
Dania harus meminta penjelasan pada Radit tentang uang 30 jt nya dan di pakai untuk apa?. Hingga di saat uang itu akan digunakan malah tidak ada sama sekali.
Tidak tahu lagi dengan cara apa Dania mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Almeer. Karena berkat Almeer Mama Ningrum bisa pulang ke rumah.
Almeer meminta Dania untuk tidak memikirkan uang itu dan bahkan dengan sangat jelas Almeer memberikan uang itu untuk Mama Ningrum. Jadi, Dania tidak perlu menganggap uang itu sebagai hutang yang harus di bayar.
"Aku juga tidak sekarang Kak mengembalikan uangnya. Tapi, suatu saat nanti kalau aku sudah memiliki uang itu." Dania tidak mau menerima kebaikan Almeer begitu saja, siapa lah dirinya sehingga Almeer mau berkorban begitu banyak bagi keluarganya juga.
"Ok, Dania. Kalau memang kamu sudah memiliki uangnya, silakan kamu kembalikan uang itu. Tapi, kalau pun tidak bisa ya tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah mememintanya atau menganggap itu hutang." Balas Almeer yang mengerti dengan penolakan Dania terhadap niat baiknya dalam bentuk materi.
"Iya Kak Almeer, terima kasih."
"Sama-sama Dania, lebih baik sekarang kita ke ruangan Mama mu."
Dania mengangguk lalu keduanya meninggalkan tempat tersebut.
.....
Setibanya di depan rumah Mama Ningrum, Almeer langsung berpamitan karena harus kembali ke cafe sebelum closing. Tidak lupa Mama Ningrum, Papa Hamzah dan Dania mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada Almeer. Atas bantuan yang sangat berharga tersebut.
Dania meminta Mama ningrum untuk mengecek lemarinya, siapa tahu barang berharga milik Mama Ningrum ada yang hilang. Mengingat beberapa hari lalu saat dirinya pulang keadaan kamarnya sudah sangat berantakan. Tapi, tidak ada yang hilang.
"Dania...Dania...kamu itu lucu sekali. Mama sudah tidak memiliki apa pun lagi. Jadi tidak mungkin Mama kehilangan."
Papa pun ikut tersenyum. " Di kamar kami hanya ada pakaian saja."
Dania hanya tersenyum, ikut merasa lucu dengan apa yang mereka miliki saat ini.
Kemudian mereka masuk ke dalama kamar masing-masing untuk beristirahat.
Sedangkan di rumah Azka Narendra, pria itu telah kembali ke rumah setelah di bujuk oleh Barata. Hal yang wajar untuk menghadapi apa yang dialami cucu kesayangannya. Karena memang saat ini ada wanita yang sedang mengandung calon cicitnya.
Barata juga berjanji akan membantu Azka dalam mengatasi morning sickness nya. Terlebih Barata sudah sesumbar bisa membantu Azka menghilangkan kehamilan simpatik itu. Kalau sampai tidak berhasil, Azka boleh kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kapan kau akan mengusir wanita itu?." Barata dan Azka saat ini sudah berada di ruangan kerja Azka.
Azka diam saja, hanya menatap intens Barata yang dikenalnya sangat tegas.
"Kau masih mencintai wanita itu?." Tanya Barata lagi. "Tapi, menurut ku kau sudah tidak terlalu mencintainya, sebab kau bisa menduri wanita lain sampai berkali-kali karena kau sudah candu dan merasa nikmat terhadap tubuh wanita itu. Bahkan kau rela meninggalkan bibit kau yang paling premium di dalam rahim wanita tersebut." lanjut Barata mengemukakan pendapatnya. Supaya cucunya membuka mata hatinya untuk melihat dengan jelas siapa sosok Joanna dan Dania.
Barata akan mendatangi Dania setelah Azka dan Joanna selesai. Sebab, Barata tidak ingin mengganggu apalagi membebani kehamilan Dania dengan hubungan mereka.
