
"Dania adalah istriku!, ibu dari anakku!, nyonya perusahaan ini sekaligus pemiliknya!. Sekarang kalian keluar!, aku tidak mau bekerja sama dengan mereka yang telah merendahkan istriku!." Tegas sekali Azka mengatakan hal tersebut dari arah pintu yang terbuka.
"Kak Azka?."
"Pak Azka Narendra?." Kekagetan mereka tunjukkan sambil menatap Dania yang bersikap biasa. Tidak ada kemarahan atau kebencian dalam wajah cantik wanita itu.
"Perusahaan kami tidak pernah curang, apalagi terhadap perusahaan kecil seperti perusahaan yang kalian kelola. Kalaupun ada kecurangan, itu pasti berasal dari perusahaan kalian sendiri." Ucap Azka lagi sambil berdiri di belakang istrinya.
"Maafkan atas kelancang kami Pak Azka, Ibu Dania. Kami mohon jangan batalkan kontrak kerjasama kita. Kami akan mencari tahu di perusahaan kami, siapa yang sudah bermain curang." Merry yang kembali bersuara, menyampaikan permohonan maaf atas nama pribadi, mereka bertiga dan atas nama perusahaannya.
Bukan kenapa Merry melakukan hal tersebut, tentu saja Merry tidak ingin kehilangan kontrak kerjasama dengan perusahaan besar milik Azka.
Yang nyatanya sudah banyak memberikan keuntungan meski tidak sebesar dengan yang dijanjikan. Yang menurut Dania, adanya kecurangan di dalam perusahaan mereka.
"Kak, ini hanya kesalahpahaman saja, jadi tidak harus sampai memutus kerjasama yang sudah terjalin." Dania memberikan masukkan pada suaminya. Lebih-lebih Dania tidak ingin hanya karena dirinya mereka jadi kesusahan. "Nanti tolong kabari kami, kalau Ibu Merry sudah menemukan siapa yang sudah mencurangi kalian. Supaya lebih jelas dan tidak ada kesalahpaham lagi." Lanjut Dania pada Merry.
"Baik Ibu Dania, terima kasih banyak." Merry begitu bersyukur karena Dania ternyata sangat baik dan lembut. Sehingga CEO perusahaan itu mau mendengarkan apa kata istrinya.
Dirasa urusan mereka sudah selesai, ketiga orang itu berpamitan pada Dania dan Azka. Beribu kali mereka menyampaikan permohonan maaf pada keduanya terkait kejadian tadi. Untung saja tidak sampai merugikan pihak mereka.
"Ada lagi yang mereka katakan atau lakukan padamu, sayang?." Azka kembali bertanya setelah sampai di apartemen. Mereka kembali ke rumah bersamaan dengan Fathia yang berangkat ke kampus. Tidak ada pekerjaan penting lagi yang mengharuskan Azka dan Dania berada di kantor.
"Tidak ada Kak." Jawab Dania sambil mengajak si kecil Zayyid untuk rebahan di atas tempat tidur.
"Oh iya sayang, aku mengundang Dokter Tantan dan Dokter Levi makan malam di sini. Mungkin sebentar lagu mereka sampai." Azka kembali membuka pintu kamar mandi yang telah ditutupnya, karena lupa memberitahunya.
"Iya, Kak." Jawab Dania sambil tersenyum manis pada suaminya lalu kembali pada Zayyid yang memegang rambut bagian depan Dania. Karena Azka sendiri sudah masuk lagi ke kamar mandi.
Hanya 30 menit Azka berada di kamar mandi, kini pria tampan itu sudah rapi dengan pakaian santai dan bersiap menerima tamu-tamunya. Namun Dania malah ikut tertidur bersama Zayyid, tapi Azka sangat mengerti dengan kelelahan sang istri. Dia justru mengabadikan momen tersebut dengan ponsel canggihnya.
"Dasar memang kamu cantik sayang, mau difoto bagaimana pun tetap sangat cantik." Puji Azka sambil menatap wajah cantik istrinya yang semakin terlelap. Lalu mengecup bibirnya sekilas sebelum membuka pintu untuk tamu yang sudah meneken bel apartemen.
__ADS_1
Benar saja, mereka sudah datang bersamaan. Bahkan berpasangan, Dokter Levi membawa Fathia dan Dokter Tantan membawa Rania.
