
"Bagaimana bisa wajah mu jadi seperti ini?." Tanya Mama Ningrum saat berpapasan dengan anak sulungnya di ruang tengah.
Radit pulang ke rumah dalam keadaan babak belur, itu juga untung saja ada Almeer dan Shaka yang datang melerai Azka. Jika tidak, bisa dipastikan dirinya mungkin tidak akan pulang ke rumah itu lagi.
"Hanya perkelahian kecil saja, Ma." Jawab Radit tanpa mau memperlihatkan wajahnya pada Mama nya.
"Biar aku obati, ayo sini!." Rania datang menawarkan diri untuk mengobati Radit setelah menghabiskan makan malamnya.
"Aku ke kamar, Ma." Pamit Radit tanpa menunggu jawaban dari Mama nya, lalu masuk ke dalam kamarnya yang diikuti oleh Rania dari belakang.
Mama Ningrum hanya bisa melihat punggung kedua anaknya yang menghilang di balik pintu.
Semenjak kedua anak mereka masuk perguruan tinggi, Mama Ningrum dan Papa Hamzah semakin jauh dengan keduanya. Selain karena kesibukan mereka masing-masing, ada hal-hal yang tidak bisa mereka komunikasikan dengan baik.
Untuk bicara dari hati ke hati saja seakan ada tembok yang telah mereka bangun yang tidak bisa di tembus oleh Mama Ningrum dan Papa Hamzah.
"Kita sudah gagal mendidik anak-anak kita, Pa. Hanya Dania yang sangat dekat dengan kita." Ucap Mama Ningrum dengan mata yang berkaca-kaca dalam pelukan Papa Hamzah.
"Iya, hanya Dania yang mengerti dan menyayangi kita dengan tulus." Timpal Papa Hamzah.
Dania sampai di rumah saat semua orang sudah berada di dalam kamarnya. Dania langsung menuju kamar, lalu mandi kemudian mengganti dengan pakaian tidur.
Dania belum bisa memejamkan matanya saat pintu kamar ada yang mengetuknya dari luar. Dania langsung bangkit dan mendekati pintu, ternyata kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mama Papa mau bicara sama kamu, bisa?."
"Ayo masuk Ma, Pa. Kita bicara di dalam saja. Kebetulan aku juga belum mengantuk." Dania menuntun Mama Ningrum, Papa duduk di kursi sementara Dania dan Mama duduk di atas kasur.
"Dania, Papa dan Mama sudah siap kalau harus kehilangan rumah ini. Biar lah Radit dan Rania hidup mandiri di luar sana, asalkan kamu tetap tinggal bersama kami."
"Iya, Dania. Mama Papa sudah memikirkan ini baik-baik. Lebih baik kita hidup sederhana tapi tidak memiliki hutang pada siapa pun. Untung saja beberapa dari pelanggan kita tidak menuntut ganti rugi, walau pun ada beberapa pembeli baru yang harus kita kembalikan uangnya."
Mungkin memang ini jalan yang terbaik bagi mereka, untuk apa tinggal di rumah bagus itu kalau tidak ada ketenangan didalamnya.
"Besok Mama Papa akan ke bank untuk mengurus semuanya. Kamu tidak keberatan kan kalau kita harus tinggal di rumah kecil?."
__ADS_1
Dania menggeleng seraya memegangi kedua tangan Mama Ningrum. "Aku bisa tinggal di mana saja bersama Mama Papa."
Papa Hamzah memeluk kedua wanita yang sangat hebat dan kuat itu. Dirinya sangat menyesal tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan rumah yang penuh dengan kenangan.
Sedangkan di tempat lain, Azka langsung keluar dari rumah lagi setelah menentukan waktu yang pas bagi Azka dan Joanna untuk melangsungkan pernikahan. Didapatlah waktunya 3 bulan lagi, bertepatan dengan kelulusan Azka.
Sebenarnya Joanna dan Azka berharapnya bisa menikah dalam waktu satu atau dua Minggu lagi. Bukan dalam hitungan bulan seperti ini. Tapi, mereka berdua juga harus menghormati keputusan yang diambil oleh kedua orang tua mereka.
