
Untuk pertama kalinya Dania menangis kencang dalam pelukan Azka, pria itu yang telah memeluk Dania terlebih dulu saat mereka sampai di apartemen milik dari ayah bayi yang ada di dalam perutnya. Dania tidak bisa menolak saat Azka membawanya ke apartemen, sebab dirinya pun tidak tahu mau pergi kemana supaya bisa menangis dengan sepuasnya.
Ada perasaan hangat yang masuk menyelinap dalam hati Azka, ada sebuah ketenangan yang dapat dirasakannya saat memeluk tubuh Dania, ada gairah dan hasrat yang bangkit kala berduaan. Tapi Azka masih bisa untuk mengontrolnya karena Azka bisa memahami apa yang saat ini dikhawatirkan oleh gadis muda itu.
Sebagai pria yang telah mengambil kesucian Dania dan telah beberapa kali menidurinya, Azka tidak menolak kehamilan Dania. Apalagi dirinya ikut merasakan dari kehamilan Dania. Tapi dirinya juga tidak menerimanya sebab ada Joanna yang sangat dicintainya yang akan menjadi istrinya.
Dania sudah tidak dapat berpikir apa pun lagi untuk sekarang ini. Masalahnya begitu berat dan dirinya tidak akan bisa berjalan sendiri dengan keadaan yang menimpanya. Dania butuh kedua orang tuannya namun yang menjadi pertanyaan sekarang, apa mereka sanggup dan mau menerima Dania yang hamil dalam usia muda tanpa adanya pasangan?.
Raut wajah kekecewaan kedua orang tuanya sudah terbayang di pelupuk mata Dania. Bagaimana mereka selalu mewanti-wanti dirinya untuk selalu menjaga diri. Sebab hal ini yang sangat ditakutkan oleh Mama Papa Dania.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi kesedihan mu?." Tanya Azka saat Dania sudah melepaskan diri dari pelukan Azka.
Dania menatap tajam pada Azka yang menatapnya dengan cara yang sangat berbeda.
"Kembalikan semuanya sehingga aku tidak perlu menderita seperti sekarang dan Kak Azka pun tidak perlu repot-repot membantu ku." Jawab Dania setelah duduk menghadap jendela yang tirai nya di buka.
Fokus Azka kini terbagi, antara kesedihan Dania dan dada Dania yang terlihat berisi dari arah samping, posisinya saat ini.
"Seharusnya sebelum Kak Azka menyakiti ku, Kak Azka selidiki dulu kasusnya seperti apa?, jangan main langsung percaya saja pada satu pihak." Lanjut Dania kembali menghapus air matanya.
Bukannya mendengar apa yang Dania katakan, Azka malah menatap tubuh Dania dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada yang tidak menarik dari tubuh Dania yang sudah di lihat dan dirasakannya.
"Kak Azka malah langsung menghancurkan hidup ku tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Apa yang Kak Azka lihat belum tentu itu yang terjadi pada Joanna." Isak Dania menutup wajahnya bantal sofa yang dipegangnya.
"Aku sangat percaya pada Joanna." Ucap Azka dengan suara tinggi.
Seketika juga Dania langsung bangkit, melempar bantal sofa itu kearah wajah Azka tapi Azka sempat menghindar. Jadi tidak mengenainya.
"KaK Azka tahu, mereka sudah lama menjalin hubungan di belakang, Kak Azka. Mereka sudah membohongi Kak Azka sampai habis-habisan. Dan Kak Azka mau tahu, siapa dalang di balik ini kejadian malam itu?."
__ADS_1
"Aku percaya pada Joanna."
"Ya, orang yang Kak Azka sangat percaya yang telah membalikkan keadaan ceritanya."
"Calon istri Kaka Azka tidak dilecehkan tapi mereka melakukannya karena ma...emmmpphh."
Karena tidak ingin mendengar yang jelek lagi tentang Joanna, akhirnya Azka membungkam bibir Dania dengan bibirnya.
Semakin liar dan lihai Azka bermain dengan bibir Dania yang sudah menjadi candunya. Dania sendiri tidak melawan atau menikmati apa yang dilakukan oleh Azka pada seluruh tubuhnya.
