Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 76 Azka Narendra


__ADS_3

Akhirnya Dania bersedia pindah ke apartemen milik suaminya setelah mempertimbangkan banyak hal. Ya, walaupun bisa dikatakan kalau Dania sepertinya tidak akan pernah sanggup tinggal berdua bersama Zayyid saat suamiya bekerja. Tapi Dania harus mencobanya.


Dania harus perlahan bisa bangkit dari rasa takutnya karena Azka akan selalu memberikan keamanan tinggi untuk keluarga kecilnya.


Setelah menata beberapa perabotan yang datang setelah mereka pesan, Dania dan Azka pulang ke rumah Inara untuk memberitahu keputusan mereka yang akan tinggal di apartemen.


"Apa sudah kalian pertimbangankan baik buruknya jika terpisah dengan kami?." Sebenarnya Inara sangat keberatan dengan niat Azka membawa Dania dan Zayyid pergi dari rumah mereka.


Ya, bukan karena apa. Karena sekarang-sekarang ini keadaan Dania masih belum aman, ditambah dengan Zayyid yang harus diurusnya seorang diri.


Ada banyak hal yang membuat Inara belum mau melepaskan mereka untuk hidup terpisah.


"Sudah, Ma. Kami sudah merundingkan dan mempertimbangkannya secara matang-matang. Aku akan memberikan keamanan 24 jam untuk Dania dan Zayyid."


Rusli dan Barata hanya diam, menyimak semua apa yang dikatakan seorang pria yang kini telah menjadi seorang ayah dan suami. Membiarkan Inara menyampaikan kekhawatirannya pada Dania, Azka dan si kecil Zayyid. Dan tidak ada yang salah dengan kekhawatiran seorang ibu pada anak-anaknya yang hendak pergi meninggalkan rumah. Apalagi baru juga kemarin ada kejadian yang sangat membuat mereka sport jantung.


"Bagaimana menurut kalian?." Tanya Inara pada Barata dan Rusli yang duduk disampingnya.


"Aku ikut Papa saja." Sahut Rusli memberikan wewenangnya pada Barata yang lebih tua. Yang menurut Rusli, Barata akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk anak-anak mereka.


Maka dari itu, salah satu kenapa Rusli menginginkan seorang atau dua orang anak lagi karena mereka pasti akan mengalami posisi seperti sekarang ini. Mereka hanya akan tinggal berdua, padahal usia mereka masih bisa untuk memiliki dan mengurus beberapa orang bayi sekaligus.


"Kami tidak bisa melarang kau untuk membawa Dania dan si kecil Zayyid untuk tinggal di apartemen. Tapi kami tegaskan di sini, kau harus sanggup memberikan perlindungan dan keamanan untuk cicit dan cucu menantu ku."


"Iya, aku sudah menyiapaknnya. Kalian jangan khawatir."

__ADS_1


Inara hanya sanggup menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi setelah mendengar penuturan Barata. Yang menurutnya sangat terlalu cepat dan terlalu mendadak.


Berat banget kala harus berpisah dari si kecil Zayyid atau Dania yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri serta Azka yang memang putra kesayangannya. Hubungan mereka baru saja menghangat beberapa bulan terakhir setelah kehadiran Dania di dalam hidup mereka.


"Terima kasih sudah mau mengerti dan memberi kami kepercayaan untuk bisa hidup mandiri. Dan untuk Mama, kami minta maaf harus membuat rumah ini kembali sepi." Ucap Azka penuh sesal.


"Kalau begitu aku akan sering main ke apartemen kalian dan bermain bersama Zayyid." Dengan mata yang berkaca-kaca Inara mengatakan hal itu.


Yang kemudian disambut hangat oleh pelukan sayang dari Dania dan Zayyid yang ada dalam gendongan Dania. Inara begitu sangat beruntung memiliki Dania sebagai menantu sekaligus anak.


"Iya, Ma. Dengan senang hati kami akan menunggu kedatangan Mama dan kalian berdua." Bukan tidak sayang Azka terkhusus pada Inara. Tapi mau sampai kapan dirinya dan keluarga kecilnya berlindung di dalam rumah kedua orang tuanya.


