Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 38 Azka Narendra


__ADS_3

Pria tampan itu berhasil tidur bersama Dania di atas kasur kecil milik Dania tanpa melakukan penyatuan. Kali ini Azka tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi, sudah cukup puas baginya bisa tidur sambil memeluk wanita yang sedang mengandung calon anaknya.


Hingga pukul 8 pagi, Dania belum bisa beranjak dari tempat tidur. Sebab tangan Azka melilitnya sangat kencang sehingga dirinya tidak bisa bergerak meski di atas tempat tidurnya sendiri.


Azka tidak merasakan morning sickness yang biasa datang menyerangnya. Kali ini Azka tidur dengan sangat tenang. Sungguh damai jika setiap pagi dirinya bisa seperti ini.


"Mau sampai kapan Kak Azka begini terus?." Tanya Dania sambil menatap wajah pria yang matanya masih terpejam, tapi hidung mancungnya sudah berada di ceruk lehernya.


"Selamanya, Dania." Balas Azka sambil mengecup leher Dania sehingga pemilik leher itu mendongak.


Memberikan kebebasan pada Azka supaya bisa mengeskplor lagi leher jenjangnya. Azka tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Bibir Azka mengecup sampai menggigit gemas kulit leher yang putih mulus, yang kini tidak mulus lagi karena ada bekas gigitan Azka.


"Kak Azka!." Protes Dania menghentikan Azka yang sudah akan turun menuju daerah dadanya.


"Apa tidak boleh?." Tanya Azka dengan wajah yang sudah memerah.


Hasratnya dengan sangat cepat sudah naik ke ubun-ubun. Tapi, sekarang Azka lebih bisa mengontrolnya.


"Kak, aku sudah menerima lamaran Kak Almeer. Jadi Kak Azka jangan lagi seenaknya begini sama aku. Aku bukan wanita murahan yang bisa Kak Azka pakai saat mau dan di tinggal pergi kalau sudah bosan."


Azka bangkit berdiri, mengabaikan gairahnya yang masih memuncak meski sudah mendengar penolakan Dania. Apalagi Dania mengatakan hal yang menyebabkan hati dan telinganya panas.


"Aku akan berhenti mengejar mu saat kamu dan Almeer telah menikah. Tapi, sebelum itu terjadi kamu milik ku, Dania!." Ada kilatan amarah dalam nada bicaranya Azka. Pria itu langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Dania menatap pintu kamar mandi yang baru saja ditutup oleh Azka. Dania harus melakukan sesuatu supaya Azka tidak selalu berbuat sesuka hati padanya. Dan semoga saja apa yang baru Dania katakan bisa membuat Azka menjauh darinya.


Pagi ini Azka benar-benar terbebas dari yang namanya morning sickness. Kedekatannya dengan Dania adalah obat paling mujarab dari penderitaannya.

__ADS_1


"Di sini tidak ada makanan?." Tanya Azka tidak menemukan ada lemari pendinginan yang bisa menaruh makanan apa pun.


"Seperti yang Kak Azka lihat. Setiap pagi biasanya Kak Almeer mengirimkan makanan untuk kami?." Jawab Dania memanasi Azka. Azka hanya mengangguk.


"Ayo sekarang kita keluar dan berbelanja, memenuhi rumah ini supaya kamu dan bayi kita nyaman." Azka berdiri di depan Dania dengan mengulurkan tangannya. Tapi, Dania mengabaikan tangan kekar itu.


"Kak Azka jangan!. Mungkin aku sebentar lagi juga akan kembali ke rumah ku yang lama. Kak Almeer sudah membeli rumah kami untuk kami tempati setelah menikah." Ucap Dania berani.


Kalau pun memang nantinya terdesak dan harus menikah dengan Almeer, mungkin itu jalan yang terbaik untuk pergi dari Akza dan Azka pergi dari hidupnya.


Azka mengepelkan tangannya di balik pahanya, ada banyak kejutan yang diberikan oleh Almeer padanya. Dan Azka akui, Almeer sudah maju beberapa langkah darinya. Tapi saat ini tidak mungkin Azka menunjukkan rasa sakit hatinya pada Dania. Karena Azka tahu itu sebuah kebohongan. Sebab tidak mungkin Almeer tidak bicara padanya mengenai Dania. Apalagi untuk hal sebesar dan sepenting ini.


