
Dania sudah mencoba untuk melawan keinginannya dari sentuhan Azka, tapi hati dan tubuhnya sangat menginginkan hal itu terjadi. Sampai untuk beberapa saat Dania membiarkan Azka mendaki gunung kembarnya.
"Ayo Dania, kamu bukan wanita murahan!." Warning menyala dalam kepala Dania, tapi sepertinya Dania masih menginginkan sentuhan dan belaian dari Azka.
Azka menuruni perut Dania yang tanpa penghalang, dikecupnya berulang kali sampai bibir itu hendak menuruni lembah yang masih tertutup.
Dania menyadari sesuatu yang sangat berbahaya sedang mengintai area sensitivenya, maka dengan secepat kilat Dania mundur beberapa langkah menjauh dari Azka di saat pegangan Azka mengendur dari panggulnya.
"Jangan Kak!." Dania segera merapikan pakaiannya lalu balik badan, sebab ada perasaan tidak tega ketika melihat wajah Azka yang sangat menginginkan lebih dirinya.
Azka segera bangkit dan mengusap wajahnya kasar lalu masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa pun pada Dania.
Setelah lima belas menit berlalu, Azka keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah lebih segar karena Azka membasahi wajah dan rambut kepalanya.
Azka menghampiri Dania yang masih berdiri di dekat cermin tersebut. "Di mana saja Almeer menyentuh mu, Dania?." Dania menggeleng lemah, tidak mungkin dirinya mengatakan apa yang telah Almeer lakukan padanya.
"Di mana saja, Dania?." Azka mengelus lengah Dania dengan tatapan mereka yang saling mengunci. Kemudian Azka kembali mencium bibir Dania untuk beberapa lama.
"Pertama dan terakhir kalinya Almeer menyentuh apa yang sudah menjadi milik ku, Dania." Ucap Azka setelah melepaskan tautan bibirnya. Bibir Dania menjadi lebih bervolume setelah Azka menciumnya cukup lama dengan permainan yang cukup agresif.
Dirinya sudah puas memberikan pelajaran pada Dania karena telah membiarkan Almeer untuk mencium bibirnya. Dan itu diketahui Azka setelah mendesak Dania dan Dania buka suara.
Hanya sesekali saja Dania ikut menggerakkan bibirnya karena terpancing permainan Azka yang sudah melekat pada bibirnya. Yang pada akhirnya Dania merutuki kebodohannya.
"Tapi aku bukan milik Kak Azka." Protes Dania sambil menjauhi Azka dan wanita itu duduk di sofa yang dekat dengan jendela.
Di mana dihadapkan dengan pemandangan air kolam renang yang sang tenang. Andai saja hidupnya bisa setenang air kolam itu, mungkin dirinya tidak akan pernah berada di tempat ini.
"Kamu itu sudah menjadi milik ku, Dania. Hanya kamu nya saja yang belum sadar." Azka ikut duduk di sebelah Dania lalu meletakkan dagunya di pundak Dania. Sehinggga Dania merasakan detak jantung Azka yang berdebat kencang.
Dan hal serupa juga terjadi pada Dania, debaran jantungnya semakin kencang saat berdua bersama Azka. Seketika pipinya bersemu merah.
__ADS_1
"Kenapa dengan wajah mu?." Dania memegangi pipinya sendiri, seketika Azka ikut memegangi wajah Dania dengan kedua ibu jarinya mengusap lembut bibir Dania yang terbuka.
"Pipi mu merona Dania." Azka mengecup pipi Dania bergantian lalu pada kuning dan terakhir pada bibirnya.
Kali ini bibir Dania ikut bergerak membalas permainan Azka yang semakin dalam mencium bibirnya.
Namun sayang ciuman panas itu harus terhenti karena mereka sama-sama mendengar ada suara seseorang yang memanggil nama mereka dari luar sana.
"Dania!. Azka!."
"Kakek Barata?." Keduanya saling pandang, lalu Dania merapikan dirinya. Begitu juga Azka menurunkan kaosnya untuk menutupi burungnya yang sudah bangun.
"Mengganggu saja!." Azka menggerutu sambil berjalan mendekati pintu.
"Kak, apa yang akan dipikirkan Kakek Barata melihat mu di sini?." Dania menahan lengan berotot Azka dengan wajahnya yang sangat khawatir.
