Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 19 Azka Narendra


__ADS_3

Azka yang semakin tersiksa di dalam kamarnya, berusaha mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Tapi tetap saja, Azka merasa lemas.


"Apa kata Dokter Tantan?. Kenapa kau masih belum sembuh juga?. Kursi CEO harus ada yang mengisi, Azka!."


"Aku sedang sensitif saja, Pa. Nanti siang aku bisa ke kantor."


"Iya, kau harus ke kantor. Ada banyak klien yang ingin bergabung dengan perusahaan kita. Dan Papa tidak bisa mengurusnya juga Sebab, ada kesibukan lain bersama Inara."


Azka hanya mengangguk sambil memegang erat ujung selimut.


Setelah mengatakan hal itu, Rusli pun keluar dari kamar Azka. Inara sudah menunggunya di dalam mobil. Sebab mereka mau ada pertemuannya dengan beberapa klien.


Azka yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur, terus memikirkan cara. Bagaimana dirinya bisa berdekatan dengan Dania tanpa ada orang lain yang curiga?. Hanya Dania yang bisa menolongnya keluar dari siksaan berat ini.


"Oh...Dania. Bagaimana pun kamu harus selalu berada di sisi ku?. Aku tidak mau tahu kamu harus selalu bersama ku." Gumam Azka meraih ponselnya di atas nakas. Kemudian menghubungi seseorang yang bisa membantunya mengatur satu posisi untuk Dania.


Sementara Dania yang sudah berada di ruangan Pak Gupta, mereka sudah dari lima belas menit yang lalu membahas semua soal ujian yang akan keluar tahun ini. Pak Gupta begitu senang dengan Dania yang sangat pintar dan cerdas.


"Saya bisa betah kalau terus ngobrol sama kamu, Dania." Pak Gupta memujinya.


Dania hanya tersenyum saja mendapatkan pujian tulus seperti itu. Sebab dari tadi, dirinya pun sudah berterima kasih puluhan kali atas pujian itu.


"Azka saja yang merupakan mahasiswa paling pintar di kampus, tidak sepintar kamu saat di ajak untuk membahas semuanya." Pak Gupta sampai membandingkannya dengan Azka.


"Saya juga masih harus banyak belajar, Pak."


"Pasti kamu akan menjadi orang yang sukses dan kalau kelak memilik anak, pasti anak itu akan sangat cerdas."


Dania menatap Pak Gupta yang menyinggung soal anak, tanpa sadar dirinya meraba perut yang di mana sudah ada calon anaknya kelak.


Tanpa terasa obrolan menarik antara Pak Gupta dan Dania harus selesai, sudah waktunya bagi Dania kembali ke kelas untuk melanjutkan belajar.


.....

__ADS_1


Hari sudah malam ketika Azka masih berkutat dengan rencananya membawa Dania ke rumah ini. Meski tadi siang dirinya sudah jauh merasa lebih baik dan hendak akan pergi ke kantor. Tapi, Rusli melarang Azka. Sebab saat makan malam nanti ada yang ingin mereka sampaikan.


Saat ini semua penghuni rumah Azka Narendra sudah berada di meja makan. Rusli meminta mereka untuk berkumpul lebih awal. Rusli juga sudah meminta Adnan untuk hadir di sana karena mereka akan menjadi satu keluarga.


"Mulai besok, aku dan Inara ada perjalanan bisnis bersama Eva dan Darwin. Kami tidak bisa memastikannya berapa lama, bisa cepat bisa juga lama. Tapi, kami akan pulang saat pernikahan kalian. Team WO yang akan mengurus semua pernikahan kalian, karena kami sibuk dengan pekerjaan." Tutur Rusli panjang lebar pada Azka, Adnan dan Joanna.


"Jadi selama aku tidak ada, Azka yang akan mengendalikan semua perusahaan. Yang akan di bantu oleh Adnan. Adnan bisa menjadi asisten atau menduduki posisi yang kosong di perusahaan. Dan untuk Joanna, kamu bisa mengurus semua keperluan Azka baik itu di rumah atau pun di kantor. " Lanjut Rusli lagi memberikan beberapa pesan penting untuk ketiga anak muda itu.


