Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 6 Azka Narendra


__ADS_3

Azka melupakan perjalanannya untuk ke kampus setelah mendengar tuduhan menyakitkan tentang Joanna. Sebab Joanna yang dikenalnya selama ini sangat setia. Dan dirinya tidak pernah meragukan kesetiaan Joanna. Sehingga Azka pun gelap mata dan menyeret Dania masuk ke dalam apartemen mewah yang akan dihadiahkannya pada Joanna.


"Sekarang kau menuduh calon istri ku berkhianat?. Atas dasar apa kau mengatakan hal itu, hah?." Azka melempar tubuh Dania ke atas ranjang miliknya.


Dania segera bangun dan berdiri di depan Azka. "Kak Azka telah dibutakan oleh cinta jadi tidak bisa melihat keburukan Joanna!."


Bugh


Azka mendorong tubuh Dania ke atas ranjang dan sekarang dirinya pun berada di atas tubuh Dania.


"Joanna calon istri yang baik, aku lebih mengenalnya dari pada siapa pun."


"Coba buka sekali saja mata hati Kak Azka dan lihat siapa Joanna sebenarnya...Emmmpphhh."


Langsung Azka membungkam bibir Dania dengan bibirnya kala bibir itu terus saja berbicara yang buruk tentang Joanna.


Ciuman kasar itu dilayangkan Azka sebagai bentuk penolakan atas apa yang dikatakan oleh Dania.


"Emmmpphhh..." Dania berusaha berontak sekuat tenaga, melawan tenaga Azka yang sangat kuat. Sebab akal sehatnya sedang dikuasai oleh amarah yang membabi buta.


Dania merasakan bibir Azka yang kini berpindah menyusuri area lehernya cukup lembut, tidak kasar seperti waktu di awal. Tangan Azka pun sudah tidak bisa dikondisikan karena sudah meraba beberapa titik sensitif Dania. Melepaskan pakaian Dania dengan begitu mahir, hanya dengan menggunakan satu tangan saja.


"Jangan lakukan ini lagi pada ku, Kak Azka!. Aku mohon!." Dania tahu saat-saat seperti ini akan menuju pada kehancuran dirinya lagi.


Tanpa mempedulikan rengekan dan permohonan Dania, Azka langsung memasuki tubuh Dania dengan sangat memaksa. Sebab Dania masih bisa melawan dengan sisa tenaganya.


"Akkhhh..."


Desah Azka dan Dania bersamaan. Jika Dania mendesah karena menahan sakit pada inti tubuhnya, namun berbeda dengan Azka yang mendesah karena penyatuannya dengan Dania memiliki sensasi yang sangat luar biasa, meski ini untuk kali kedua.

__ADS_1


"Kak Azka pasti akan sangat menyesal karena sudah menghancurkan hidup ku dan keluarga ku yang tidak ada sangkut pautnya dengan Joanna." Isak Dania saat Azka mencapai kepuasan tertinggi dalam hubungan intim itu. Azka masih belum bangkit dari tubuh Dania yang berkeringat.


"Jangan pernah menyebut Joanna ku dengan mulut kotor mu itu!." Azka mencium kembali bibir Dania dengan sangat rakus yang dibarengi sebuah hisapan yang mampu meninggalkan jejak memar di area bibir bawah Dania.


Dania meraba bibirnya yang terasa bengkak lalu bangkit, memungut pakaiannya yang berserakan lalu dengan cepat memakainya kembali.


Mata tajam Azka menangkap ada sobekan pada kemeja Dania cukup besar dan itu ada di bagian dada Dania. Azka berjalan melewati Dania menuju walk in closet, dia mengambil salah satu koleksi kemeja putih kesayangan lalu melemparnya pada tubuh Dania.


"Pakai lah kemeja mahal dan bermerk itu untuk mengganti kemeja kau yang murahan!."


Tanpa membuka kemeja miliknya, Dania memakai kemeja pemberian dari Azka meski harus menelan rasa sakitnya. Kemudian pergi dari apartemen itu.


Azka menatap beberapa lembar kertas yang tergeletak di bawah ranjangnya, Azka meyakini jika itu milik Dania.


Senyum Azka terlihat sangat menyeramkan ketika melihat hutang yang dimiliki oleh keluarga Dania. Rasanya sangat mustahil kalau Dania dan keluarganya bisa melunasi hutang itu dalam waktu tiga bulan lagi.


