Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 61 Azka Narendra


__ADS_3

Darwin meminta pada kenalannya untuk segera memasukkan Radit dan Azka ke dalam penjara. Dirinya tidak terima jika putranya meninggal dengan sia-sia. Tidak peduli dirinya harus menghadapi mantan calon besannya dulu.


Darwin dan Eva sudah mendapatkan informasi yang valid kalau kematian putra mereka karena Azka dan Radit. Sekarang Eva dan Darwin memiliki kesempatan untuk membebaskan Joanna dengan cara menukarnya dengan salah satu dari mereka berdua.


Tapi rupanya tidak semudah itu untuk membawa Azka dan Radit ke dalam penjara, karena ada Barata dan Rusli yang berada di belakang kasus mereka berdua. Yang juga diketahui kekuasaan dan kekuatan mereka sangat berpengaruh.


Terlebih kematian Adnan karena kesalahan yang telah dilakukan olehnya terlebih dahulu. Sehingga memancing kemarahan dari Radit dan Azka sampai keduanya telah membuat Adnan mati seketika. Bahkan Adnan sampai membuat sebuah video yang sangat menggemparkan.


"Apa benar sudah tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang?."


"Kemungkinannya akan sangat sulit. Karena Adnan sendiri melakukan kesalahan yang sangat fatal."


"Joanna pun tidak bisa kau keluarkan dari sana?."


"Tidak, karena semua berkasnya sudah masuk dan sudah lengkap semua."


Setelah mendengar penjelasan dari temannya itu, Darwin langsung keluar dari ruangan tersebut. Percuma dirinya memiliki orang dalam namun tidak bisa diandalkan jika sudah berhadapan dengan Barata dan Rusli.


"Aku bisa membalas mereka dengan cara ku sendiri." Gumam Darwin saat dirinya sudah menuju kantor Rusli.


Dua puluh menit telah berlalu, mobil Darwin sudah terparkir di depan perkantoran Rusli. Langsung saja dia menuju ruangan Rusli meski sudah ada petugas yang menghadang jalannya.


Petugas itu langsung pergi setelah Rusli sendiri yang memintanya ketika Darwin sudah berhasil menerobos masuk ruang kerjanya.


"Aku tidak akan pernah mengampuni Azka dan Radit walau di belakang mereka ada kau dan Barata." Darwin langsung mendorong tubuh Rusli saat pintu tertutup.


"Seharusnya kau sadar!, Adnan yang lebih dulu melukai keluarga ku. Itu hanyalah bentuk pembelaan kami pada apa yang telah dilakukan oleh Adnan. Kalau kau mau bertindak sendiir, tidak masalah. Aku tidak pernah takut pada siapa pun, apalagi itu untuk melindungi keluarga ku."


"Tapi tidak dengan mematikan putra ku!."


"Kalau kau yang berada di posisi Azka dan Radit saat itu. Melihat Eva yang dilecehkan di depan mata kau sediri..."

__ADS_1


"Cukup!." Potong Darwin sambil mengepalkan tangannya lalu diarahan pada wajah Rusli yang tetap biasanya.


"Memang gampang untuk menghakimi orang lain, tapi tidak pernah bisa untuk menerima apalagi mengakui kesalahan anak sendiri."


"Ah...sial!."


Bugh Bugh


Darwin menonjok dinding yang ada di belakang Rusli berulang kali. Kalau begini, bagaimana dirinya bisa mencari keadilan untuk Adnan yang nyata-nyatanya benar salah. Joanna sudah tidak memiliki harapan untuk segera bebas dari sana.


Akal sehatnya masih bisa dipakai untuk berpikir, apa yang telah dikatakan Rusli benar semua. Dirinya pun pasti akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada Eva.


Sementara itu Azka tidak memberitahu apa pun pada Dania mengenai darinya dan Radit yang akan dijebloksan ke dalam penjara. Azka tidak mau jika wanita hamil itu memikirkan banyak hal yang dapat membahayakan calon bayi mereka.


Azka benar-benar menikmati waktu bersama Dania di tempat itu sebelum akhirnya mereka menikah dalam waktu satu Minggu lagi sebelum bayi mereka lahir ke dunia ini.


