
Azka mendatangi orang yang dicurigainya telah mengirimkan pesan itu pada Dania, setelah mendapatkan info akurat dari salah satu teman Rusli yang paham untuk melacak no tersebut.
Azka sungguh dibuat terkejut dengan apa yang telah dilihatnya saat sampai di depan kamar hotel yang sedikit terbuka, Reza dan Christin adalah orang terdekat Joanna yang bersekongkol untuk kembali menghancurkan dirinya dan Dania.
"Kau sudah menyebarkan apa yang aku perintahkan pada semua murid yang sekolah di sana?." Tanya Joanna sambil membakar batang rokoknya.
Wanita itu ingin melihat Dania sampai hancur sehancur-hancurnya. Baru lah dirinya akan merasa puas dan bisa kembali pada Azka.
"Sudah, besok gadis cantik itu tidak akan memiliki wajah lagi saat tiba di sekolah. Kau bisa tertawa sepuasnya." Balas Reza meneguk minumannya.
"Azka memang sulit untuk didekati, tapi mungkin dia akan luluh kalau kau yang mendekati lagi." Christin ikut buka suara.
"Iya, Azka biar menjadi urusan ku. Asalkan kau atur saja waktu ku untuk bertemu Azka." Dengan penuh percaya diri Joanna mengatakan itu.
"Ok, Jo."
Sebenarnya hanya orang yang berkepentingan pada Azka dan Dania yang dapat mengakses kembali semua yang telah dihapus oleh sahabat kakeknya. Modus mereka tidak lain karena sakit hati pada dirinya dan Dania.
"Kau salah kalau kembali untuk menghancurkan kami. Karena sebelum kami hancur, kami yang akan menghancurkan mu."
Azka tidak pernah menyangka jika wanita yang pernah sangat dicintainya bisa sadis dan sangat jahat seperti ini. Bukannya memperbaiki diri atas kesalahan yang telah dilakukannya, ini malah semakin nekat dan jahat.
Azka tidak jadi menemui Reza, untung saja dirinya sudah mengetahui rencana jahat mereka. Jadi Azka bisa mengantisipasi untuk dirinya dan Dania.
Setelah melewati hampir 30 menit perjalanan, Azka sudah sampai di rumah dan langsung meminta Dokter Tantan masuk ke dalam ruang kerjanya. Membiarkan Dania yang ditemani oleh Rania melakukan panggilan video bersama bayi mereka dan Inara serta Rusli dan Barata.
"Ada apa?."
Azka menceritakan apa yang baru diketahuinya beberapa saat lalu pada Dokter Tantan. Dan Azka meminta bantuan pada Dokter tampan itu untuk selalu menjaga Dania dan Rania selama Rusli dan Barata masih di Kanada. Dan untuk Radit serta Medina, Azka sudah mempercayakan pada Dokter Levi dan Gatot.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan pada mereka semua?."
"Aku ingin membawa mereka kehadapan Radit dan Medina, mereka akan aku buat hancur di depan mata Radit dan Medina. Karena Radit dan Medina yang paling menderita karena ulah mereka."
"Kau akan bergerak sendiri?."
"Untuk Joanna, iya. Tapi Eva dan Darwin aku pasti membutuhkan bantuan Papa dan Kakek ku."
Dokter Tantan mengangguk mengiyakan. Dia mengerti dengan kesakitan yang dirasakan Azka.
__ADS_1
Malam ini Dokter Tantan menempati salah satu kamar yang ada di sana, melepas semua penat atas aktivitas satu hari full yang dijalaninya.
"Rania..." Gumam Dokter Tantan sebelum memejamkan matanya.
Sementara itu di kamar yang lain, Azka sudah melarang Dania untuk pergi ke sekolah. Namun dirinya tetap akan berangkat kuliah.
"Apa ini ada hubungannya dengan yang tadi?." Wajah Dania begitu sendu sambil bergelayut manja pada dada bidang suaminya.
Azka mengangguk sambil merapikan rambut Dania lalu mengusap-usap lembut lengannya.
"Ada oknum yang ingin menghancurkan kita."
"Siapa?."
