
Pertengkaran kecil itu bisa selesa di atas tempat tidur, dan dengan sangat terpaksa Azka memberitahu Dania tentang Radit yang belum ditemukan, karena tiba-tiba saja Dania menanyakan kakak laki-lakinya tersebut.
Dania segera mengenakan jubah, menutupi tubuhnya yang masih polos. Dania segera menghubungi Medina namun sayang panggilannya tidak dijawab oleh sahabatnya itu.
"Kamu menghubungi siapa?." Tanya Azka setelah memakai boxer lagi.
Dania menoleh pada Azka yang mendekatinya. "Medina, tapi tidak diangkat juga."
Azka meminta Dania untuk tidak berpikir yang bukan-bukan. Karena semua orang sedang mencari Radit dan bisa dipastikan kalau Radit akan ditemukan.
Dania menangis di dalam pelukan Azka, karena selain Radit dan Rania, dirinya tidak memiliki saudara lagi. Meski sekarang sudah ada keluarga baru yaitu Azka dan keluarganya.
Pagi-pagi setelah mereka sarapan bersama, keduanya langsung berangkat dengan menggunakan mobil yang sama.
Setelah sampai di sekolah, Dania dan Reza datang bersamaan dan mereka bertemu di depan kelas.
Senyum sumringah Reza terlihat jelas dari wajahnya yang masih tetap muda walau usianya sudah berkepala empat.
"Selamat pagi Dania." Sapa Reza berusaha bersikap ramah pada muridnya itu.
"Selamat pagi Pak Reza." Dania mempersilakan Reza untuk masuk kelas lebih dulu, tapi rupanya pria itu ingin Dania yang lebih masuk dulu. Tentu saja hal tersebut mendatangkan perhatian dari semua murid yanh sudah ada di dalam kelas.
Beragam reaksi mereka tunjukkan pada Dania dan Reza, tapi itu masih hanya sebatas lelucon biasa saja dan tidak menyebabkan siapa pun tersinggung. Dania pun tersenyum tipis lalu duduk di sebelah Erina.
"Uh so sweet Dania." Erina merasa lucu dan gemas melihat pemandangan tadi sehingga masih lanjut menggoda Dania. Dania tidak menanggapinya karena Reza sudah mulai menerangkan materi pelajaran baru.
Di kampus pun tidak jauh berbeda, Azka yang menjadi pria paling tampan di sana mendapatkan beberapa buket bunga mawar yang sangat cantik. Tidak ada kata yang keluar dari mulut pria itu, karena Azka melihatnya hal yang biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Dosen cantik yang bernama Christin pun dengan terang-terangan mendekati Azka, ikut bersaing dengan para wanita lain di luar sana. Bahkan sudah berkali-kali menawarkan diri pada Azka berupa bantuan bimbingan belajar. Tentu saja Azka sangat menolaknya.
__ADS_1
Saat telah berganti mata kuliah, ponsel Azka berdering dan itu dari Rusli. Azka langsung bicara karena Dosen selanjutnya belum ada di sana.
"Iya, Pa."
"Sekarang kau ke rumah sakit, Radit dan Medina sudah ada di sana. Mereka dalam keadaan yang sangat kritis, Polisi sudah berhasil melacak keberadaan Eva dan Darwin. Tapi Joanna tidak tahu di mana karena mereka berpisah saat di Belanda."
"Iya, Pa. Aku segera ke rumah sakit." Tanpa menunggu apa-apa lagi, Azka langsung meninggalkan bangku kuliah dan menuju rumah sakit.
Masih ada waktu sekitar empat jam lagi sampai Dania pulang dari sekolah. Jadi Azka masih memiliki banyak waktu untuk mengurus mereka.
Sesampainya di sana, Gatot yang merupakan kaki tangan Rusli langsung memberikan laporan yang sangat mendetail pada Azka. Di mana Radit dan Medina ditemukan?. Apa saja yang terjadi pada mereka jika dilihat dari luka yang ada pada tubuh keduanya.
Azka mengepalkan kedua tangannya saat menerima laporan itu dan dirinya bersumpah akan membalas apa yang telah dilakukan mereka pada keluarganya.
