
Fathia sudah bisa bernafas seperti biasa lagi setelah Dokter Levi duduk bersama Azka. Sedangkan Fathia dan Dania di sofa yang tidak jauh dari posisi meja kerja Azka. Sudah bisa dipastikan kalau kedua wanita itu bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua pria tersebut.
"Selena akan membawa Nency ke Amerika?." Tanya Azja memastikan lagi setelah sebelumnya Dokter Levi bercerita panjang lebar pada Azka mengenai pengunduran Nency dari perusahaan.
"Iya, bahkan yang lebih gilanya lagi. Selena sudah mempersiapkan semuanya tanpa Nency tahu, sore ini mereka akan terbang." Dokter Levi mencoba berusaha bersikap tenang. Walaupun dia juga merasa cukup patah hati harus menunda atau mungkin sampai membatalkan pernikahannya bersama Nency. Wanita yang hampir tiga tahun ini selalu menjadi penghuni tetap hatinya.
Nency seorang wanita yang sangat cantik, terlahir dari keluarga sangat berada. Hanya saja ada beberapa masalah yang sangat menghambat pengobatan Nency. Nency merupakan seseorang yang tidak bisa bicara seperti orang pada umumnya. Dia memiliki keterbatasan, namun Rusli melihat bakat potensial yang ada di dalam diri Nency sehingga berani menjadikan Nency sebagai sekretaris pribadinya.
Sekilas Dokter Levi melirik Fathia yang tertawa karena Zayyid, pria itu ikut tersenyum dan kembali fokus Azka. "Aku harus melepaskan Nency supaya dia bisa terbang lebih bebas lagi tanpa harus cepat terikat karena aku."
"Bukan karena wanita itu kan?." Wanita yang dimaksud Azka adalah Fathia.
Dokter Levi menggeleng lemah. "Kalau pun aku sekarang mendekatinya, pasti dia tidak akan mau. Karena dia sendiri bilang tidak ingin memiliki hubungan dengan pria yang terikat dengan wanita lain. Aku sangat menghargainya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau nanti aku akan menikahinya setelah menyelesaikan hubungan ku dengan Nency." Jawab Dokter Levi sangat serius.
"Aku ingin yang terbaik untuk kau dan Nency."
"Terima kasih."
Setelah kepergian Dokter Levi dan sekaligus Nency yang berpamitan pada Dania dan Azka. Fathia membawa Zayyid ke tempat biasa yang dirinya gunakan untuk bekerja. Ruangan itu sudah dialih fungsikan untuk si kecik Zayyid.
Sementara Dania yang berada satu ruangan bersama suaminya sedang mempelajari apa yang telah ditinggalkan oleh Nency. Beberapa meeting penting yang harus dihadiri oleh suaminya, kontrak kerjasama yang akan datang, beberapa klien yang meminta bertemu secara pribadi bersama CEO muda itu. Karena mau tidak mau kini Dania harus mengisi posisi itu juga.
"Kalau ada masalah atau kendala apapun, kamu bisa mendiskusikannya dengan ku." Azka menatap Dania yang dengan teliti membuka satu persatu halaman catatan penting Nency yang ada pada buku agendanya.
"Iya Kak, aku sedang mempelajarinya." Jawab Dania tanpa mengangkat kepalanya karena sebentar lagi suaminya itu harus pergi keluar untuk meeting bersama klien. Yang antinya di perusahaan itu hanya akan ada dirinya saja.
Sanggupkan Dania sendiri di sana?.
__ADS_1
"Ada apa?." Tanya Azka pada istrinya yang terlihat sangat gugup, karena sudah berulang kali merapikan rambutnya yang masih rapi.
Dania mengangkat kepalanya tegak, tatapan mata mereka bertemu cukup lama, bibir Dania sedikit bergetar lalu detik selanjutnya wanita itu berkata dengan penuh percaya diri. Dania harus bisa menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya saat tidak bersama Azka.
"Meeting dengan Pak Robin dan Pak Doddy di Cafe Carita, 30 menit lagi akan dimulai. Di sini Kak Nency sudah menyiapkan semua keperluan meeting untuk Kak Azka." Dania bangkit berdiri lalu menyerahkan tas kulit berwarna hitam.