"Iya, tapi itu kan bukan sekarang Dania!. Nanti kalau kamu sudah pindah, tinggalkan saja apa yang pernah aku beli seperti kamu meninggalkan ku dengan sebuah penyesalan." Jawab Azka dengan santainya.


Dania diam mematung dengan kalimat Azka yang membuatnya merasa sakit. Dania harus segera mengusir Azka dari hidupnya sebelum semuanya terlambat bagi dirinya semakin dalam mencintai pria itu.


Tidak berselang lama dari kepergian mobil Azka, Almeer datang hanya berdua bersama Salma ke rumah Dania. Dengan membawa banyak makanan di kedua tangan mereka, Salma sampai rela bolos sekolah karena untuk menemani Almeer menemui Dania. Tapi, Dania malah tidak ada di rumah.


"Kira-kira kemana Dania pergi?." Salma meletakkan makannya di atas meja yang ada di teras.


"Aku coba telepon." Almeer merogoh ponselnya di dalam saku celana setelah menaruh makanannya di meja juga.


Sampai tiga kali panggilan tapi Dania belum ada menjawab panggilan telepon darinya. "Kenapa Dania tidak menjawab telepon ku?." Batin Almeer.


Sedangkan Dania sengaja tidak menjawab telepon dari Almeer karena Dania tidak mau ada keributan antara Almeer dan Azka.


Setelah hampir dua jam Azka dan Dania berada di luar, kini Azka dan Dania sudah kembali ke rumah kontrakan Dania. Bersama dengan datangnya mobil bak yang membawa mesin cuci dan kulkas, bahan makanan, buah-buahan dan makanan ringan lainnya.

__ADS_1


Rumah Dania kini sudah lengkap dengan beberapa perabotan yang akan mempermudah pekerjaan Dania di rumah itu. Meski terlihat menjadi sempit, tapi Azka sudah mengaturnya sedemikan rupa supaya Dania tetap merasa nyaman.


"Apa anak kita tidak ingin ditemui oleh Daddy nya?."


Dengan cepat Dania menggeleng sambil membantu Azka memasukan makanan ke dalam kulkas.


"Kalau kamu?." Tanya Azka menarik tangan Dania yang akan pergi. Lalu menggenggam erat tangan wanita yang pernah sangat disakitinya.


"Aku sedang belajar untuk mencintai dan menerima Kak Almeer. Jadi aku tidak menginginkan apa pun lagi dari Kak Azka."


"Lagi?."


Dengan cepat Dania mengangguk. "Iya, dulu aku sudah berangan-angan ingin mewujudkan mimpi ku bersama Kak Azka. Tapi, setelah aku tahu Kak Azka tidak mencintai ku dan hanya menjadikan ku sebagai alat untuk balas dendam. Jadi aku tersadar kalau aku bukan siapa-siapa. Dan dengan adanya Kak Almeer aku menjadi mengeri, lebih baik aku dicintai dan menjadi orang yang diinginkan karena aku akan dengan mudah mencintai balik orang itu."


"Almeer?. Iya, Almeer pria yang sangat baik. Kamu akan bahagia bersamanya. Tapi, selama kamu belum menikah dengan Almeer. Izin kan aku dekat dengan kalian. Aku tidak akan merusak hubungan kalian yang terpenting aku bisa berada di sisi mu dan calon bayi kita." Sangat sakit saat mengatakan itu pada Dania.


"Tapi, Kak Azka harus ingat tidak bolah melakukan apa pun pada ku!."


"Aku tidak janji." Azka melepaskan tangan Dania sambil tersenyum.


Kemudian Azka mengambil bahan makanan untuk dibuatnya makanan untuk makan siang mereka setelah melewatkan sarapan. Dania hanya mengisi perutnya dengan satu gelas susu hangat yang dibuatkan oleh Azka. Sementara dirinya belum ada memakan apa pun.


Satu jam sudah berlalu, makanan itu sudah tersaji di meja makan dan keduanya sudah bersiap untuk makan. Tapi, pintu rumah Dania ada yang mengetuk dari luar.


"Biar aku yang buka." Azka bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu.


Ceklek

__ADS_1


"Almeer...Azka..."


__ADS_2