Lagi-lagi Azka terdiam, Azka hanya menatap sang Kakek yang selalu menjadi matanya yang kedua karena matanya sudah tertutup dengan cintanya pada wanita yang bernama Joanna.
Azka mengusap kasar wajahnya, bangkit berdiri dan menatap fotonya bersama Joanna yang masih terpasang di sana.
"Kamu yang lebih dulu mengkhianati ku, Joanna. Dan sekarang kamu harus menanggung akibatnya." Gumam Azka sambil menurunkan bingkai foto mereka lalu meletakkan di bawah.
Barata menepuk pundak Azka cukup kencang tapi karena sayang.
"Kau harus segera mengakhirinya, katakan pada Inara dan Rusli serta Eva dan Darwin. Untuk urusan WO biar aku yang menghandle."
Azka mengangguk sambil masih menatap lekat wajah Joanna beberapa tahun lalu.
Azka sudah merasa bertenaga lagi setelah pukul satu siang. Dirinya langsung ke kampus, tujuannya siang ini bukan untuk belajar melainkan untuk menemui Joanna yang sejak tadi pagi di kampusnya. Tapi, yang dicarinya malah tidak ada di kamus. Sementara teman-teman tongkrongan Joanna ada di sana semua.
Teman-teman Joanna tahunya hubungan Radit dan Joanna hanya sebatas teman sharing untuk pelajaran kampus.
Tidak susah bagi Azka untuk menemukan di mana lokasi Joanna saat ini. Terlebih saat kekuatan uang dan jabatan yang berbicara.
Sebenarnya pun, Azka bisa dengan mudah mendapatkan semua bukti perselingkuhan Joanna dan Radit. Tapi, itu tidak dilakukan dirinya karena rasa cinta yang membabi buta hingga menutup kebenaran yang ada di depan mata.
Azka memandangi satu alamat yang diberikan oleh salah satu teman terdekat Joanna. Azka tahu di mana tempat itu berada.
Marah, kecewa, merasa menjadi orang yang paling bodoh dan goblok, pasti Azka merasakan itu semua saat ini. Hingga tangannya pun terkepal kuat dan sesekali memukul setir atau pun udara.
45 menit kemudian, Azka sudah sampai di alamat yang ditujunya. Azka langsung memasuki hotel tersebut dan tanpa bersusah-susah lagi, Azka sudah mengantongi di kamar nomor berapa saat ini Joanna dan Radit berada.
__ADS_1
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar yang diyakini tempat Joanna dan Radit atas perintah Azka dengan imbalan yang sangat besar tentunya.
Tok...Tok...Tok...
"Siapa?." Tanya seorang wanita dari dalam.
"Pelayan hotel, Nona."
Ceklek
Dengan pakaian yang super minim Joanna pintu kamarnya.
"Ada apa?."
"Anda makanan dan minuman untuk penghuni kamar ini." Pelayan hotel tersebut menunjukkan troli yang dipegangnya.
"Sayang, kamu pesan makanan?."
"Tidak, Jo." Seorang pria datang dari balik tubuh Joanna lalu tanpa malu mengecup leher Joanna.
"Radit, geli." Ucap Joanna sambil tertawa.
"Tapi, semua ini untuk penghuni kamar ini." Pelayan hotel menegaskannya lagi.
"Sudah lah sayang di terima saja. Mungkin dia orang yang baik dan pengertian di saat kita merasa lapar setelah olah raga siang sampai tiga ronde." Tanpa malu Radit mengungkapkan hal itu di depan pelayan hotel.
Joanna berhasil menyikut perut Radit dengan gemas.
"Baik lah kami ambil, sampai kan terima kasih kami pada orang itu."
"Baik Nona saya permisi." Pelayan hotel itu pergi dari sana.
Azka tersenyum puas setelah mendapatkan apa yang diinginkannya kemudian Azka pergi meninggalkan hotel tersebut.
__ADS_1
"Aku akan memberikan kejuatan untuk mu, Joanna." Gumam Azka saat sudah di dalam mobil. Sekarang tujuannya adalah mengunjungi cafe miliknya.