Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 52 Azka Narendra


__ADS_3

Radit dan Azka hanya berhasil mengamankan kedua teman Adnan, karena Adnan sudah kembali ke tempat penyekapan Dania sebelum Azka dan Radit sampai di sana. Namun sudah ada Medina yang mengikuti Adnan dari belakang. Berharap bisa tahu di mana Adnan menyembunyikan Dania.


Kedua orang teman Adnan diserahkan pada Almeer yang datang menyusul bersama Barata dan Rusli. Disertai dengan bebarapa polisi yang sudah disiapkan oleh Barata untuk membantu menangani kedua teman Adnan tersebut. Rencannya kedua orang tersebut akan dibawa ke kantor polisi untuk ditindaklanjuti.


"Apa sudah ada kabar dari Medina?." Tanya Radit sambil berdiri di depan mobil Azka.


Mendengar nama Medina disebut, Rusli langsung menghampiri Radit dan langsung mengajukan pertanyaan.


"Di mana Medina?."


Radit menatap Azka yang baru menyalakan batang rokoknya.


"Medina mengikuti Adnan." Jawab Radit.


"Aku tidak salah dengar?." Rusli memastikannya lagi.


"Aku aku tidak meminta Medina untuk mengikuti Adnan, tapi dia yang menawarkan dirinya." Balas Azka sembari mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


Rusli segera mendatangi mobil Almeer dan Barata. Dirinya tidak akan ikut kembali pulang ke rumah karena ingin memastikan keadaannya Medina baik-baik saja.


"Baik lah, biar kami yang pulang menemani Inara dan Rania." Barata kemudian meminta Almeer untuk segera melajukan mobilnya.


Mobil yang dikendarai Almeer pun melaju dengan cukup kencang, meninggalkan Azka, Radit dan Rusli yang menunggu kabar dari Medina.


Medina menemukan tempat Adnan, tapi Medina tidak tahu apa Dania ada di dalam sana atau tidak.


Banguan rumah mewah dan besar yang saat ini didatangi Adnan, Medina segera mengirimkan lokasinya pada Azka dan Radit sebelum dirinya masuk ke dalam karena tidak ada penjagaan di luar rumah mewah tersebut.


Medina juga memberitahukan Azka kalau dirinya tidak bisa masuk ke dalam rumah tersebut karena semua akses masuknya di kunci dan dirinya tidak bisa membukanya satu pun. Jadi dirinya hanya bersembunyi di tempat yang aman sambil menunggu Azka dan Radit datang.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya Azka dan Radit sampai juga. Namun ternyata bukan hanya mereka berdua saja, melainkan ada Rusli.

__ADS_1


"Kenapa kamu sampai membahayakan diri sendiri dengan datang ke tempat ini?." Rusli mendekati Medina karena dirinya begitu khawatir.


Medina memundurkan langkahnya dan mendekati Radit. Kemudian mengajak Radit untuk segera menolong Dania. "Ayo Kak Radit, jangan buang-buang waktu lagi."


Radit mengangguk tanda setuju. Tanpa buang-buang waktu lagi, Radit da Azka merusak pintu depan dan berhasil. Semuanya berpencar, mencari ke setiap kamar yang ada di rumah besar itu.


Di lantai satu tidak ada yang menemukan Dania. Lalu semuanya bergerak ke lantai 2, pikiran Azka sudah tidak karuan, banyak hal yang memenuhi kepalanya. Entah apa yang akan dilakukan pada Adnan kalau sampai Dania dan calon bayi mereka terluka.


"Tidak ada di lantai sini!." Seru Radit dari kamar yang paling ujung.


Azka segera menaiki anak tangga untuk bisa sampai ke lantai 3, jantung Azka semakin berpacu dengan sangat cepat. Ketika menemukan di lantai itu hanya ada satu kamar. Kemungkinannya Dania ada di dalam atau malah tidak ada siapa-siapa.


Brak...