"Semakin Kak Azka menyakiti ku, semakin pahit kebenaran yang akan Kaka Azka temukan. Dan Kak Azka akan sangat menyesalinya." Ucap Dania lirih di saat Azka melepaskan ciumannya. Tapi, bibir itu sudah berpindah pada dada Dania yang sejak tadi menjadi targetnya.
"Aku tidak akan pernah menyesal karena sudah mempercayai calon istri ku." Ucap Azka di saat mengusap wajah Dania yang sudah bersemu merah. Azka melepaskannya tali penyangga dada yang semakin berisi, yang semakin membuatnya puas bermain di area sana.
Azka sudah terbuai dengan tubuh yang pertama kali memberinya kenikmatan, pengalaman pertamanya pada hubungan intim, rasa yang selalu ingin terus mengulanginya lagi dan lagi. Semua itu berasal dari rasa sakit hatinya pada Radit. Tapi, kini Azka sudah begitu candu pada sesosok tubuh Dania yang sangat memabukkan.
Dania kembali harus pasrah lagi di bawah tubuh kekar Azka, setelah tidak berhasil melawan tenaga Azka yang semakin kuat di tengah-tengah nafsunya yang bergelora.
Karena di dorong oleh rasa penasaran, ketiganya pun mendatangi rumah baru Dania. Tentu saja kedua orang tua Dania begitu terkejut, mendengar cerita dari Medina dan kedua sahabat Dania yang lain yang memperkuat keterangan Medina.
"Jadi kemana perginya Dania, Pa?." Tanya Mama Ningrum sambil memegang dadanya yang sudah terasa sesak.
"Papa sudah menghubungi Radit dan Rania. Tapi, Dania tidak ada ke tempat mereka." Jawab Papa Hamzah.
Papa Hamzah mencoba menghubungi Dania yang masih bisa tersambung tapi tidak ada yang menjawab.
"Apa yang terjadi pada mu, Nia?." Medina dan Salma mencoba menenangkan hati Mama Ningrum dengan memeluknya.
"Tidak biasanya Dania menghilang seperti ini." Ucap Mama Ningrum lagi sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Iya, Tante. Kami juga merasa heran. Makanya kami putuskan untuk datang ke sini dan memastikan keadaan Dania." Timpal Fathia.
Selang beberapa menit, di tengah-tengah kepanikan semua orang di rumah Dania. Ponsel Papa Hamzah berdering dan itu dari Dania.
Mama Ningrum langsung mengambil ponsel Papa Hamzah dan memberondong Dania dengan banyak pertanyaan setelah menjawab teleponnya dan menekan tanda spiker.
"Dania, kamu di mana?. Kamu baik-baik saja bukan?. Apa yang terjadi?. Kenapa bisa pergi dari sekolah tidak mengabari kami?. Kamu di mana?, biar Papa jemput sekarang!."
"Tidak, Ma. Maaf aku tidak mengabari kalian. Aku sedang ada di rumah Pak Rusli dan Ibu Inara, Ma. Karena ada yang harus aku kerjakan di sana dan itu ada hubungannya dengan beasiswa ku."
"Tapi kamu enggak apa-apa, Nia?."
"Tidak, Ma. Aku baik-baik saja. Pulang dari sini aku langsung ke tempat kerja ya, Ma. Sampai kan juga maaf ku pada Papa dan sahabat-sahabat ku."
"Iya, Nia. Mereka memakluminya."
"Tolong jangan membuat kami cemas, Nia. Hanya kamu yang peduli pada kami."
"Maaf kan Dania, Ma, Pa. Nanti-nanti Dania tidak akan lupa untuk mengabari kalian."
"Kamu hati-hati ya, Nia."
"Iya, Ma. Ahhh...."
Suara terakhir Dania pada sambungan telepon Papa Hamzah terdengar jelas di telinga semuanya.
Papa Hamzah dan Mama Ningrum saling lempar pandang, namun mereka tidak ada yang berani buka suara.
Apalagi ketiga sahabat-sahabatnya, sangat meyakini jika Dania sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi bersama siapa Dania saat ini?.