"Kamu tenang saja, dia tidak akan berpikir yang aneh-aneh tentang mu. Paling berpikir yang jelek tenang aku."
"Kak!."
Dania mengangguk dan berada di belakang Azka.
Ceklek
Punggung seorang pria sudah terlihat karena membelakangi pintu kamar Dania.
"Ada apa Kakek kemari mencari kami?."
"Kau sudah lengkap berpakaian?." Tanya balik Barata yang masih membelakangi mereka.
Azka tertawa terbahak. "Memangnya apa yang ada di dalam isi kepala Kakek?. Ha...ha... ha..." Azka kembali tertawa terbahak. Lalu Barata membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Cucu ku memang seperti itu Dania." Barata melihat Dania yang masih berada di belakang tubuh cucu kesayangannya.
Dania hanya tersenyum malu-malu.
"Rusli ingin bicara pada kalian, dia ada di ruang kerjanya bersama Inara."
"Papa sudah pulang?." Azka menakutkan kedua alisnya.
"Iya, pagi tadi Rusli tidak ke kantor. Tapi ke kampus dan sepertinya dia baru paham kalau kau yang sudah menyebabkan Dania di keluarkan dari sekolah dan beasiswa nya di cabut."
Azka menoleh kearah Dania dengam sedikit menundukkan pandangannya sedangkan Dania mendongak menatap wajah Azka. Setelah ini apa yang akan terjadi lagi pada dirinya?.
"Baik lah aku akan menemui Papa sekarang."
Barata menggeleng. "Berdua, kau dan Dania yang harus menemui Rusli dan Inara."
Azka menggenggam tangan Dania dengan sangat erat lalu membawanya turun ke lantai satu di mana mereka sudah di tunggu oleh Inara dan Rusli.
Kini Dania dan Azka sudah di hadapan Rusli, Inara dan Barata. Suasana di dalam ruang kerja itu sangat mencekam ketika belum ada satu orang pun dari mereka yang berbicara. Tatapan mata mereka saja yang seolah berbicara satu sama lain.
Azka menakutkan kedua tangannya bersama Dania, karena Azka tahu Dania saat ini sangat ketakutan oleh keluarganya.
"Sebenarnya, sungguh sangat disayangkan dengan apa yang terjadi pada sekolah dan beasiswa mu, Dania. Bahkan bukan hanya aku saja, tapi banyak guru dan dosen yang sangat menyayangkannya." Akhirnya Rusli buka suara.
"Terlebih putra ku sendiri yang menjadi penyebabnya. Sekolah itu milik ku dan Inara jadi aku dan Inara sudah memutuskan untuk membiarkan mu kembali sekolah lagi di sana dan tetap mendapatkan beasiswa sampai S2 di sana. Itu hanyalah pengecualian terhadap mu."
Entah harus merasa senang atau merasa tersinggung dengan pemberian pengecualian ini terhadap dirinya. Tapi, setidaknya Dania sudah memiliki jalan sendiri yang harus dilewatinya. Karena itu konsekuensi dari kesalahannya meski bukan sepenuhnya kesalahan dirinya.
"Maaf Pak Rusli, Ibu Inara. Tapi saya tidak bisa menerima apa yang baru disampaikan Pak Rusli. Pertama saya tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi siswi lain dan kedua saya tidak ingin orang lain merendahkan atau menghina saya lagi karena mendapatkan previlege dari nama besar Ibu Inara dan Pak Rusli.
"Dengan kedua alasan itu kiranya Ibu Inara dan Pak Rusli dapat memahaminya. Tapi sebelum itu saya ucapkan terima kasih atas niat baik dari Ibu Dan Bapak." Lebih baik Dania melanjutkan sekolahnya nanti setelah melahirkan. Dirinya bisa mengikuti sekolah paket C, itu bukan sesuatu yang susah karena hanya satu tahun.
__ADS_1
"Baik, aku mencoba mengerti posisi mu sekarang ini. Tapi sebagai gantinya, Azka aku keluarkan juga dari kampus dan perusahaan ku. Kau berdiri lah sendiri dengan kemampuan yang kau miliki.
"Sekarang kau angkat kaki juga dari rumah ini dan semua fasilitas yang aku berikan dan kau harus segera mengembalikannya. Dan Dania akan tetap tinggal di rumah ini sampai bayi kalian lahir." Rusli bersikap tegas pada anak semata wayangnya.