Malam itu mereka habiskan dengan bercerita sampai pagi, karena besok Azka dan Dania serta Zayyid akam mulai menempati apartemen.


Tidak terasa waktu sudah menjelang siang, orang dewasa tidak ada yang tidur, hanya si kecil Zayyid saja yang tertidur pulas di dalam pangkuan Inara, Barata dan Rusli. Padahal Dania sudah mengeluarkan box bayi yang ada di dalam kamar dan meletakkannya di ruang keluarga, tempat mereka menghabiskan waktu malam tadi.


Azka, Dania dan Zayyid pun pamit dari rumah itu. Rumah yang telah memberikan kehangatan dan keluarga baru bagi Dania setelah kepergian Mama dan Papanya.


Tidak ada yang mengantar kepergian mereka, karena dapat dipastikan Inara tidak akan sanggup berpisah dengan mereka semua. Wanita yang telah menjadi nenek itu hanya bergelayut manja pada tangan suaminya, yang sesekali menyeka air mata yang turun melewati pipinya.


"Aku tidak ingin menangis, tapi mereka keluar dengan sendirinya." Keluh Inara sambil mengelap tangan basahnya pada kemeja yang dipakai Rusli. Pria itu mengusap lembut rambut kepala Inara dengan sayang.


Lambaian tangan Inara, Barata dan Rusli mengiringi lajunya mobil Azka yang sudah perlahan menghilang dari pandangan mereka bertiga.


"Ayo kita buat adik untuk Azka lagi!." Rusli menarik tangan Inara namun ditahan oleh Rusli.

__ADS_1


"Aku juga bisa membuat adik untuk kau, kakek Rusli."


Inara yang ada dalam mode sangat bersedih kini bisa tertawa puas dan lepas dengan perkataan Barata. Pria tua itu langsung pergi dari sana menuju mobilnya.


"Papa mau kemana?." Tanya Inara dan Rusli bersamaan.


"Membuat adik untuk kalian." Jawabnya santai sambil masuk dan mulai menyalakan mesin mobil lalu membawanya pergi dari sana.


Inara dan Rusli benar-benar menatap kepergian Barata, mereka memastikan apa yang dikatakan Barata sungguh-sungguh atau hanya sekedar sebuah candaan.


"Apa menurut mu, Papa serius dengan perkataannya tadi?." Inara memasang wajah penuh tanda tanya sambil masih menatap jalanan.


"Biarkan saja sayang, lebih baik kita fokus pada program kita saja." Rusli menggendong Inara, menutup pintu lalu membawa istri cantiknya ke dalam kamar. Mereka ingin segera memilikiseorang bayi dan semoga saja tidak akan lama lagi akan hadir.


Dania dan Azka sudah sampai di apartemen setengah jam yang lalu. Dania baru meletakkan Zayyid di box yang memang sengaja berada didekat mereka. Saat ini Azka dan Dania sedang di dapur, membuat sesuatu yang bisa dimakan.


"Kamu ingat sayang, kapan pertemuan pertama kita?." Azka menatap Dania yang membantu Azka mengupas bawah merah dan bawang putih.


"Hemmm, tanggal sekarang." Jawab Dania.


"Apa Kak Azka mengingatnya?, secara kan Kak Azka tidak pernah mencintai ku."


"Itu dulu sayang, sekarang aku sudah sangat teramat mencintai mu, bahkan sampai tergila-gila. Tapi, aku mengingat dengan jelas setiap pertemuan kita. Karena aku menyimpannya dalam memori yang paling depan.


"Bahkan ciuman pertama kita yang menjadi firs kiss mu, sayang." Azka mengambil pisau dan bawang yang ada di tangan Dania. Lalu menarik wanita itu dan mencium bibirnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Pertemuan pertama kita, ciuman pertama kita dan ciuman pertama mu terjadi di hari yang sama dengan hari sayang." Ucap Azka disela ciuman mereka.


__ADS_2