari bos besar mereka, Azka Narendra. Karena sudah sering terlihat keberadaannya di samping Azka bersama si kecil Zayyid. Dan sejauh ini mereka sangat menghormati dan menghargai Dania.
Fathia langsung menyambut antusias Zayyid yang masih dalam gendongan Dania, wanita itu membuat Dania dan Azka memikirkan hal yang sama. Namun tentu saja, Fathia melakukannya ketika sudah tidak ada karyawan yang melihat mereka. Dan sebanarnya itu hal biasa saja karena Azka dan Dania sudah menganggap Fathia seperti saudara mereka.
Keduanya saling melempar pandang ketika Zayyid sudah berpindah tangan pada Fathia. Lalu Dania mengajak Fathia untuk masuk dan duduk di ruangan suaminya.
"Emmmmm...gemes banget tahu." Sudah berulang kali Fathia mengatakan itu, namun tidak berani sampai mencium pipi Zayyid tanpa izin dari kedua orang tuanya. Biasanya, Fathia melakukan itu setelah mendapatkan izin dari Daniaa atau Azka.
Karena bagaimana pun, meski mereka bersahabat. Tapi Fathia tidak ingin lancang, apalagi saat ini mereka sedang ada di perusahaan.
"Kau bisa mencium pipi Zayyid setiap hari, asalkan kau mau menjadi pengasuh Zayyid. Tidak masalah sampai siang juga, setelahnya baru kita yang akan menjaganya." Tawar Azka pada Fathia. Tanpa pikir panjang lagi Fathia menyanggupinya sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. Karena dia begitu senang dengan sosok Zayyid.
"Tapi benar kan, aku bisa setiap detik mencium pipinyanya yang gembul ini?." Pertanyaan sederhana itu sangat membuat Dania dan Azka sangat senang. Karena mereka tidak perlu susah-susah untuk mencari orang karena sudah ada Fathia.
Fathia terlalu asyik dengan Zayyid di dalam gendongannya sampai tidak tahu kalau sudah ada Dokter Levi bersama mereka, beberapa saat lalu Dokter tampan itu masuk setelah mengetuk pintu.
"Halo tampan." Sapa Dokter Levi yang langsung mendekati Zayyid sambil mengendus wangi khas alami anak-anak.
Seketika Fathia menahan nafas saat rambut Doktor Levi mengenai wajahnya.
__ADS_1