
Bukan hanya berangkat sekolah saja Adnan bersama Dania. Akan tetapi pulang sekolah, berangkat dan pulang kerja dari cafe. Adnan semakin gencar mendekati Dania setelah acara makan malam di rumah Azka Narendra.
Almeer yang hendak akan mengantarkan Dania saja harus mundur lagi setelah melihat Adnan yang sudah berdiri menunggu Dania.
"Kau sekarang mendapatkan saingan yang satu level di atas, karena dia seperti bayangan Azka." Shaka menepuk pundak sahabatnya yang masih diam mematung.
Melihat interaksi antara Adnan dan Dania yang cukup membuat hatinya sedikit cemburu. Karena bagaimana pun menurut Almeer, Dania merupakan tipe wanita idamannya.
"Adnan ternyata menyukai Dania juga. Aku harus tetap maju atau mundur?." Tanya Almeer pada Shaka.
Seketika rasa percaya dirinya menurun setelah melihat Adnan yang begitu gigih berjuang untuk Dania. Bukan karena itu saja, terlebih Adnan adalah pria yang menjadi incaran para wanita di luar sana. Mungkin salah satunya termasuk Dania.
"Seharusnya tetap maju, karena Dania juga belum tentu menerima Adnan. Kecuali kalau memang mereka sudah pacaran, baru sebaiknya kau mundur tanpa bertanya lagi." Shaka memberikan pendapatnya.
Karena Shaka tahu, baru kali ini Almeer serius menaruh hati pada seorang wanita. Jadi dia harus mendukungnya sampai akhir.
Almeer tersenyum lebar mendapatkan dukungan penuh dari sahabatnya itu dan tidak lupa dia juga sudah memberitahu Azka melalui pesan.
Sedangkan Adnan mengajak Dania untuk duduk di warung tenda, hanya menikmati satu gelas wedang jahe yang sanggup menghangatkan tubuh Adnan yang merasa dingin karena grogi berduaan dengan wanita yang sudah lama disukainya.
"Tidak lama, paling lima belas menit." Ucap Adnan saat melihat Dania yang terus saja memperhatikan jam pada layar ponselnya.
"Maaf, Kak Adnan. Aku harus segera menyelesaikan PR yang belum sempat aku kerjakan tadi di sekolah." Ucap Dania beralasan.
Tapi sesungguhnya karena tidak enak kalau harus banyak orang lain mengira dirinya dan Adnan adalah sepasang kekasih. Yang jelas-jelas bukan dan Dania juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
"Dania..."
"Iya, Kak Adnan."
"Kamu sudah punya kekasih atau orang yang kamu suka?."
Dania menggelengkan kepalanya. Karena cinta pertamanya pada Azka sudah mulai memudar karena banyaknya kesakitan yang Dania rasakan akibat ulah pria jahat itu.
__ADS_1
"Jadi benar kamu masih sendiri?."
Dania menganggukkan kepalanya.
"Jadi, tidak masalah dong kalau aku ingin lebih dekat lagi kamu?."
"Maksudnya, Kak Adnan?."
"Aku suka sama kamu sudah dari lama, hanya aku tidak berani karena kedua kamu banyak yang suka di sekolah. Tapi tadi kamu bilang kamu sendiri, tidak memiliki kekasih dan tidak ada juga orang yang sedang kamu suka. Jadi aku memberanikan diri untuk mengatakan perasaan ku pada mu, Dania."
Deg
Hati Dania bergemuruh hebat kala mendapatkan pengakuan suka dari pria yang selama ini baik padanya. Tapi sayang dirinya tidak pantas untuk pria mana pun, karena apa yang telah di ambil oleh Azka tidak akan pernah bisa kembali padanya.
"Aku tahu, Dania. Mungkin ini terlalu cepat. Kamu juga tidak perlu menjawabnya sekarang, aku sudah senang dengan kamu tahu isi hati ku juga." Adnan tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Dania yang terlihat bingung.
Dania tidak menjawab sepatah kata pun. Karena apa yang bisa dikatakan oleh dirinya yang sudah hancur dan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan lagi.
Tidak berselang lama, Adnan mengajak Dania pulang karena minuman miliknya sudah habis di tambah lagi Dania yang hanya diam saja.
