Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 40 Azka Narendra


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua Minggu saja Dania bekerja di toko bunga Dania. Untung saja pembeli itu tidak datang lagi ke toko untuk mengatai dirinya wanita murahan. Jadi Dania merasa tenang dan para pegawai yang lain pun menerima keberadaannya.


Azka pun sudah tidak menampakkan dirinya lagi di depan Dania. Pria itu menghilang seperti di telan bumi. Dania pun cukup santai menjalani hari serta hubungannya bersama Almeer.


Pulang pergi bekerja Dania selalu bersama Almeer sampai makan malam pun berdua, dan itu cukup membuat Dania mengerti sedikit demi sedikit tentang Almeer.


Tapi sayang, malam ini Almeer tidak makan malam di rumah Dania. Setelah mengantarkan Dania sampai depan rumah, Almeer langsung kembali ke kantor. Sebab di kantor ada sedikit masalah yang membutuhkan tenaga dan pikiran Almeer dan kalau itu sudah selesai Almeer ada acara makan malam bersama kolega perusahaan keluarganya.


Dania menunggu mobil Almeer sampai menghilang dari pandangannya, baru lah dirinya masuk ke dalam ke rumah. Tapi sebelum pintu rumah di tutup Dania, ada sebuah tangan kekar yang menahannya dari luar.


"Kak Radit!."


Dania membiarkan Radit masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tengah.


"Kamu harus menolong Rania!." Ucap Radit tergesa-gesa sambil melirik kearah pintu. Radit takut jika ada yang tiba-tiba masuk dan membawa dirinya.


Dania hanya mengerutkan keningnya, tiba-tiba saja Radit datang padanya dan meminta bantuan. Bantuan seperti apa yang bisa dilakukannya?. Pikir Dania.


"Ada apa Kak Radit?. Kak Rania kenapa?."


"Rania di tahan di kantor polisi."


"Tapi, kenapa Kak?."


"Ada yang menjebak Rania. Saat polisi datang Rania sedang dicekoki minuman keras dan obat-obatan terlarang. Jadi polisi meminta bayaran kalau tidak ingin masuk ke dalam penjara."


Dania menutup mulut dengan keduanya tangannya. Rasanya tidak percaya jika Rania melakukan itu. Tapi, apa tadi kata Radit. Ada yang menjebak Rania, siapa?. Dania sendiri juga tidak pernah tahu siapa saja teman-teman Rania. Yang dikenalnya hanya Adnan.


"Bantuan apa yang bisa aku berikan Kak?."


"Pinjamkan aku uang Dania!, aku akan menggantinya nanti." Ucap Radit memeksa.


"Aku tidak punya uang Kak, hutang ku saja yang 30 jt belum aku bayar pada Chaha. Sekarang aku harus pinjam sama siapa?." Dania selalu kebingungan jika berurusan dengan uang, sebab dirinya tidak memiliki pohon uang yang bisa kapan saja di petik.


"Itu juga nanti aku yang ganti, Dania!."

__ADS_1


"Kak Radit butuh uang berapa untuk membebaskan Kak Rania?."


"500 jt, itu yang di minta polisi pada ku."


"500 jt." Gumam Dania, dari mana lagi Dania akan mendapatkan uang sebanyak itu.


Kenapa sih kalian selalu datang dengan membawa masalah yang selalu ada hubungannya dengan uang?. Sudah tidak punya apa-apa, tapi masih di kejar soal uang.


"Mama Papa ada meninggalkan apa untuk mu atau untuk ku dan Rania?."


"Ya ampun Kak Radit, kenapa Kak Radit bisa bertanya seperti itu?. Kak Radit tahu sendiri bukan keadaan keuangan Mama dan Papa."


Dania dibuat lebih tidak percaya lagi dengan pertanyaan Radit barusan. Saat meninggal dunia pun kedua orang tua mereka, Radit dan Rania tidak ada yang datang untuk mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sekarang datang menanyakan harta yang ditinggalkan kedua orang tua mereka.


"Di mana pikiran Kak Radit?." Batin Dania.


"Kamu bisa meminjamnya pada yang lain, Dania!." Desak Radit.


Dania menggeleng lemah. "Tidak ada Kak!."


