
Saat di sekolah, Dania menjadi segan untuk meminta bantuan pada ketiga sahabatnya, mengingat dirinya dan Medina belum juga bertegur sapa lagi. Dania merasa jika Medina sedang menjaga jarak dengan dirinya.
Dania memendam semuanya sendiri tanpa bisa mendapatkan atau melakukan apa-apa. Dirinya hanya bisa melihat canda tawa ketiga sahabatnya.
Siang ini Dania lebih awal datang ke cafe. Dania harus segera mencari supaya secepatnya mendapatkan uang tersebut.
Berharap uang itu akan turun dari langit.
Dania yang sedang duduk termenung dengan wajah kusutnya di ruang ganti seketika berubah ceria dengan kehadiran Chaca yang membawa gorengan.
Justru kini timbul keberanian Dania bercerita pada Chaca yang menjadi teman satu shiftnya saat bekerja. Gadis itu baik dan sangat sederhana juga seperti dirinya. Ya, walau tidak semuanya Dania ceritakan pada Chaca.
"Aku lapar, Dania. Badan ku sampai gemetar."
"Memang kamu belum ada makan?."
Chaca menggeleng sambil tersenyum. "Beras di rumah ku habis, aku tidak sempat membelinya." Dengan lahapnya Chaca memakan gorengan-gorengan tersebut. Dania hanya tersenyum melihat Chaca yang kelaparan.
Sambil menikmati sisa-sisa gorengannya, Chaca mendengarkan dengan baik apa yang diceritakan oleh Chaca. Meski sangat tidak mungkin untuk meminjam uang dari teman kerja itu. Tapi, setidaknya dengan bercerita begini beban Dania sedikit berkurang. Walau tetap tidak tahu cara menemukan uang sebanyak itu.
"Ternyata hidup mu lebih berat dari pada aku, Dania. Aku jadi malu setiap aku mengeluh pada Tuhan."
Dania mengangguk mengiyakan.
"Iya, seharusnya kita selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan setiap hatinya." Lanjut Chaca sambil membuang bungkusan gorengan yang telah habis.
"Sangat setuju."
Tidak terasa obrolan mereka sudah berakhir setengah jam yang lalu, dikarenakan mereka harus mulai bekerja menggantikan teman mereka yang akan pulang.
Dania dan Chaca beserta pegawai yang lain, bahu membahu melayani customer yang datang membludak malam ini. Tapi, semuanya masih bisa dihandle dengan baik oleh mereka.
Di tengah-tengah kesibukan mereka di lantai satu, Chaha di minta Almeer untuk naik ke lantai 2.
Tok..."Pak Almeer." Panggil Chaca berbarengan dengan mengetuk pintu.
"Masuk, Cha." Almeer bangkit dan langsung meminta Chaca untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Tanpa adanya basa basi Almeer langsung saja menyampaikan maksud dan tujuannya memanggil Chaca.
Chaca menyimak setiap apa yang keluar dari mulut pria tampan itu. Tanpa sedikit pun mengintrupsinya. Mengenai Dania yang sedang membutuhkan banyak uang, karena dirinya tahu saat mencari Dania sampai ke ruangan ganti pakaian. Namun diurungkannya saat mendengar mereka bercerita serius.
Sampai pada permohonan Almeer yang ingin membantu Dania melalui dirinya.
__ADS_1
"Tapi, Pak Almeer. Dania tahu kalau saya juga hidup susah. Jadi mana mungkin Dania percaya kalau saya memiliki uang sebanyak itu."
Almeer menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia pun bingung harus memakai cara apa supaya uang itu bisa segara sampai ke tangan Dania sebelum tiga hari.
"Kau bilang saja punya tabungan yang tidak diketahui oleh siapa pun untuk masa depan mu. Bagaimana menurut mu?." Tanya Almeer.
Chaca tampak berpikir dengan apa yang disarankan oleh Almeer. Meski sedikit ragu, tapi Chaca harus bisa meyakinkan Dania bagaimana pun caranya.
"Iya, Pak Almeer. Baik saya akan mencobanya."
"Bagus."Almeer begitu semringah ketika Chaca menyangupinya.