Azka melirik jam yang dipakainya lalu ikut berdiri dan langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Dania.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, ponselku akan selalu standby. Kamu harus percaya pada kemampuan mu, sayang. I Love You."
Cup
Ciuman penyemat yang Dania labuhkan pada bibir suaminya, merupakan salah satu cara untuk menutupi kegugupan dan kecemasannya saat ini.
"I Love You Too, Kak." Balas Dania setelah melepaskan ciumannya lalu mengelap bibir Azka.
Dania mengangguk. "Hati-hati."
Cup
Kini Azka yang mencium bibir Dania sebelum pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
Dania menatap seluruh isi ruangan yang menjadi tempat dirinya dan suaminya. Ruangan besar ini dipenuhi fasilitas yang hampir semua ada. Lalu Dania kembali fisik di kursinya lalu kembali membuka berkas yang tadinya ada di meja Nency.
Selesai membaca dan memeriksa beberapa berkas tersebut, Dania menaruhnya di tempat yang sudah disediakan oleh Nency. Sehingga Dania sangat terbantu dengan keberadaannya.
Hampir dua jam lamanya Azka meninggalkan kantor, namun belum ada tanda-tanda pria itu akan kembali. Padahal seharusnya Azka sudah berada di kantor lagi untuk menemui klien lain yang ingin datang mengunjungi perusahaan.
__ADS_1
Lalu apa yang harus Dania lakukan?.
"Maaf Ibu Dania, mereka ingin bertemu dengan orang yang bisa menghandle pekerjaan Pak Azka." Ucap Wanda, bagian resepsionis yang ada di lantai itu.
Tidak punya pilihan lain, maka Dania pun harus mau dan bersedia turun demi membantu suaminya.
"Baik Ibu Wanda. Aku akan menemui mereka."
"Saya akan menyampaikan pada mereka."
Dania hanya menganggukkan kepalanya, dalam hati sangat berharap kalau suaminya itu cepat datang dan bertemu dengan mereka. Tapi rupanya itu tidak terjadi, sehingga Dania yang harus menemuinya seorang diri.
Pintu ruangan pertemuan itu sedikit terbuka, Dania tetap masuk dengan sopan dan tentunya setelah mengetuk pintu. Tiga orang yang ada di sana menatap takjub dengan kedatangan Dania yang menurut mereka sangat cantik, kalem dan elegan.
Kemudian Dania memperkenalkan diri pada mereka, setelahnya Dania duduk bersama mereka.
"Begini Ibu Dania, sebenarnya kami ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaannya, tapi karena Pak Azka nya serbah berada di luar. Jadi bertemu dengan Ibu Dania pun tidak masalah.
"Kedatangan kami ke sini hanya ingin menyampaikan beberapa ketidakpuasan kami terhadap kerjasama yang sudah hampir satu tahun ini terjalin. Ada hal-hal yang menurut kami, dangau tidak menguntungkan pihak perusahaan kami. Jadi minta tolong untuk ditinjau lagi." Wanita yang berbicara mewakili perusahaan mereka adalah Merry. Dia menunjukkan kontrak kerjasama satu tahun silam, dalam salinannya sudah Merry kasih tanda, poin-poin mana saja yang menurutnya sangat merugikan pihak mereka.
Sekilas Dania memeriksa dan mengamatinya, lalu mencoba mencari letak ketidakpuasan mereka terhadap kontrak kerjasama itu. Dania berpamitan pada mereka, untuk mencoba mencari kontak kerjasama yang sudah difile oleh Nency.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Dania untuk menemukan apa yang dicarinya dan sekarang sudah ada ditangannya. Kemudian Dania membuka poin-poin yang dimaksud, namun Dania merasa heran kenapa bisa ada kesalahan dalam poin tersebut dalam kontrak copyan kerjasama mereka.
"Kalau aku dilihat dari sini, tidak ada satu pun yang merugikan kalian. Mungkin itu ada kesalahan dalam intern perusahaan kalian." Meski sedikit ragu-ragu namun Dania tetap menyampaikan itu, yang otomatis mendapatkan senja bentakan dari pria yang ada di sebelah kanan Merry.
"Bagaimana bisa Ibu Dania mengatakan itu?. Memang Ibu Dania siapa?."
__ADS_1