Semua perlengkapan untuk bayi mereka sudah diterima oleh Dania yang dikirimkan oleh Inara. Tidak ada yang terlewatkan satu pun. Inara begitu memperhatikan hal-hal kecil untuk bayi mereka. Sehingga Dania dan Azka pun sudah tidak sabar menunggu waktu kedatangan bayi itu berada dalam gendongan mereka.


"Sudah, aku sudah memiliki satu nama yang nanti aku berikan pada putra kita."


"Siapa?."


Kemudian Azka membawa Dania duduk di atas tempat tidur mereka. Azka mengoleskan minyak pada kaki Dania yang sedikit membengkak. Perlahan tangan kekar itu memijatnya pelan, memanjakan kaki wanita hamil tersebut. Dania pun sungguh merasa nyaman atas perlakuan Azka.


"Haikal Zayyid Narendra."


"Haikal Zayyid Narendra." Azka mengulangnya dan Dania hanya mengangguk sambil merebahkan tubuhnya.


"Apa Kak Azka suka?, atau mungkin Kak Azka memiliki nama lain?. Boleh kalau ada, tapi itu disimpan saja untuk putra kedua kita." Dania tersenyum penuh kebahagiaan karena dirinya benar-benar merasa bahagia.


"Baik lah iya." Ucap Azka mengalah.

__ADS_1


Baru saja mata Dania terpejam, kini harus terbuka lagi karena ulah tangan kekar Azka yang sudah merambat naik dan masuk ke dalam kain kecil yang membungkus inti tubuhnya.


"Kak..."


"Apa sayang?."


Azka sudah meloloskan pakaian Dania sehingga perut buncit itu sangat terlihat jelas. Belum lagi yang lainnya yang dapat memacu gairah Azka semakin berkobar.


Dania menyambut setiap sentuhan yang diberikan Azka, dirinya pun tidak tinggal diam. Memberikan sentuhan yang sama dengan yang diberikan oleh Azka, bahkan nalurinya sebagai wanita hamil lebih bisa memancing Azka lebih jauh lagi.


"Sayang, awas bayi kita!." Azka merasa ngilu sendiri dengan gerakan Dania yang baru dilihat oleh Azka.


Dania hanya tersenyum sambil menahan malu, tapi itu tidak berlangsung lama karena pada detik selanjutnya Dania sudah mencapai puncaknya. Nafasnya yang memburu kini perlahan mereda dan berganti dengan sebuah lenguhan ketika Azka sudah menggoyang pelan tubuh Dania.


Azka tidak ingin segera mengakhiri percintaan mereka, karena Azka sudah benar-benar menghilangkan jejak Adnan dari tubuh Dania.


.....


Hari bahagia untuk semua orang telah tiba, terutama bagi Azka Dan Dania. Di mana mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri beberapa menit yang lalu, yang sah baik di mata agama dan negara.


Ucapan selamat dan doa mengalir deras dari orang terdekat mereka untuk hubungan baru yang telah mengikat keduanya sampai maut memisahkan mereka berdua.


Radit yang dari luar kota pun ikut hadir di hari bahagia sang adik karena dirinya menjadi wali bagi pernikahan Dania.


Dania sudah bisa berbaur kembali dengan mereka yang datang meski hanya dari pihak kelaurga saja. Semuanya itu masih daalm proses untuk bisa bertemu dan berbaur dengan orang baru yang berasal dari lingkungan luar.


Dania dan Azka benar-benar menularkan kebahagiaannya bagi semua orang, terkhusus bagi Chaha yang dilamar oleh Shaka di depan mereka semua.


"Terima...terima...terima..." Sorak sorai kebahagiaan menggema di ruangan itu, meminta Chaca untuk segara menerima lamaran Shaka.


"Cha, kalau kamu enggak mau, aku mau juga dilamar Shaka." Teriak Salma tanpa mempedulikan sepasang mata tajam menatap kearahnya.

__ADS_1


Dengan cepat Chaca mengangguk sambil menerima cincin yang dibeirkan oleh Shaka dari pada keburu diambil oleh Salma.


__ADS_2