Azka dan Radit mendobrak pintu hingga terbuka lebar. Sungguh pemandangan yang sangat melukai semuanya, di mana Dania tanpa sehelai benang pun berada di bawah tubuh Radit yang tanpa busana juga. Dengan air mata yang terus mengalir, yang lain juga ikut merasakan apa yang Dania rasakan saat ini.


Deg...Deg...Deg...


"Ini yang aku inginkan, Azka. Aku ingin Dania, Azka. Tidak masalah kalau di dalam sini..." Adnan menjeda ucapannya untuk mengecup perut Dania.


"Ada anak mu." Lanjut Adnan kemudian bangkit karena Radit akan menyerangnya.


Medina dengan cepat menutupi tubuh polos Dania dengan selimut lalu memeluknya dengan sangat erat. "Semuanya akan baik-baik saja, Dania."


"Kau jahanam, Adnan!. Biadab!." Teriak Radit.


Bugh


Azka dan Radit sama-sama menendang Adnan dengan sangat kuat hingga Adnan yang tanpa busana langsung tersungkur.


Adnan memegangi perutnya yang sangat sakit karena tendangan Azka yang sangat kencang di bagian itu.

__ADS_1


"Kalau pun aku harus mati di tangan kalian, itu tidak masalah. Karena baik kau atau pun Almeer atau pun pria mana pun di luar sana tidak akan ada yang mau menerima Dania karena ini." Meski dengan menahan rasa sakit dan darah yang keluar dari hidungnya cukup banyak.


Semuanya tercengang ketika sebuah rekaman memperlihatkan adegan panas antara Adnan dan Dania di atas ranjang sudah tersebar di internet.


Di sana terlihat jelas wajah keduanya yang sangat menikmati adegan demi adegan hingga mereka berdua sampai pada pelepasannya.


Azka sudah tidak mempedulikan itu lagi, Adnan harus mati ditanganya. Radit pun memikirkan yang sama, yaitu Adnan harus mati ditanyanya. Tidak peduli lagi kalau dirinya harus di hukum mati. Asalkan manusia jahat itu mati.


"Hentikan!." Rusli meminta Radit dan Azka untuk tidak melukai Adnan. Ketika Rusli melihat Azka dan Radit yang mengambil ancang-ancang untuk menyerang Adnan lagi.


"Dia harus mati di tangan ku, Pa!."


"Bajingan ini harus mati di tangan ku, Om."


Ucap Azka dan Radit bersamaan lalu mendekati Adnan dan keduanya langsung menendang Adnan di tempat yang sangat mematikan.


"Hentikan!."


Lagi-lagi Rusli menghentikan aksi mereka berdua tapi sayangnya Adnan sudah tidak bernyawa lagi.


"Lebih baik kalian mengurus Dania sekarang, biar Papa yang akan urus Adnan." Rusli langsung menghubungi seseorang untuk membantu menyelesaikan masalah besar ini.


Termasuk penyebaran video yang sedang beredar luas dan sudah banyak dilihat oleh banyak orang. Rusli tidak bisa main-main dengan masalah besar ini dan harus segera ditangani dengan cepat serta tepat.


Azka dan Radit saling pandang lalu Radit menarik tangan Azka yang akan mendekati Dania.


"Kalau pada akhirnya kau tidak bisa menerima adik ku, lebih baik mulai sekarang kau jauhi dia. Biar kan dia terbiasa tanpa kehadiran mu. Dan untuk kematian Adnan, biar aku yang menanggung semuanya." Ucap Radit kemudian melawati Azka dan langsung menggendong Dania. Membawanya pergi dari rumah itu.


"Apa cuma sebesar itu cinta mu pada Dania?. Sekarang gadis muda itu sangat rapuh, dia sedang membutuhkan laki-laki kuat, tangguh, bernyali besar untuk menghadapi setiap masalah dan bertanggung jawab atas deritanya.


"Aku tahu ini tidak akan pernah mudah bagi siapa pun, terlebih kau dan Dania. Kalau yang dikatakan Radit memang benar, lebih baik kau menjauh darinya." Lanjut Rusli sambil menepuk pundak Azka yang masih diam mamatung menatap Adnan yang sudah mati ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2