Dan sebelum Chaca keluar ruangan Almeer, pria itu tidak lupa menyerahkan amplop pada Chaca sebagai ucapan terima kasih karena mau membantunya.
"Ini apa, Pak Almeer?." Chaca ragu untuk menerimanya.
"Terima ini sebagai ucapan terima kasih. Berhasil atau pun tidak, ini tetap milik mu." Almeer tetap menyodorkan itu pada Chaca dan itu setengah memaksa Chaca. Dan gadis manis itu mau menerimanya.
"Terima kasih, Pak Almeer. Saya terima."
Almeer mengangguk senang.
Kemudian Chaca keluar dari ruangan itu dan berniat saat cafe mulai sepi dirinya akan bicara pada Dania.
"Dania..."
"Apa?."
"Kamu percaya enggak kalau aku memiliki tabungan?."
"Percaya." Jawab Dania cepat.
"Aku pun punya tabungan tapi tidak banyak."
Chaca mengangguk. Lalu keduanya ke belakang membawa beberapa piring dan gelas yang kotor.
"Aku bisa memberikan mu pinjaman, Dania." Ucap Chaca saat di tempat mesin pencucian piring.
Dania diam tidak bergerak, antara harus percaya atau tidak dengan apa yang didengarnya.
"Dania, aku serius. Aku bisa meminjamkannya pada mu!." Ucap Chaca penuh penekanan.
"Cha, bukannya aku tidak percaya. Tapi kamu juga sangat membutuhkannya. Jadi pakai lah uang itu untuk mu."
__ADS_1
Chaca memegang tangan Dania lalu memintanya untuk berbicara serius.
"Kamu terima bantuan dari ku, ya?. Ini demi mama mu, supaya kamu bisa bertemu dengan Mama mu."
Dania menunduk lemas, air matanya mengalir deras. Ketika uang itu sudah ada di depan matanya, kini Dania harus memikirkan cara untuk melunasinya.
"Kamu tidak perlu memikirkan cara mengembalikannya, Dania. Terpenting sekarang kamu bisa menemui Mama mu, Dania." Chaca seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Dania.
Dania masih menunduk lesu. Tapi, apa yang dikatakan Chaca memang benar. Dirinya sangat ingin bertemu dengan sang Mama.
"Besok siang sebelum kamu ke rumah sakit, aku akan mengantarkannya pada mu."
Dania mengangguk menyetujuinya.
Setelah selesai, Dania dan Chaca kembali ke depan dan customer sudah mulai sepi dan yang lainnya pun terlihat sedikit lebih santai.
Sedangkan di rumah Azka, Joanna pulang di saat rumah sudah sepi. Para pelayan sudah tidak terlihat berkeliaran di dalam rumah besar itu.
Langkahnya penuh percaya diri menuju kamar pribadinya di rumah Azka. Tapi, langkahnya harus terhenti karean suara seseorang memanggil namanya.
"Joanna!."
"Kakek Barata?."
"Kau masih betah tinggal di rumah ini?."
Joanna turun lagi dan langsung menghampiri Barata.
"Aku akan menjadi Nyonya di rumah ini, jadi pastinya aku akan tinggal di sini bersama kalian dan tidak akan pernah pergi kemana pun."
"Seperti biasa kau selalu penuh percaya diri dan aku menyukainya. Tapi, mungkin kali ini kau harus bersiap untuk segera pergi dari rumah ini sebelum kau aku usir. Kau cari pria baru yang mau menampung wanita seperti kau."
Joanna tertawa terbahak sekaligus meremehkan lawan bicaranya.
"Tapi sayangnya, cucu kesayangan mu sangat mencintai ku dan tidak bisa hidup tanpa aku. Jadi Kakek Barata harus bersiap untuk membiasakan diri dengan keberadaan ku."
Barata tertawa, menertawakannya Joanna yang kelewat percaya diri sehingga tidak bisa melihat apa yang telah terjadi pada Azka.
"Kalau memamg seperti yang kau katakan, lalu kenapa saat ini ada perempuan lain yang sedang mengandung benih dari cucu ku?."
Deg...Deg...Deg...
"Tidak mungkin." Joanna menggelengkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1
"Ini pasti tidak benar, tidak mungkin Azka melakukan itu pada ku!." Joanna meneriaki Barata.