"Terima kasih, Kak Adnan." Ucap Dania saat sudah sampai rumah.
"Sama-sama, Dania. Perasaan ku jangan kamu jadikan beban. Karena rasa suka dan cinta ku tidak untuk mengikat mu, kamu bebas menolaknya kalau tidak mau. Tapi tolong pertimbangan sebelum jawaban itu keluar dari bibir mu."
Dania hanya mengangguk pelan dan Adnan langsung berpamitan setelah mengatakan itu.
Dania masuk ke dalam kamar setelah memastikan kedua orang tuanya masih duduk di ruang tengah menunggu kepulangannya. Dania hanya mencuci wajahnya saja lalu berganti pakaian. Kemudian keluar untuk menemui kedua orang tuanya.
Mama Ningrum dan Papa Hamzah hanya bertanya tentang hari ini di sekolah dan tempatnya bekerja.Padahal dari kemarin Mama Ningrum menagih janji pada Dania untuk menceritakannya makan malam di rumah Azka Narendra. Ternyata Mama Ningrum masih sangat ingin tahu dengan kehidupan pria itu.
Setelahnya baru Dania masuk kamar untuk istirahat, tapi pikirannya belum mau tidur malam ini. Karena apa yang sedang ditakutkannya tidak kunjung pergi dari kepalanya.
Keesokan paginya...
__ADS_1
Dania sudah turun dari mobil angkot, saat kakinya hendak akan melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah. Tiba-tiba ada tangan kekar yang menarik tangannya hingga mereka saling berhadapan.
"Kak Azka!." Pekik Dania sambil berusaha menarik tangan dari Azka, namun tidak bisa. Hingga Azka yang berhasil menarik Dania masuk ke dalam mobilnya.
"Kita mau kemana, Kak Azka?. Aku tidak mau, Kak!." Dania tidak bisa membuka pintu mobil karena sudah di kunci oleh Azka.
Azka merasa heran sendiri dengan keadaannya saat ini. Saat keluar dari rumah sampai barusan sebelum dirinya turun, isi perutnya terasa sudah ada di tenggorokan. Azka menahan rasa mual muntah yang setiap pagi yang menyerangnya.
Tapi sekarang, dirinya tidak merasakan itu lagi. Hidungnya bisa kembali mencium aroma wangi dari tubuh Dania yang tidak mengganggunya sama sekali.
Ada apa dengan dirinya?.
Azka menatap tidak percaya pada Dania, parfum merk apa yang dipakai Dania sehingga hidungnya bisa menerimanya dengan baik?.
"Aku mohon jangan lagi melakukan itu pada ku, Kak!." Dania menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dania menangis terisak di depan Azka, karena masalahnya tidak pernah selesai dengan pria yang bernama Azka.
Tangan Azka terulur dan mengusap rambut kepala Dania, entah dorongan dari mana Azka melakukan itu pada Dania.
"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuh mu, Dania. Tapi untuk sekarang aku bisa berjanji, hanya saat ini. Karena aku akan mengajak mu ke rumah sakit."
Seketika Dania menurunkan tangannya lalu wajah cantik itu bisa dilihat oleh Azka.
"Untuk apa kita ke rumah sakit?."
"Aku juga tidak tahu, tapi nanti akan segera tahu kalau sudah bertemu dengan dokter Tantan."
Dania dihinggapi berbagai perasaan, tapi yang paling besar adalah rasa takutnya. Bagaimana kalau hari ini tidak datang juga tamu bulanannya?. Apa yang terjadi dengan hidupnya kelak?.
Karena terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai Dania tidak menyadari kalau mobil sudah meninggalkan sekolah.
Setelah sampai di tempat yang di tuju, Azka langsung membawa Dania masuk ke dalam ruangan dokter Tantan. Lagi-lagi Azka merasakan keajaiban di mana rasa mual muntah itu tidak lagi menyerangnya. Dan itu juga di sampaikan langsung pada Dokter.
__ADS_1
Usai melakukan serangkai pemeriksaan dan tanya jawab oleh dokter Tantan disertai dengan bukti yang sangat nyata yaitu USG dan testpack serta apa yang terjadi pada Azka. Maka Dania dinyatakan sedang hamil dan Azka yang harus mengalami kehamilan simpatik.