Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 35 Azka Narendra


__ADS_3

Papa Hamzah dan Mama Ningrum segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Papa Hamzah mengalami serangan jantung, sedangan Mama Ningrum mengalami sesak nafas setelah mendengar apa yang sedang menimpa putri bungsunya.


Kedua orang tua Dania tidak sanggup mendengar berita buruk tersebut hingga menjadikan kondisi kesehatan mereka melemah dan terjadilah demikian.


Hamil di saat masih duduk di bangku SMA, tanpa adanya yang bertanggung jawab terhadap kehamilannya, dikeluarkan oleh pihak sekolah dan kedua beasiswanya di cabut kembali. Apa yang sekarang bisa dibanggakan dari seorang anak yang bernama Dania?. Rasanya sungguh tidak ada.


Hanya keburukan saja yang melekat pada gadis muda itu. Tanpa ada yang bisa memahami dan menyelami perasaannya yang sudah dari beberapa bulan lalu. Tidak ada yang mengerti rasa sakit yang teramat dirasakannya, Dania hanya menyimpannya seorang diri.


Sekali pun ada Almeer, Dania tidak secara gamblang menceritakan kesedihannya. Dania masih menjaga hatinya untuk tidak mudah percaya dengan kebaikan orang lain, sebab ditakutkan akan berujung seperti Azka Narendra.


Air mata Dania tidak berhenti keluar dari mata indahnya ketika mendapatkan rentetan peristiwa yang sungguh menyesakkan dadanya. Hingga dirinya harus melihat kedua orang tuanya terbaring lemas di atas tempat tidur pasien.


Di saat Mama Ningrum membuka matanya, mata itu langsung dibanjiri cairan bening yang sudah berjatuhan. Rasa yang teramat sakit yang dirasakannya melihat anak yang dirawat dan dibesarkanya dengan cinta dan kasih sayang. Harus rusak oleh pria yang tidak bertanggung jawab.


Mama Ningrum menurunkan alat yang menutupi hidungnya supaya bisa berbicara pada Dania sebelum dirinya pergi. Bukannya tidak mau bertahan demi sang putri tercinta. Tapi, kematian seolah sudah datang menjemputnya lebih cepat.


"Da-nia, to-long ma-af kan Ma-ma Pa-pa ka-lau ka-mi su-dah ti-dak sang-gup la-gi me-ne-ma-ni mu ber-ja-lan me-na-pa-ki du-ri dan ba-ra a-pi. Ber-ta-han lah de-mi a-nak mu."


Dania menggeleng dengan air mata yang berderai sangat deras. Dania menggenggam tangan Mama Ningrum dengan sangat erat lalu diciuminya berulang kali. "Bertahan lah Ma, Pa." Ucap Dania begitu lirih di sela-sela isak tangisnya. Menatap wajah-wajah terkasih yang tersakiti karenanya.


Dania kembali menggelengkan kepalanya lagi sesaat setelah tangan Mama Ningrum tidak memberikan respon padanya.


Hanya dalam hitungan detik, detak jantung Papa Hamzah yang bekerja dan tertera di layar monitor menunjukkan arti dari sebuah kehidupan yang telah pergi dari sisinya tanpa adanya sepatah kata pun.


"Mama!...Papa!..."


Jerit histeris Dania menggema di ruangan itu, menyaksikan kedua orang terkasihnya pergi untuk selamanya. Tenaga medis pun berdatangan guna memastikan keadaan Mama Ningrum dan Papa Hamzah.


Dan dunia Dania menjadi gelap gulita ketika mereka menyepakati kalau kedua orang tua Dania sudah tidak ada lagi. Mereka sudah kembali pada sang pemilik hidup.


"Kau sudah sangat terlambat Azka untuk memohon ampun pada mereka. Karena ternyata Tuhan telah lebih dulu mengambilnya sebelum kau datang menemui mereka." Gumam Barata yang menyaksikan itu semuanya.


Dirinya pun sudah terlambat untuk menemui Dania dan membawa gadis itu masuk ke dalam keluarga besarnya. Karena pastinya gadis itu menyimpan kebencian atas diri Azka dan keluarganya.

__ADS_1


"Gadis yang sangat malang." Hatinya merasa pilu menyaksikan gadis itu harus kehilangan semuanya karena perbuatan cucu kesayangannya.


.....