"Iya, Pa." Seperti biasa jawaban Azka selalu singkat dan padat.


"Iya, untuk Adnan dan Joana. Tolong kalian belajar bekerja dengan sungguh-sungguh, ini bekal untuk kalian juga. Kalau Azka sudah tidak perlu di ragukan lagi." Eva ikut menimpali dan memberikan penekan pada kedua anaknya.


"Om Rusli dan Mama tenang saja, aku akan mengurus Azka dengan baik. Itu sudah menjadi tugas ku dan aku sangat menyukainya."


"Iya, Om Rusli. Terima kasih atas kepercayaannya pada ku. Aku akan belajar dan bekerja dengan baik di perusahaan. Untuk Mama dan Papa tenang saja, aku tidak akan mempermalukan keluarga kita."


"Baik lah, aku senang mendengarnya. Semoga kalian bisa bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap amanah yang aku berikan."


"Iya Om." Jawab Joanna dan Adnan bersamaan. Sementara Azka sudah menemukan ide untuk membuat Dania berada di rumah ini setiap paginya.


Sementara itu di cafe, Dania sedang sibuk-sibuknya mengantarkan pesanan pada meja-meja yang sudah tertera di dalam pesanannya.


Dania sadar saat ini tubuhnya sedang membawa kehidupan lain di dalam perutnya. Tapi sungguh luar biasanya, Dania tidak merasa lelah atau capek seperti yang sudah dijelaskan oleh Dokter Tantan.


Justru Dania merasa seperti bukan wanita hamil pada umumnya, karena sebagian besar efek dari kehamilannya sudah di ambil alih oleh Azka.


Tidak ada sedikit pun niat Dania untuk tidak memberikan calon bayi itu kehidupan. Meski dia ada karena kesalahan dari pria yang bernama Azka Narendra, tapi Dania juga tidak bisa memungkiri kalau dia ada karena kehendak sang pencipta. Entah dengan maksud dan tujuan apa dia ada di antara dirinya dan Azka?. Walau pun Azka sudah berujar akan tetap menikahi Joanna.


"Kenapa kamu bengong?." Chaca menepuk pundak Dania, sampai Dania yang sedang bengong pun harus kaget dan langsung menoleh kearah Chaca.


"Tidak." Dania menggeleng sambil merapikan seragamnya.


"Ada pesanan lagi?." Tanya Dania melihat meja orderan.

__ADS_1


"Enggak ada, sudah di antar Edo."


"Ok. Kita bisa santai sebentar." Dania tertawa sedikit lega.


Namun tawa Dania seketika menghilang ketika Azka datang bersama Joanna dan langsung menaiki tangga menuju ke lantai 2.


"Lebih baik kita bekerja lagi." Ucap Dania tapi hanya baru beberapa langkah, Almeer sudah memanggilnya dari anak tangga.


"Dania!."


Dengan langkah kurang semangat Dania menghampirinya.


"Iya, Pak Almeer."


"Ke ruangan ku sekarang!." Setelan mengatakan itu, Almeer balik badan dan langsung menghilang di lantai 2.


"Ada apa?." Chaca melongo kearah Dania.


"Entah lah." Dania mengangkat bahunya tinggi-tinggi lalu menaiki tangga menuju lantai 2.


Tok...Tok... Tok....


"Permisi, Pak Almeer."


"Iya, Dania. Ayo masuk!."


Ceklek


Dania mendorong pintu dan wajah pertama yang dilihatnya ada Azka. Tapi, Dania berusaha untuk bersikap santai dan tidak mempedulikan keberadaan Azka dan Joanna.


"Ada apa, Pak Almeer?." Tanya Dania karena Almeer tidak kunjung buka suara.


Lalu Almeer menatap Azka dan membiarkan Azka yang berbicara pada Dania.

__ADS_1


Azka berdiri dan menghampiri Dania yang berdiri tidak jauh dari pintu.


"Untuk sementara waktu, kau akan bekerja menjadi asisten pribadi ku. Setiap pagi kau akan datang ke rumah ku dan mengurus semua keperluan ku baik itu di rumah atau di kantor." Ucap Azka menjelaskan pada Dania.


__ADS_2