Azka mencium bibir Dania lalu menaruh wajah pada dada istrinya yang masih membengkak.
"Sepertinya orang di sekolah baik-baik, tidak ada yang mencurigakan." Dania mengusap rambut kepala Azka.
"Iya, sayang. Hanya orang yang iri dengan kebahagiaan kita." Radit kembali mendaratkan sebuah kecupan singkat pada leher istrinya.
"Oh iya Kak, kalau aku sudah tidak boleh sekolah. Apa aku boleh ke rumah sakit untuk menemui Kak Radit dan Medina?."
Meski Dania masih belum mendapatkan informasi yang jelas tapi Dania percaya pada suaminya kalau Azka akan mengupayakan terbaik untuk mereka.
Pagi-pagi sekali Rania dan Dokter Tantan sudah bangun, keduanya sudah rapi untuk memulai aktivitasnya hari ini. Saat ini mereka sudah ada di meja makan, ditemani secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh Rania.
Banyak perubahan baik dari kakak Dania, walau dia tinggal di rumah mewah Azka. Dia tidak pernah sekali pun meminta sesuatu pada pelayan. Semuanya dia kerjakan sendiri. Sudah sangat bersyukur ada keluarga dari suami adiknya yang mau menampung dan memberikan perlindungan pada dirinya.
Begitu juga saat bekerja di Butik Inara, dia benar-benar bekerja dan menggunakan uang gajinya untuk membeli semua keperluan hidupnya. Rania ingin menjadi orang yang lebih baik lagi untuk dirinya sendiri.
"Teh buatan mu ternyata sangat enak." Puji Dokter Tantan pada Rania sambil menghabiskannya.
"Terima kasih, Dokter. Padahal sama saja." Rania tidak berani menatap mata pria yang berprofesi Dokter itu.
"Jalan jam berapa ke Butik?." Dokter Tantan dan Rania sama-sama melihat jam pada tangan masing-masing.
"Sepuluh menit lagi Dokter."
Dari arah atas Azka dan Dania baru turun dan langsung bergabung dengan mereka dan mulai sarapan. Dania dan Azka sudah siap untuk melakukan apa yang menjadi rencana mereka hari ini.
__ADS_1
Selesai sarapan, keempat orang tersebut berpisah sesuai dengan tujuan masing-masing.
Dania berada di dalam mobil Dokter Tantan, bersamaan dengan itu Salma dan Fathia pun sedang menuju rumah sakit demi melihat keadaan Medina.
"Kakak mu memang sangat irit bicara ya?."
"Kak Rania?."
"Iya."
"Dari dulu memang seperti itu. Kak Rania sedikit jutek apalagi pada sesuatu yang tidak disukainya."
Dokter Tantan tersenyum dan sekilas melirik Dania.
"Bagaimana kalau aku mendekatinya?."
"Dokter serius?."
Dokter Tantan mengangguk dan Dania melihat kalau Dokter Tantan tidak sedang berbohong.
Karena asyik mengobrol sampai-sampai Dania baru menyadari kalau dirinya sudah sampai dan ditunggu oleh kedua sahabatnya yang lain.
"Dania..."
"Fathia....Salma..."
Ketiganya berpelukan cukup lama dan sangat erat, kemudian mereka menuju ruang isolasi Radit dan Medina.
Medina tetap tegar saat kedatangan tiga sahabatnya, tidak ada air mata atau pun wajah kesedihan yang ditunjukkan pada mereka. Padahal jauh di lubuk hatinya, Medina sangat hancur dan rapuh.
"Hai Medina, sahabat kami yang paling kuat." Sapa Dania lalu ketiganya berada di sisi kanan Medina.
Mereka bertiga pun tidak ada yang menagis di depen Medina. Mereka sangat tahu kalau Medina tidak pernah ingin dikasihani oleh siapa pun.
"Aku sangat senang kalian bisa datang dan menjenguk ku." Balas Medina sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Dania!." Seru Radit yang baru membuka matanya.
Dania segara mendekat kearah Radit setelah Medina mempersilakan dirinya untuk menemui kakaknya yang terbaring disebelahnya.
__ADS_1
Barulah air mara Dania menetes di depan kakak laki-lakinya.