Azka Narendra

Azka Narendra
Bsb 48 Azka Narendra


__ADS_3

Setelah menjemput Dania dari toko bunga, Almeer mengajak Dania untuk menemui kedua orang tuanya. Setelah beberapa waktu dirinya dan Azka berbicara sangat penting tentang rencana pernikahan Almeer dan Dania.


Dania dapat merasakan tatapan tidak ramah kedua orang tua Almeer padanya setelah Almeer menceritakan latar belakang Dania tanpa ada yang ditutupi. Supaya kehamilan Dania yang sebentar lagi akan segera membesar tidak menjadi masalah bagi mereka untuk kedepannya.


"Apa Papa tidak salah dengar, Almeer?. Kenapa kau mau menikahi gadis yang sudah dihamili oleh Azka.?. Yang sudah jelas-jelas Azka mau bertanggung jawab. Ada apa dengan kau, Almeer?.Wanita lajang di luar sana banyak dan Papa sama Mama sudah memperkenalkan calonnya pada mu bukan?."


Dania semakin kencang meremas ujung kemejanya dengan wajah yang tertunduk. Mana ada yang mau menerima dirinya dengan masa lalu pahit yang akan membuat orang lain merasakan kepahitannya juga.


"Pa, aku sangat mencintai Dania. Aku bisa menerima anak Azka, itu tidak masalah bagi ku."


"Tapi itu sangat bermasalah bagi Mama Papa, Almeer!. Coba bayangkan bagaimana omongan orang di luar sana mengenai keluarga kita, didikan Mama Papa yang dianggap gagal oleh mereka semua." Mama ikut buka suara dengan suara yang pelan namun penuh dengan ketegasan.


"Sudahi lelucon itu dan jangan buang-buang waktu kami dengan pembicaraan yang tidak penting ini." Seru Papa hendak pergi dari sana.


"Dengan atau tanpa izin dari kalian, aku tetap akan menikahi Dania!."


"Baik, kalau begitu kembalikan detik ini juga uang yang kau gunakan untuk membeli rumah mewah itu!. Papa memberikannya karena untuk rumah masa depan kau bersama Salma. Salma lebih baik segalanya dari gadis yang sekarang ada di depan kami!."


"Pa..."


"Sudah Kak Almeer. Lebih baik Kak Almeer ikuti apa yang kedua orang tua Kak Almeer. Maaf, aku sudah membuat keributan."


Setelah membungkukkan sedikit tubuhnya pada kedua orang tua Almeer, Dania pergi dari sana. Apa yang dikatakan kedua orang tua Almeer sangat benar semua. Tidak ada yang bisa di lihat dari dirinya hanya lah sebuah keburukan.


"Dania!."

__ADS_1


"Biar kan dia pergi, Almeer!. Sekali saja kau kejar dia, Papa tidak akan memberikan perusahaan itu pada kau dan lebih baik Papa memberikannya pada panti asuhan!." Ancam Papa Almeer yang sanggup menghentikan langkah Almeer untuk mengejar Dania.


Kakinya terasa di belenggu oleh rantai kekuasaan sang Papa. Almeer hanya mampu melihat Dania pergi dari sana dengan langkah yang terburu-buru.


Malam sudah sangat larut ketika kepanikan terjadi di rumah Azka. Pasalnya Dania belum ada pulang ke rumah besar itu, sementara Almeer sudah mengabari Barata dan Inara kalau Dania sudah pulang dari jam tujuh tadi. Azka dan Rusli pun ikut berkumpul di sana setelah barata memberitahunya.


"Kemana perginya Dania?." Azka mengusap kasar wajahnya. Azka sudah ke kontrakan, ke cafe miliknya atau pun ke toko bunga Dania setelah Barata meminta dirinya mencari Dania ke tempat-tempat tersebut.


"Radit dan Rania ada di tempat teman ku, mereka lagi sibuk menyelesaikan catering. Jadi tidak mungkin juga Dania ke tempat itu." Ucap Barata.