Azka sebagai tuan rumah, menyambut dan mempersilakan mereka semua untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Dokter Levi dan Dokter Tantan membantu Azka menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka semua. Membiarkan mereka yang melakukan, karena ajakan dari sang tuan rumah.
Para pria-pria tampan itu tidak masalah berada di dapur, karena pada dasarnya mereka sudah terbiasa melayani diri mereka masing-masing. Jadi bukan hal aneh lagi bagi mereka.
"Aku tidak melihat Dania dan Zayyid, di mana mereka?." Tanya Dokter Tantan sambil menyiapkan beberapa gelas dan piring.
"Mereka tidur. Nanti saja aku bangunkan setelah semua makanan sudah siap." Jawab Azka.
"Pantas saja mereka tidak ikut menyambut kita." Sahut Dokter Levi.
"Siapa diantara kalian yang akan cepat berganti status?." Tanya Azka bertanya pada keduanya.
Dokter Levi dan Dokter Tantan hanya saling melempar pandang, karena dari mereka sama-sama masih jauh perjalanan menuju kearah sana. Sudah syukur mau diajak pergi juga malam ini, itu pun karena ada nama Dania dan Zayyid. Coba kalau tidak ada, sudah bisa dipastikan kalau mereka tidak akan mau.
"Sepertinya aku masih lama." Jawab mereka lagi secara bersamaan sehingga mengundang gelak tawa mereka bertiga.
"Kisah cinta kalian tidak semulus pekerjaan dan isi rekening kalian, miris memang." Ejek Azka pada keduanya.
"Begitulah." Balas keduanya lagi.
Sedangkan di sofa, Rania dan Fathia berbicara seperlunya saja. Karena memang Rania yang lebih diam, hanya sesekali saja berbicara.
"Kak Rania sudah jadian sama Dokter Tantan?." Tanya Fathia memberanikan diri bertanya, karena bosan juga kalau hanya diam saja.
"Tidak." Jawab Rania singkat.
Fathia sedikit kesal pada Rania yang irit bicara, padahal dia sedang membutuhkan teman untuk berbicara.
__ADS_1
"Dokter Tantan tampan tahu Kak. Kak Rania sudah punya pacar makanya tidak mau sama Dokter Tantan?."
Rania cukup menggeleng untuk menjawab pertanyaan Fathia.
"Kak, kenapa irit sekali bicaranya?." Akhirnya Fathia mengeluarkan unek-uneknya pada Rania. Namun Rania hanya tersenyum saja.
Malam pun sebentar lagi akan dimulai, barulah Azka membangunkannya istrinya.
"Sayang, bangun." Azka mencium bibir Dania yang terbuka.
"Kak, jam berapa sekarang?. Mereka sudah datang?." Dania membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya lampu dikamarnya.
"Sudah sayang, dari tadi. Kamu sekarang mandi dan berdandan yang cantik untuk suamimu ini." Lagi-lagi Azka mengecupnya.
"Makanannya bagaimana Kak?."
"Sudah siap sayang. Kami bertiga yang memasak untuk makan malam kita."
"Yah, kenapa Kak Azka tidak membangunkan aku. Aku jadi tidak enak hati." Ucap Dania memang tidak enak hati pada suaminya. Tapi, Dania benar-benar sangat lelah sehingga ketiduran bersama Zayyid.
"Sudah sayang tidak apa-apa. Sekarang kamu mandi ya." Azka menggendong tubuh Dania lalu membawanya ke kamar mandi.
"Mau aku bantu sayang?." Dengan sengaja Azka meletakkan tangannya pada pangkal paha Dania dan sudah mulai menurunkan kain segitiga itu.
"Kak, tunggu di luar saja." Tolak Dania sambil merapatkan kedua kakinya setelah kain itu berhasil dilepaskan.
"Baiklah sayang, setelah mereka pulang, aku akan memakanmu." Azka segera keluar dan menutup pintunya. Azka mendekati Zayyid dan memastikan anak itu tidak kehausan ataupun tidak nyaman pada popoknya.
Dania sudah selesai dan bersiap untuk keluar menemui mereka sambil menggendong Zayyid yang ternyata bangun saat Dania akan keluar.
"Zayyid sayang..." Fathia dan Dokter Levi sangat kompak dalam menyambut anak kecil itu.
__ADS_1