
"Kak..." Suara khas Dania semakin membuat Azka tidak mau berhenti menyentuh apa yang ingin disentuhnya.
Azka tidak ingin mendengar penolakan Dania, yang hanya ingin didengarnya adalah suara desah Dania yang memenuhi ruang apartemennya.
Dania sudah pasrah jika Azka akan memasuki dirinya lagi, sebab saat ini Dania sangat menginginkannya.
"Kak...ah..."
"Daniaaa...."
Azka benar-benar memasuki inti tubuh Dania dengan segenap perasaannya yang ada. Tidak ada pemaksaan di sana meski awalnya Dania sempat menolak dirinya. Tapi, karena kegigihannya dalam membangkit hasrat dan gairah Dania. Maka Dania bisa menerima penyatuan kali ini.
Azka tersenyum menatap wajah gadis cantik yang berada di bawah kendalinya sambil menahan laju geraknya. Azka ingin melihat respon Dania, apa Dania akan tetap diam atau akan merespon setiap sentuhan dan gerakkannya?.
"Kak, kenapa menatap wajah ku?." Dania bersembunyi di bawah dada bidang Azka yang sudah dipenuhi oleh keringat.
"Kamu sangat cantik." Puji Azka tidak berlebihan. Karena memang Dania sangat cantik, terlebih mereka bercinta karena sama-sama menginginkannya.
"Kak..."
"Apa?."
"Kenapa diam saja, Kak?. Bukannya kalau sudah di dalam itu Kak Azka suka bergerak keluar masuk ya?. Tapi, ini kenapa diam saja?." Dania merasa heran karena tidak ada pergerakan yang seperti biasanya kalau Azka sedang memaksanya.
"Apa gerakan seperti ini yang kamu maksud?." Azka menggerakkan panggulnya naik turun, dengan malu-malu Dania mengangguk.
Tidak berlama-lama lagi Azka bergerak perlahan di atas tubuh Dania karena ada bayi mereka di dalam sana. Tapi, tidak mengurangi rasa nikmat yang dapat mereka rasakan.
Sedangkan di tempat berbeda, lebih tepatnya di apartemen mewah yang di huni oleh Medina dan Om Tampannya. Baru saja mereka selesai bercinta untuk yang kesekian kalinya.
"Nanti malam aku akan membwa mu ke rumah." Ucap Om Tampan sambil mengelus punggung Medina.
"Untuk apa?." Medina jadi merasa kurang nyaman ketika Om Tampannya berbicara serius tentang hubungan mereka.
"Kamu tidak ingin aku perkenalkan pada khalayak ramai kalau kamu cinta ku, pilihan hati ku dan akan menjadi teman hidup ku sampai akhir hayat."
Medina mendongak sambil menopang dagunya di atas dada bidang Om Tampan.
__ADS_1
"Apa perlu secepat ini?."
Om Tampannya mengangguk lalu mencium bibir Medina. "Iya, harus secepatnya karena aku tidak ingin ada yang mengambil milik ku."
Medina beringsut dan duduk di tepi ranjang membelakangi Om Tampan.
"Apa Om yakin akan memperkenalkan aku pada anak dan istri Om?. Lalu apa yang akan mereka katakan pada wanita yang merebut seorang Papa dari anaknya dan seorang suami dari istri sahnya?. Aku seperti wanita di luar sana."
"Istri ku pasti sangat mengerti dan anak ku sudah besar. Bahkan dia sudah akan memiliki seorang anak dari gadis yang masih SMA."
"Benar kah?." Tanya Medina tidak percaya.
"Hem..."Om Tampan menarik tangan Medina hingga telentang lagi.
"Aku sangat mencintai mu Medina Anjani."
"Aku juga sangat mencintai mu, Rusli Irawan."
Medina dan Rusli kembali bersatu, mendaki puncak kenikmatan pagi itu.
Malam pun datang...
Sebenarnya Barata juga tahu kalau Dania hari tidak masuk kerja dengan alasan keperluan mendadak. Dirinya mendapatkan laporkan dari Meisa yang dirinya pekerjakan di toko bunga.