"Jadi kau sudah yakin dan tidak akan goyah lagi oleh wanita cantik dan seksi mana pun, selain Joanna?." Almeer mengajukan pertanyaan itu pada Azka saat mereka sudah sampai di apartemen.
Azka menyalakan sebatang rokok jika sedang berkumpul bersama kedua sahabatnya.
"Sekarang kalau tidak yakin, untuk apa Azka memukuli Radit sampai mau mati begit?. Untung saja ada kita berdua, coba kalau tidak ada, sudah tinggal nama saja tuh si Radit." Shaka menimpali.
Azka meniup asap rokok itu sampai membentuk sebuah bulatan berukuran sedang, dia begitu menikmatinya sehingga tidak menghiraukan apa yang dibicarakan oleh Almeer dan Shaka.
"Kau serius tidak ingin menyelidik Joanna dan Radit?. Kau tidak mendengar rumor yang sudah beredar?." Shaka menepuk pundak Azka pelan supaya bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya.
"Kau seperti Dania saja." Ucap Azka tanpa sadar.
Azka meletakkan puntung rokok di atas asbak.
"Wanita yang tidak penting, hanya saja dia juga mengatakan seperti yang kau katakan tadi. Tapi aku sudah menerima Joanna dengan segala kekurangannya jadi aku tidak mau mengungkit hal itu lagi. Beda cerita lagi, kalau sekarang Radit yang mencari masalah dengan ku atau Joanna." Jawab Azka yang membuat kedua sahabatnya saling bersitatap.
Azka memang sudah dibutakan oleh cintanya pada Joanna. Sampai-sampai mau menerima Joanna begitu saja tanpa mau menyelidikinya terlebih dulu.
.....
Pagi ini Dania sudah di panggil oleh pihak kampus yang akan memberinya beasiswa penuh.
Dania diminta untuk segera melengkapi data dirinya sebagai laporan pada pemilik kampus.
Setelah hampir satu jam lamanya Dania berada di ruang administrasi tersebut dan sudah selesai mengisi semua data pribadinya. Kini waktunya Dania untuk kembali ke sekolah dan melanjutkan pelajarannya.
Dania melewati koridor kampus yang cukup panjang sehingga di tengah-tengah ada pertigaan dan dirinya berpapasan dengan Adnan.
__ADS_1
"Kak Adnan."
"Dania, selamat ya atas beasiswanya. Aku tahu dari Pak Gupta, dosen yang membuat soal dan sekaligus memeriksa hasilnya." Adnan mengulurkan tangan dan Dania langsung menyambutnya.
"Terima kasih, Kak Adnan."
"Sekarang lagi apa di sini?."
"Tadi di minta untuk mengisi data pribadi tapi sekarang sudah selesai. Aku harus masuk ke kelas lagi." Pamit Dania.
"Ok, sekali lagi selamat ya."
"Terima kasih."
Dania hendak melangkah untuk melanjutkan lagi perjalanannya tapi kedua matanya menangkap sosok pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Pria itu pun berdiri dengan gagahnya, menatap tajam pada Dania yang sejak tadi menebar senyum pada Adnan. Dan pria itu juga mengerti kalau Adnan memiliki perasaan lebih terhadap Dania.
"Ada apa Dania?." Tanya Adnan menyentuh lengan Dania ketika Dania diam ditempatnya.
Dania hanya menggeleng sambil memperlihatkan senyum manisnya pada Adnan. "Tidak ada." Dania dengan langkah seribu segera meninggalkan tempat itu meski harus melewati Azka yang masih menatap tajam padanya.
"Kau ada masalah apa dengan Dania?." Tanya Adnan pada Azka saat Azka dan kedua sahabatnya mendekat.
"Ok, jadi anak SMA itu namanya, Dania?." Almeer menatap Azka dan Adnan bergantian.
Adnan mengangguk. "Iya." Sementara Azka segera pergi dari sana menuju kelas.
Almeer dan Shaka saling pandang kemudian mengejar Azka yang sudah jauh meninggalkan.
"Cantik, manis, menarik dan cukup seksi." Ucap Shaka setelah berada di dalam kelas.
"Siapa?." Tanya Almeer.
"Dania." Jawab Shaka sambil tersenyum kearah Azka.
__ADS_1