"Di rumah sahabat-sahabatnya juga tidak, tadi aku sudah menghubungi Medina. Mereka pun membantu mencari Dania."Rusli ikut menimpali.


Azka menghubungi Almeer di depan Inara, Rusli dan Barata karena Almeer adalah orang terakhir yang bersama Dania. Semuanya sangat kaget dengan apa yang telah terjadi pada Dania atas penolakan kedua orang tua Almeer. Sampai-sampai Azka membanting ponselnya ke lantai sampai berserakkan.


"Pasti Dania sangat sedih sekarang." Gumam Inara lirih namun masih sanggup di dengar oleh yang lainnya.


Kepanikan tidak kalah heboh terjadi ketika Dania menyadari dirinya ada di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap gulita. Tidak ada pencahayaan sama sekali.


"Ini di mana?. Kenapa gelap sekali?. Siapa yang membawa ku sini?. Kenapa mereka membawa ku?."


Ingatan Dania kembali pada beberapa waktu lalu ketika dirinya turun dari angkutan umum dan berjalan kaki menuju rumah Azka. Tapi, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti disampingnya tanpa Dania tahu kalau sudah ada orang yang berdiri di belakang tubuhnya.


Dan, di sini lah Dania sekarang.


Dania meraba-raba sekelilingnya, tidak ada apa pun yang dapat membahayakan dirinya dan calon bayinya. Tapi sayang Dania juga tidak bisa menemukan tasnya. Berharap ada ponsel yang bisa membantunya. Namun sayang malah tidak ada. Dania berjalan perlahan menepi sampai menemukan dinding. Kemudian dirinya berjalan menyusuri dinding itu guna mencari pintu.

__ADS_1


Handle pintu pun sudah di dapat, sekuat tenaga Dania menggedor pintu tersebut sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Dengan harapan semoga saja ada orang yang bisa mendengarnya.


"Tolong!, keluarkan aku dari sini!. Ada orang di luar sana?. Tolong aku!, aku ada di dalam sani!." Teriak Dania kembali menggedor pintunya.


Hingga kurang lebih setengah jam Dania berteriak minta tolong sambil menggedor pintu tapi tidak menghasilkan apa-apa.


"Siapa sebenarnya mereka?. Tujuannya apa membawa ku sini?." Kembali Dania bertanya pada dirinya sendiri.


Dania duduk bersandar pada daun pintu, menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Kemudian meraba perutnya yang semakin menonjol. "Apa Daddy tahu kalau kita sedang dalam bahaya?."


Tanpa terasa air mata menetes. Mengingat kembali penolakan yang diberikannya pada Azka, eh malah dirinya juga di tolak oleh keluarga Almeer. Bukan penolakan kedua orang tuanya Almeer yang membuatnya sakit. Tapi, kenyataan hidup yang sangat menyakitkan yang membawanya dalam keadaan seperti ini. Bahkan Almeer sudah akan dijodohkan dengan Salma.


"Apa Salma sahabat ku?." Batin Dania.


Tentu saja Dania senang kalau itu benar, Salma dan Almeer sama-sama orang baik yang selalu ada untuk dirinya.


Dania kembali bangkit dan menempelkan daun telinganya pada pintu, dirinya seperti mendengar ada langkah kaki orang yang mendekati pintunya.


Dor....Dor...Dor...


"Tolong!, aku ada di dalam sini!. Tolong keluarkan aku. Aku haus, aku juga sangat lapar." Teriak Dania dengan kata-kata yang tiba-tiba muncul di dalam otaknya.


"Tolong aku, Pak...Bu...siapa pun yang berada di luar, tolong aku!. Aku haus!, perut ku lapar!, bayi ku minta makan!." Lagi-lagi Dania mengeluarkann kata-kata yang ada di dalam kepalanya.


Dania tersenyum senang kala terdengar suara kunci yang terbuka.

__ADS_1


Ceklek...


Dania langsung menutup mulut dengan telapak tangannya ketika matanya bersitatap dengan orang yang ada didepannya.


__ADS_2