Wajah keempat orang yang ada di meja makan berseri-seri, entah untuk kebahagiaan yang mana yang sedang mereka rasakan saat ini.
Namun tiba-tiba Rusli datang ke rumah dengan membawa cinta yang akan dirinya perkenalkan pada keluarganya.
"Selamat malam semua..."
"Semalam ma..." Ucapan keempat orang tersebut menggantung di udara kala melihat wanita yang sangat muda yang di gandeng oleh Rusli.
"Dania..."
"Medina..."
Keduanya sama-sama terkejut dengan keadaan malam ini. Terlebih bagi Medina, karena Medina tidak pernah mencari tahu tentang siapa Rusli.
__ADS_1
Rusli pun melarang keras Medina untuk tahu siapa dirinya, cukup dirinya sebagai Rusli yang sesungguhnya yang harus Medina tahu saat mereka berdua berbagi segalanya.
Dania sendiri pernah melihat Rusli dan Medina di dalam mobil yang berwarna silver. Mobil yang belum ditemuinya di rumah itu.
Azka mengingat sosok gadis itu yang menjadi sahabat baik Dania. Barata dan Inara hanya saling melempar pandang.
"Ini Medina, Medina gadis yang sangat aku cintai dan dia juga begitu mencintai ku. Dan aku mohon pada Papa, Inara dan Azka untuk tidak mempersulit hubungan kami berdua. Selama ini aku sudah banyak mengalah untuk pernikahan ku bersama Inara. Sekarang sudah waktunya bagi ku untuk bahagia."
Medina tidak bisa memperlihatkan wajahnya di depan Dania, ada banya perasaan menjadi satu tapi Medina sendiri tidak bisa menentukannya lebih condong kemana perasaan itu.
Justru di sini Medina merasa rendah diri saat bertemu dengan Inara untuk pertama kalinya. Wanita yang dilihatnya sangat cantik, anggun dan dewasa. Buktinya Inara menunjukkan kelasnya sebagai wanita berpendidikan sekaligus seorang istri yang sabar.
"Aku tidak akan mempersulit kalian, secepatnya aku akan mengurus surat perpisahan kita." Jawab Inara dengan tenang kemudian dia makan seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Iya, itu yang aku butuhkan."
"Bi, tolong siapkan piring untuk Bapak dan wanitanya."
"Tidak Bi, kami berdua sudah makan. Silakan saja kalian lanjut makan dan kami akan menunggu di ruang tamu." Balas Rusli seolah itu bukan rumahnya.
Barata menatap Inara yang mampu bersikap santai di tengah badai yang datang menerpanya.
"Apa kamu yakin?."
Inara meletakkan sendok di atas piring. "Iya, Pa. Aku sangat yakin."
"Bagaimana dengan Azka?."
Inara kini menatap pada anak semata wayangnya. "Azka sudah besar, sebentar lagi akan memiliki anak, ada Dania juga yang akan menemaninya. Azka sudah tidak membutuhkan aku sebagai ibunya atau Rusli sebagai ayahnya."
"Aku tidak bisa melarang atau pun mengiyakan. Kalian sebagai dua orang dewasa yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya." Azka ikut berpendapat.
Tatapan Inara berpindah pada Dania yang menundukkan kepalanya. Inara tahu, pasti banyak ketakutan yang sekarang dirasakan oleh Dania. Makanya Inara menjamin putranya tidak akan pernah menduakan Dania.
"Azka tidak akan seperti Papa nya, Dania. Azka seperti aku. Kalau sudah mencintai dia akan selamanya mencintai orang yang sama sampai kapan pun. Kamu mungkin tahu dengan kejadian Joanna."
"Maaf kan saya Ibu Inara, saya pernah melihat mereka tapi tidak tahu kalau hubungan mereka sudah sangat serius."
__ADS_1
"Itu bukan salah mu, Dania." Inara memeluk hangat Dania.