
Rusli berdiri diantara keduanya, hati terdalamnya belum bisa melepaskan Medina untuk pria mana di luar sana. Tetapi dirinya tidak bisa menjadikan Median miliknya. Karena dirinya pun sangat tidak ingin menduakan Inara.
Maka dengan sangat berat hati, Rusli memberikan separuh kebahagiaannya pada Radit untuk menikahi mantan kekasihnya.
"Nikahilah dan buat Medina bahagia, aku sangat yakin kalau bisa melakukannya. Dan Medina akan menjadi wanita yang paling beruntung bisa menikah dan mendapatkan pria yang sangat baik."
Rusli mendekati Radit, memegang lengan lalu dan memberikan restu pada pria yang telah dianggapnya sebagai keluarga.
"Terima kasih, Om." Ucap Medina dan Radit bersamaan.
Rusli hanya mengangguk, kemudian pamit undur diri dari sana dan langsung menutup pintu setelah berada di luar. Pandangannya bertemu dengan sang putra yang hendak menemui Radit.
"Lebih baik Papa tanyakan pada hati Papa, siapa yang Papa inginkan untuk menemani Papa?. Mama ku atau Medina?. Kalau Papa sudah memilih Mama ku, berarti Papa sudah tidak boleh memiliki perasaan lagi pada Medina. Begitu juga sebaliknya, biarkan Mama bahagia dengan pria lain di luar sana."
"Kau tenang saja, aku tetap memilih Inara. Karena aku juga sangat mencintainya. Medina, hanya masalah waktu saja. Nanti juga aku tidak seperti ini dan aku sudah sangat berusaha keras."
Azka mengangguk lalu menatap Rusli yang langsung pergi dari hadapannya.
Sebuah rencana sudah disusun Azka bersama Dokter Tantan setelah Azka menemui Medina dan Radit. Pasangan baru itu pun menceritakan rencana pernikahan sederhana mereka yang akan segera dilaksanakan setelah keduanya keluar dari rumah sakit.
Azka langsung berangkat ke kampus setelah menyelesaikan urusan Dania di sekolah. Akhirnya Azka mengeluarkan Dania dari sekolah tersebut. Dirinya masih membiarkan Reza berkeliaran di sekolah itu, karena Azka tidak ingin membuat pria itu cepat keluar dari sana.
Joanna sudah berani muncul dihadapan Azka secara terang-terangan setelah pertemuan pertama mereka yang dilakukan kemarin.
"Halo sayang." Sapa Joanna sambil tersenyum menggoda pada Azka.
"Ada apa?." Azka cukup terganggu dengan keberadaan Joanna di kampus. Tapi Azka berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
"Aku ingin menemui mu saja, aku sudah sangat rindu." Jawab Joanna mulai memegang tangan Azka dan tanpa sepengetahuan Azka kalau Christin berada di sana dan mengambil beberapa foto mereka.
"Bukannya nanti malam aku akan tempat mu?."
"Iya sih, tapi aku sudah tidak sabar menunggu nanti. Bagaimana kalau kamu bolos saja?."
Azka menurunkan tangan Joanna yang semakin berani sambil menggeleng tegas.
"Aku tidak bisa meninggalkan mata kuliah ku sang ini, aku sangat butuh materi dan nilainya." Jawab Azka jujur. Azka sudah harus fokus supaya bisa secepatnya lulus.
"Baik lah sayang, aku akan menunggu di kamar di hotel saja. Jangan sampai kamu telat ya!."
__ADS_1
Azka hanya mengangguk lalu menatap Joanna yang pergi dari hadapannya.
Pria sudah bertekad akan secepatnya membawa Joanna kehadapan Radit dan Medina. Kalau bisa sebelum mereka melangsungkan pernikahan.
Sementara itu di rumah, Dania dan Rania memasak untuk makan malam mereka. Meski sudah ada pelayan khusus tapi mereka selalu mengerjakannya sendiri.
Rania selalu fokus dengan apa yang dikerjakannya, jadi jarang sekali terlibat obrolan bersama Dania. Tapi karena Dania ingat dengan percakapannya bersama Dokter Tantan beberapa hari lalu, jadinya Dania banyak bertanya pada Rania.