.....


Tapi apa yang bisa Dania lakukan untuk menghentikan penderitaan mereka?, jika Azka saja tidak mempercayai apa yang dikatakannya. Dania pun tidak memiliki bukti apa pun saat ini, hanya berbekal dari pengakuan Radit saja.


Dania segera keluar kala Papa Hamzah memanggilnya karena ada ketiga sahabatnya main ke rumah.


"Papa sudah meminta mereka menunggu di ruang keluarga."


"Iya, Pa. Terima kasih." Papa Hamzah hanya mengangguk sambil mengusap pucuk kepala Dania lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.


Dania menuju ruang keluarga setelah Papa nya menutup pintu kamar.


"Kenapa kamu tidak sekolah?, kamu tidak sedang sakit kan?." Tanya Medina yang duduk satu bangku dengan Dania.

__ADS_1


Dania menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku baik-baik saja. Aku tadi habis mengurus sesuatu."


"Kami turun berduka atas apa yang menimpa toko bunga milik keluarga mu. Kenapa tidak memberitahu kami, Dania?. Kami ini sahabat mu yang akan membantu mu." Salma langsung memeluk Dania yang diikuti oleh Medina dan Fathia.


"Salma benar, kita adalah sahabat yang akan selalu membantu dan menemani di saat salah satu dari kita ada yang sedang kesusahan." Timpal Fathia sambil mengencangkan pelukannya.


"Terima kasih kalian sudah selalu ada untuk aku." Balas Dania sembari melepaskan pelukannya.


"Apa yang sekarang bisa kami bantu untuk mu dan keluarga mu?." Tanya Fathia dengan nada serius, tangan mereka saling bertaut untuk saling menguatkan satu sama lain.


Dania menatap intens ketiga sahabatnya, mereka begitu tulus dalam menjalani persahabatan ini. Tapi Dania merasa segan untuk mengatakan semua kesusahan yang dialaminya.


"Kalau pun nanti kami tidak bisa membantu sepenuhnya, tapi paling tidak kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama. Sehingga kamu tidak berat untuk memikul nya sendiri." Tegas Medina sangat meyakinkan Dania. Dukungan seperti ini yang sangat dirinya butuhkan, yang tidak didapatkan dari kedua kakaknya.


"Aku sedang membutuhkan uang. Kalau tidak mau rumah ini di sita oleh pihak bank." Dania sengaja menjeda ucapannya karena ragu untuk menyebutkan nominalnya.


"Berapa?." Tanya ketiga sahabatnya kompak.


Akhirnya Dania memberanikan diri untuk menyebut angka setelah di desak oleh para sahabatnya. "Kurang lebih 900jt."


Ketiga sahabatnya hanya diam tanpa ekskresi kaget yang berlebihan, karena mereka sudah dapat memperkirakan berapa jumlah uang yang dibutuhkan Dania dengan nilai toko bunga Dania dan rumah ini.


"Ini sangat mustahil kita miliki sebagai seorang pelajar, kalau pun meminta pada orang tua belum tentu mereka mau memberinya. Jadi sekarang kita yang harus mencari cara untuk mengumpulkan uang itu sebelum 3 bulan." Ucap Medina yang selalu memiliki pemikiran paling depan diantara ketiga sahabatnya yang lain.


"Tapi apa?." Sahut Salma.


"Iya, apa?. Aku juga tidak tahu." Fathia menimpali.


Dania merasa tidak enak hati sendiri saat melihat ketiga sahabatnya sibuk dan pusing memikirkan cara untuk dirinya mendapatkan uang.

__ADS_1


"Ok, kalau sekarang mungkin kita tidak bisa berpikir. Coba nanti kita pikirkan lagi saat sudah ada di rumah. Tapi mulai besok aku akan mengantar jemput mu, Dania." Putus Medina, dirinya pun tidak bisa berpikir jernih kalau sedang berkumpul seperti ini.


"Terima kasih untuk kepedulian kalian, aku akan mencoba mencarinya sendiri. Jadi kalian tidak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Aku sudah sangat senang dengan melihat dukungan kalian yang sangat luar biasa ini." Isak tangis Dania sambil memeluk ketiga sahabatnya.


__ADS_2