Dokter Tantan yang baru keluar dari ruangan isolasi keduanya, mengajak Azka untuk berbicara penting tentang keadaan Radit dan Medina di ruang kerjanya.
"Apa yang terjadi?."
"Keadaan Medina sendiri, sangat memprihatinkan. Dibagian area sensitifnya ada luka sangat parah. Kemungkinan mereka telah menggaulinya dengan sangat kasar."
Azka menatap Dokter Tantan dengan dada yang bergemuruh. Kenapa semua yang dikenalnya harus mengalami hal tragis seperti ini. Apa ini hukuman bagi dirinya yang telah menyakiti Dania?.
Karena terlalu sibuk dan fokus pada masalah Radit dan Medina, Azka sedikit melupakan harus menjemput Dania ke sekolah. Karena sekarang sudah waktunya Dania pulang.
Baru saja mobil Azka berhenti di depan sekolah, pria itu langsung disuguhkan pemandangan yang mampu membakar api cemburu di dalam hatinya.
Di mana Dania berkumpul bersama teman-temannya namun di sana ada pria yang bernama Reza. Guru itu dengan sengaja duduk berdekatan dengan wanita yang sudah berstatus istrinya. Walau Azka juga tahu kalau Dania sudah berusaha menghindarinya.
Tanpa pikir panjang dan tidak memikirkan akibat yang akan didapatkan oleh Dania nanti, Azka turun dari mobil dan langsung saja menghampiri mereka lalu memperkenalkan diri sebagai calon suami Dania.
__ADS_1
Tawa bahagia yang sejak tadi Azka lihat dari wajah mereka seketika diam dan kini raut wajah mereka berganti sangat tegang. Namun tidak bagi Reza, pria dewasa itu mampu bersikap santai dan bicara sebagai seorang pria gentle.
"Bagus kalau kalian pacarannya sudah dalam tahap serius, jadi sudah bukan waktunya main-main lagi."
"Iya, jadi aku harap kalian para lelaki yang berniat mendekati calon istri ku, harap segara membuang pikiran itu jauh-jauh. Jangan sampai kita memiliki urusan panjang." Azka sedikit mengancam mereka pria yang ada disekeliling Dania. Tapi lagi-lagi Reza bisa tenang dan tidak termakan ancaman Azka.
Reza malah tertawa cukup kencang dan terkesan sinis.
"Baru calon tunangan loh, bukan sudah berstatus suami istri. Yang sudah berstatus suami istri saja masih bisa berpisah, apalagi ini yang hanya baru calon tunangan."
Dania yang sejak tadi berdiri disebelah Azka sudah memegangi tangan suaminya yang hendak bergerak sambil menggelengkan kepalanya. Di sini Azka sudah sangat marah pada Reza dan Dania tidak mau ada keributan di sekolah karena dirinya.
"Ayo, kita pulang Kak!." Dania membawa Azka pergi dari sana tanpa berpamitan pada guru apalagi teman-temannya.
Kini keduanya sudah sampai di rumah setelah hampir satu jam berada dijalanan tanpa ada yang berbicara.
"Apa itu salah ku juga Kak?." Dania menarik tangan Azka yang berjalan melewati dirinya.
"Mereka yang salah!. Bukan kamu, sayang." Azka tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Padahal tadinya dirinya mau mengajak Dania untuk pulang ke rumah sakit menjenguk Radit dan Medina. Tapi karena kemarahannya yang begitu besar, jadi Azka tidak bisa berpikir jernih dan malah berada di rumah sekarang.
Dania yang baru sampai di kamar, langsung duduk di depan Azka sambil memegangi tangannya.
"Kita bisa menyelesaikan pendidikan tanpa harus bersekolah di tempat yang formal seperti itu, Kak. Tapi ini sudah menjadi pilihan dan keputusan kita bersama."
"Tapi bukan untuk menambah masalah kita, sayang. Kita hanya ingin tahu efek dari video itu saja. Kalau dari mereka di luar sana tidak ada yang mengenali mu berarti semuanya sudah aman dan tidak ada masalah lagi."
Baru saja keduanya bicara melunak, ponsel Dania sudah berbunyi karena menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
__ADS_1
"Akhhhhh....." Teriak Dania sambil melemparkan ponselnya ketika video itu ada di sana dan Dania tidak tahu siapa pengirimannya.