Dua hari sudah sejak dikeluarkannya Dania dari sekolah dan sudah dua hari juga kepergian Mama dan Papa Dania.


Gadis itu masih berada di rumah yang terakhir mereka tempati bertiga. Dania mencoba bangkit, menata kepingan hati yang telah hancur oleh sebuah kesalahan yang tidak pernah dibuatnya.


Memberikan dirinya ruang dan waktu untuk bisa berdamai dengan keadaannya yang sekarang.Semuanya masih terasa gelap, cahayanya mungkin tidak akan pernah kembali terang lagi. Tapi, harapan itu harus ada, Dania sedang belajar memupuknya supaya dirinya bisa bangkit dan kembali berdiri di kedua kakinya.


Bersamaan dengan itu, Ketiga sahabatnya sangat syok atas kabar berita dari sebagian orang yang memberitahukan pada mereka. Mengenai kabar burung tentang Dania yang baru mereka ketahui.


Sangat menyesal, itu sudah pasti mereka rasakan. Sebagai seorang sahabat, mereka justru menjauh pergi di saat Dania membutuhkan mereka.


Pulang sekolah ketiganya memutuskan untuk mengunjungi rumah Dania tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Sebab ponselnya pun tidak aktif.


Sampai di depan rumah sederhana itu, ketiganya menatap bangunan yang menjadi tempat tinggal Dania yang kini hanya seorang diri.


Ketiga pria tampan itu memiliki kepentingan yang sama dengan mereka, ingin menghibur Dania yang telah kehilangan kedua orang tuanya.


Tapi, mungkin tidak dengan Azka. Mungkin saja Azka ingin memastikan Dania ikut mati atau tidak. Karena tujuan Azka hanyalah untuk menyakiti Dania.


Medina langsung menghampiri Azka yang berdiri di depan mobilnya dengan kaca mata hitam.


"Kau bukan pria yang bejat itu?." Tunjuk Medina tepat di depan hidung mancung Azka.


Sementara Azka hanya diam tanpa menggubrisnya. Pandangannya tetap pada bangunan rumah Dania.


"Kau akan membayar mahal atas penderitaan sahabat kami. Kesalahan kau sampai tidak termaafkan dan aku bersumpah kau akan menderita Azka Narendra!." Lanjut Medina menyumpahi pria tampan itu.


Lagi-lagi Azka hanya diam.


Medina pun akhirnya kembali pada kedua sahabatnya yang sudah berdiri di depan pintu. Almeer dan Adnan menghampiri mereka karena ingin tahu juga dengan keadaan Dania sekarang.

__ADS_1


Sedangkan Azka hanya berdiri ditempatnya dengan tatapan tidak lepas dari rumah itu.


Tok...Tok...


"Dania!." Panggil Medina cukup kencang.


Satu menit, tiga menit, lima menit pintu rumah itu masih tertutup rapat.


Medina kembali mencoba mengetuk pintu sambil memanggil Dania dengan suaranya yang nyaring.


Tok... "Dania!."


Tok... "Dania!."


Kali ini tidak sampai satu detik, pintu rumah itu terbuka lebar.


Seketika Azka terperanjat ketika dapat melihat wajah lelah dan sembab Dania dari tempatnya.


Tidak ada ekspresi apa pun yang ditunjukkan Dania pada mereka yang sudah berdiri di depan rumahnya.


"Kami boleh masuk?." Tanya Medina dengan perasaan was-was, takut Dania menolak karena hubungan terakhir mereka yang buruk.


"Ayo, silakan masuk!." Dania membuka lebar pintunya, mengajak semuanya masuk ke dalam rumah lalu mempersilakan mereka duduk.


"Dania, aku minta maaf." Ucap Salma lalu memeluk Dania sambil menangis.


"Tidak seharusnya aku menjauhi mu karena kamu menyimpan rahasia mu sendiri." Lanjut Salma lagi.


Fathia pun ikut memeluk Dania yang diam tanpa ekspresi. Sudah sangat lelah dirinya dengan air mata dan rasa sakit dihatinya.


"Aku juga minta maaf, Dania."


"Tolong jangan pernah ada yang berbicara apa pun lagi tenang semua yang telah terjadi. Aku sedang berusaha menerimanya." Balas Dania lirih sambil membalas pelukan Salma kemudian beralih pada Fathia dan Medina yang ikut bergabung memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2