"Kak Rania sudah supaya kekasih?."
"Tidak."
"Memang Kak Rania belum memikirkan untuk berumah tangga?."
"Belum."
"Kenapa?."
"Tidak apa-apa."
"Bukannya enak kalau kita ada yang melindungi atau hanya sekedar memperhatikan kita?."
"Tidak juga."
"Bagaimana menurut Kak Rania tentang Dokter Tantan?."
"Baik."
"Hanya itu?."
"Iya."
Dania meninggalkan dapur saat melihat kedatangan Dokter Tantan. Dania ingin memberikan waktu pada mereka untuk bicara, terutama pada Dokter Tantan yang ingin mengenal Rania lebih jauh.
"Dania..."
"Ini aku, Tantan."
"Iya, Dokter Tantan."
__ADS_1
"Panggil Tantan saja. Tanpa embel-embel apa pun. Itu hanya sebuah gelar saja."
Rania hanya mengangguk.
Percakapan diantara mereka hanya terjadi satu arah saja. Karena Rania hanya menjawab tanpa balik bertanya apa pun pada Dokter Tantan. Sehingga obrolan itu sangat membosankan dan sangat tidak bermutu.
Makan malam pun usai, ketiga pria itu bicara di ruang tengah sementara Dania dan Rania membersihkan kamar Inara yang akan dihuni pagi hari ini nanti. Karena Inara dan anak Dania akan kembali lagi ke rumah itu.
"Kamu sudah tidak sekolah?."
"Iya, Kak Azka yang memintanya. Nanti sebagai gantinya akan ada Guru ke rumah."
Rania mengangguk kecil.
"Kak Rania tidak ingin melanjutkan kuliah lagi?."
"Mau, tapi tahun depan."
Dania yang kepo akan pembicaraan Rania dan Dokter Tantan pun kembali bertanya. Namun sepertinya Rania tidak ingin membicarakannya terlalu jauh. Dan Dania pun harus puas dengan sikap Rania yang demikian.
Sedangan di sebuah kamar hotel, Joanna sudah mulai bicara dan Azka langsung mengambil kesempatan itu untuk merekam semuanya. Dan sebentar lagi Joanna akan tidak sadarkan diri, sehingga memudahkan dirinya dan Dokter Levi membawa Joanna.
Karena bantuan dari Dokter Levi dan Dokter Tantan, Azka bisa mendapatkan obat yang bisa bekerja dengan cepat pada tubuh Joanna.
"Aku benci mereka yang menghalangi kebahagiaan kita. Jadi mereka harus membayar semuanya." Joanna sudah mulai melepas jubahnya.
"Aku mau kita kembali bersama, Azka. Aku sangat mencintaimu." Joanna menarik tangan Azka hingga pria itu berpura-pura jatuh pada mengantarkan Joanna pada tidur panjangnya.
Rencana Azka hampir saja tidak berjalan mulus karena ternyata Joanna juga menempatkan Christin dan Reza di sana, namun untung saja Dokter Levi dan anak buahnya sudah dapat mengamankan keduanya. Sehingga Joanna berhasil di bawa oleh Azka dan Dokter Levi.
Tidak berbeda dengan Eva dan Darwin yang sudah berhasil diterbangkan ke Jakarta atas bantuan orang yang dikenal Barata dan Rusli.
"Tempatnya sudah steril dan tidak akan ada yang mencium jejak mereka di sini."
"Ok, Dokter Levi."
Azka dan Dokter Levi pergi dari tempat itu, karena ketiganya akan tidur dalam waktu yang cukup lama sehingga membuat mereka cukup memiliki waktu untuk menyiapkan aksi selanjutnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 04.30 wib saat Inara dan cucunya sampai di rumah. Sambutan yang sangat luar biasa mereka dapatkan dari keluarga tercinta.
__ADS_1
Azka dan Dania bisa berkumpul bersama si kecil dan Inara bisa bersama Rusli yang sedang patah hati karena Medina akan menikah dengan Radit.
"Sayang, Mommy sangat rindu." Tidak ada hentinya Dania menciumi pipi gembul bersemu merah Haikal.