Sontak saja Radit naik pitam sehingga tanpa ampun lagi Radit mendorong kuat tubuh Dania yang ada didepannya, sampai Dania terjungkal bersama kursi yang sedang didudukinya.


"Itu bukan solusinya, Dania!. Itu mobil kesayangan kami dan tidak akan pernah kami jual sampai kapan pun. Kamu harus tahu itu!." Bentak Radit sambil menunjuk-nunjuk Dania.


"Awww..." Dania meringis kesaktian.


Dania meraba perutnya yang sedikit terasa sakit. Dan hal itu terlihat oleh Radit.


"Ya ampun Dania, maaf aku lupa kalau kamu sedang hamil." Radit membantu Dania bangkit dan memperhatikan perut Dania lalu ke bawah kakinya.


"Perut ku sakit Kak!." Tangan Dania memegangi perutnya hingga Dania sedikit membungkuk untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Dania ada darah!." Tunjuk Radit pada kedua paha Dania. Di mana darah segar sudah berceceran di atas lantai.


"Kak, tolong bawa aku ke rumah sakit!." Mohon Dania sampai memegang kuat tangan Radit.

__ADS_1


Radit menggeleng lemah sambil menepis tangan Dania."Tidak Dania, aku tidak bisa mengantar mu. Nanti kalau polisi sampai melihat ku, nanti aku akan ditangkap juga."


Tanpa berpikir panjang lagi setelah mendapatkan penolakan dari Radit, Dania menyeret paksa kedua kakinya keluar dari rumah guna untuk mencari pertolongan. Siapa tahu ada orang baik di luar sana yang mau membawa dirinya ke rumah sakit.


Dengan perut yang terasa semakin sakit, Dania sudah menyerah dan menghentikan langkahnya di pinggir jalan dengan keringat dan air mata.


"Kak Azka maaf aku kalau calon bayi kita tiada karena aku terlambat membawanya ke rumah sakit." Batin Dania sebelumnya dirinya ambruk ke atas aspal bertepatan dengan silau cahaya lampu mobil yang menyorot kearahnya.


Orang yang ada di dalam mobil pun keluar dan betapa terkejutnya saat melihat Dania sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah


"Bertahan lah Dania!." Bisik seseorang yang menggendong tubuh kecil Dania di dalam mobil, hingga pakaian rapi pria itu harus terkena darah yang berasal dari Dania.


Mobil pun sudah kembali melaju dengan kecepatan tinggi guna menyelamatkan Dania dan calon bayinya. Semoga saja keduanya bisa selamat dan baik-baik saja.


Tiba di rumah sakit Dania langsung mendapatkan perawatan secara intensif. Beberapa team medis sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.


"Azka kau tunggu di luar saja, biarkan team medis bekerja dengan lebih baik lagi tanpa ada kau di sini." Ucap Dokter Tantan.


"Kau harus menyelamatkan keduanya Dokter Tantan!." Teriak Azka saat pintu ruangan Dania tertutup.


Ya, Azka dan Dokter Tantan yang membawa Dania ke rumah sakit. Azka dan Dokter Tantan sama-sama menghadiri makan malam sesama pebisnis, di sana juga mereka bertemu dengan Almeer dan keluarganya.


Tapi, karena jamuan makan malamnya kurang menarik minat Azka dan Dokter Tantan, akhirnya keduanya keluar dari sana dan hendak pulang menuju apartemen Azka.


Azka merasa beruntung karena yang menemukan Dania adalah dirinya. Jadi dirinya bisa melihat wanita yang telah menentukan pilihannya pada Almeer. Dan sejak saat situ, Azka kembali merasakan morning sickness dan siang hari dirinya pergi ke kantor.


Hampir dua jam lamanya Azka menunggu di luar, ruangan Dania belum terbuka juga. Azka sangat berharap jika bayi mereka masih sehat dan kuat di dalam rahim Dania.


Sedetik kemudian pintu itu pun terbuka lebar, Dokter Tantan keluar bersama team medis yang telah membantunya. Dengan wajah datarnya Dokter Tantan menghampiri Azka.


"Dania sudah sadar, dia meminta kau masuk."


"Lalu bayi kami?."


"Kau tanya saja pada Dania. Dia sudah menunggu."

__ADS_1


__ADS_2