Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 33 Azka Narendra


__ADS_3

Dania menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyendiri di taman belakang sekolah. Ketiga sahabatnya kompak tidak masuk sekolah hari ini dengan alasan sakit. Dania sudah mengirimkan pesan pada ketiga sahabatnya namun belum ada satu pun dari mereka yang membalas pesannya.


Dania memikirkan kembali percakapannya bersama Radit beberapa waktu lalu. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi mengingat sudah ada beberapa orang yang mengetahui kehamilannya.


Apa yang akan terjadi pada hidupnya?.


"Aku mencari mu ke dalam kelas ternyata kamu di sini." Ucap seorang pria dari arah belakang.


Dania menoleh keasal sumber suara dan menemukan seorang pria yang masih digantungkan perasaannya. "Kak Adnan."


"Aku boleh duduk di sebelah mu?."


"Duduk lah, Kak. Tidak ada larangannya Kak Adnan untuk duduk di sini." Dania sedikit menggeser tubuhnya supaya Adnan lebih leluasa duduk disebelahnya.


Adnan menatap Dania dari samping, semakin cantik dan berisi saja tubuh Dania. Adnan tidak munafik, dia menyukai apa yang ada pada tubuh Dania.


"Bagaimana Dania, apa sekarang aku bisa mendapatkan jawabannya dari mu?. Ini sudah terlalu lama, kalau pun kamu akan menolak aku tidak masalah, itu adalah hak mu."


Dania menoleh ke samping, menatap wajah tampan Adnan yang begitu sangat kalem menurutnya.


"Maaf, Kak Adnan. Tapi aku harus menolak Kak Adnan dengan alasan yang tidak bisa aku beritahukan pada Kak Adnan."


Adnan menghembuskan nafasnya secara kasar, dia harus kecewa dengan penolakan Dania tapi juga harus menerimanya dengan lapang dada.


"Ok, tidak apa-apa Dania. Terima kasih sudah mau jujur." Dengan berat hati Adnan mengatakan hal tersebut.


"Maaf kan aku ya Kak?." Ucap Dania penuh sesal.


"Tidaka apa-apa Dania. Aku harus kembali ke kampus, aku duluan Dania." Adnan bangkit dan langsung pergi setelah Dania menganggukkan kepalanya.


Dania menatap kepergian Adnan yang kini sudah tidak terlihat lagi oleh matanya.


Begitu beruntung gadis yang mendapatkan cinta Adnan kelak. Pria baik, tampan, penuh tanggung jawab, dewasa, perhatian dan banyak lagi kelebihan yang dimiliki oleh Adnan. Tapi, sayangnya yang beruntung itu bukan dirinya.


Tidak berselang lama, Almeer muncul dengan membawa satu kotak bekal makanan yang dibawanya untuk Dania.


"Hei..." Almeer menepuk pundak Dania yang sedang melamun.


Dania mendongak kearah Almeer.

__ADS_1


"Iya Kak, ada apa?."


"Aku bawa buah-buahan untuk mu."


"Terima kasih." Dania menerima kotak tersebut lalu membukanya dan mulai memakan buah-buahan tersebut.


"Kak Almeer mau?."


Almeer menggeleng sambil menatap wajah Dania yang semakin cantik saat terkena sinar matahari.


Sementara itu di tempat lain, Azka sudah merasa lebih baik dari tadi pagi. Dirinya sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Sudah banyak tugas yang menunggunya.


"Sepertinya kau kalah cepat dengan dua pria yang sama-sama mengejar Dania."


"Siapa?. Adnan dan Almeer?. Mereka bukan saingan ku, masih aku pemenangnya karena ada benih ku di dalam sana." Balas Azka membanggakan dirinya sendiri.


"Cih, merusak wanita saja kau bangga. Seharusnya kau bangga kalau bisa bertanggung jawab pada wanita itu dan anak kalian." Barata mencomooh cucu kesayangannya.


Azka terlihat membuang kasar nafasnya. Lalu dia menatap pada Barata. "Aku mau bertanggung jawab pada anak kami sampai kapan pun. Tapi, aku tidak yakin kalau Dania mau memaafkan aku."


"Buktikan pada wanita itu, kau layak untuk menjadi seorang ayah bagi anak kalian dan suami yang baik bagi Dania."


Azka mengendarai mobilnya sendiri berangkat ke kampus. Almeer dan Adnan memang bukan lawannya, tapi mengingat apa yang telah dilakukannya pada Dania. Apa gadis itu masih mau menerima tanggung jawabnya atau paling tidak memaafkan kesalahannya?.


Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Azka tiba di kampus dan baru keluar dari area parkir yang khusus untuk dirinya. Sebuah keuntungan yang sangat enak bukan?. Tentu saja, semua orang juga menginginkan semua kemudahan yang dimiliki oleh Azka.


Joanna yang melihat kedatangan Azka pun langsung menghadang Azka sambil berusaha memegang tubuh Azka. Tapi, Azka menolaknya dengan menghindar mundur beberapa langkah dari posisinya Joanna saat ini.


"Azka aku minta maaf, aku khilaf. Tolong maaf kan aku, Azka. Aku benar-benar sangat menyesalinya." Mohon Joanna sambil mengatupkan lengannya di depan dada.


Azka hanya bergeming ditempatnya, tatapannya kini tertuju pada Dania dan Almeer yang baru keluar dari gedung kampus. Entah apa yang membuat wajah Dania berseri-seri.


Sontak saja yang dilakukan Joanna mengundang rasa penasaran mereka semua. Ada apa dengan Joanna dan Azka?. Karena yang mereka tahu hubungan keduanya sangat harmonis dan begitu serasi. Tapi, kali ini Joanna terlihat seperti sedang memohon pengampunan dari Azka.


Bahkan tanpa malu dan ragu, Joanna menjatuhkan tubuhnya di depan Azka. Menekuk lutut mulusnya menyentuh lantai yang sangat panas karena cuaca siang ini sangat terik.


Semakin menarik pertunjukan yang dibuat olah Joanna. Karena demi menarik simpati dan mendapatkan maaf dari Azka Joanna rela melakukan itu meski harus menanggung malu seumur hidup.


"Azka, aku minta maaf." Ucap Joanna lagi sambil menundukkan kepalanya. Tapi Azka masih diam tidak merespon apa yang dikatakan atau yang perbuat Joanna.

__ADS_1


Justru pandangan Azka mengikuti kemana perginya Dania dan Almeer yang sama-sama saling melempar senyum terhadap satu sama lain.


Tatapan Azka beradu tajam dengan Radit yang baru datang dari arah kampus.


Radit yang mengerti dengan arti tatapan Azka yang ditujukan pada adiknya semakin membuat Radit yakin tentang Azka. Setelah dirinya bertanya pada Mama Ningrum dan Papa Hamzah mengenai laki-laki yang pernah dekat dengan Dania. Karena Dania tidak mau juga buka mulut. Dan itu hanya merujuk pada satu nama yaitu Azka Narendra.


Tanpa membuang waktu lagi, Radit segera berjalan mendekati Azka dengan tangan yang sudah terkepal.


Azka yang lengah karena Joanna memegangi kedua kakinya jadi tidak fokus lagi pada Radit. Sehingga dengan mudah Radit melayangkan pukulannya yang teramat sangat kencang pada wajah dan tubuh Azka.


Bugh...Bugh...


Seketika Azka tersungkur ke atas lantai di bawah kaki Radit.


"Sayang!." Teriak Joanna memegang wajah Azka, pada bagian sudut bibir Azka mengeluarkan sedikit darah segar.


Joanna yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Radit langsung bangkit berdiri lalu menampar wajah Radit.


Plak


"Beraninya kamu memukul Azka, hah!." Bentak Joanna yang kemudian mencakar dada bidang Radit yang terbuka.


Radit begitu emosi melihat cinta yang terpancar dari mata Joanna untuk pria yang diyakininya telah menghamili Dania.


Tanpa mempedulikan Joanna yang sedang mengoceh, Radit kembali melayangkan serangannya dengan menendang Azka yang sedang berusaha bangkit.


Azka kembali tersungkur sebab saat ini Radit seperti memakai tenaga supernya ketika memukul dan menendang Azka.


"Ahhhh..."Joanna teriak histeria Azka ambruk di atas lantai mungkin sudah tidak sadarkan diri.


"Kau berengsek, Radit!." Joanna memukuli punggung Radit yang sedang memastikan keadaan Azka yang sudah tidak sadarkan diri.


"Seharusnya kau mati, Azka!."


"Kau jahat, Radit!. Kau berengsek!."


"Kekasih mu yang lebih berengsek dan sangat jahat pada Dania. Karena membuat Dania hamil dan kini Azka mencampakkannya."


Deg....

__ADS_1


Ucapan Radit tidak bisa masuk dan di cerna oleh otaknya. Tidak mungkin, bagaimana bisa pria yang begitu mencintainya menyentuh wanita lain sampai hamil?.


__ADS_2