
Kedatangan Azka dan Dania lebih cepat dari perkiraan Inara dan Rusli ke rumah besar itu. Mereka menempati kamar Azka dan untuk calon bayi mereka, Inara dan Rusli sudah menyiapkan satu kamar yang berada di tengah diantara kamar Azka dan kamarnya Rusli.
Di sana masih ada Radit dan Rania. Besok malam, Radit akan kembali lagi ke Semarang guna membantu perusahaan Rusli yang ada di sana. Sementara Rania tetap di rumah itu membantu mengurus salah satu butik Inara.
"Di mana pun kalian berada, kalian harus tetap berhati-hati karena tidak menutup kemungkinan jika Eva dan Darwin masih menyimpan dendam pada kalian." Rusli mengajak bicara Radit dan Azka di ruang kerjanya.
Rusli tidak ingin jika Azka dan Radit sampai lengah sehingga memudahkan Eva atau pun Darwin membalas kematian Adnan. Sebagai orang tua dan yang lebih paham akan situasi mereka saat ini, rasanya Rusli tidak bosan-bosan untuk selalu mengingatkan hal tersebut pada keduanya.
"Iya, Pa."
"Iya, Om. Terima kasih sudah mau melindungi kami. Aku sangat berhutang budi terhadap kalian."
"Dania, kau dan Rania sudah menjadi keluarga ku. Jadi tidak berlebihan kalau aku ingin melindungi keluarga ku dari acaman siapa pun."
Pembicaraan itu sudah harus terhenti karena Inara meminta mereka untuk makan malam.
Makan malam malam ini sungguh sangat terasa luar biasa, dengan bertambahnya pengantin baru dan Radit serta Rania. Karena Rania juga biasanya makan malam di butik bersama pegawai yang lainnya.
Rusli dan Inara tidak pernah bermimpi akan menjadi keluarga besar seperti ini. Karena mereka hanya anak semata wayang dari kedua orang tua mereka, termasuk putra mereka, Azka Narendra.
Selesai makan malam, para wanita berkumpul di kamar Inara. Karena wanita itu yang telah meminta Dania dan Rania di sana. Sedangkan para prianya berkumpul di ruang tengah. Namun Radit tidak ikut karena dia ada urusan lain di luar.
Rusli kembali mengingatkan Radit sebelum pria itu keluar dari rumah.
Setelah sampai di tempat yang dituju, senyum Radit terlihat menawan kala melihat sosok wanita yang sudah menunggunya di sana. Tempat yang tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa santai menikmati waktu malam ini.
"Kak Radit!." Seru Medina cukup kaget saat Radit menaruh tangannya di pundak Medina.
"Sudah lama?."
"Belum, Kak. Aku juga baru sampai."
Radit dan Medina sama-sama hanya memesan minuman saja, karena Radit sendiri sudah makan. Sementara Medina, wanita itu memang jarang makan malam.
"Ada apa Kak Radit meminta ku bertemu?."
__ADS_1
Radit tersenyum sambil menatap wajah Medina yang semakin cantik.
"Setelah lulus sekolah nanti, kamu mau kuliah atau langsung kerja?."
Medina sedikit mengerutkan dahinya karena pertanyaan Radit. Tapi tidak lama wanita itu menjawabnya.
"Mungkin aku akan mencari pekerjaan dulu Kak. Karena Kak Radit tahu sendiri kuliah butuh biaya yang tidak sedikit. Belum lagi untuk kebutuhan ku sehari-hari. Memangnya kenapa Kak?."
Semenjak memutuskan untuk mengakhiri hubungannya bersama Rusli, Medina sudah tidak lagi menggunakan uang pemberian Rusli. Semuanya Medina kembalikan pada pemiliknya yang sah. Karena dia benar-benar ingin menyudahinya.
Radit terdiam sebentar karena pesanan mereka datang, kemudian Radit langsung meneguk minumanya hingga tersisa setengahnya lagi.
"Begini Medina, Om Rusli meminta ku untuk mengajak mu bekerja di kantornya yang ada di Semarang. Sekalian kamu bisa kuliah di sana."
"Om Rusli?."
Radit mengangguk lalu tangannya terulur menggenggam tangan Medina yang ada di atas meja.
"Om Rusli mempercayakan mu pada ku dan Tante Inara pun tahu itu. Apa kamu mau menerima tawaran mereka?."
"Sebenarnya aku ingin terlepas dari bantuan Om Rusli. Aku malu kalau harus terus menerima kebaikan dari mereka. Tapi, bagaimana kalau aku tetap ikut bersama Kak Radit ke sana tapi bekerja di tempat lain?."
"Aku mengerti Medina. Begitu pun tidak masalah. Aku akan bicara lagi pada Om Rusli dan Tante Inara."
Medina mengangguk bersamaan dengan Radit melepaskan genggaman tangannya.
Malam sudah semakin larut, keduanya pun pulang dari tempat itu. Radit mengantarkan Medina pulang lebih dulu ke kosannya.
Waktu sudah menujukan pukul 12 malam ketika Radit baru sampai di rumah. Rusli masih terjaga dan lebih tepatnya menunggu kepulangan Radit. Dia takut Radit kenapa-napa dan ingin tahu apa yang terjadi pada Medina atas tawarannya.
Ternyata Rusli masih menyisakan tempat untuk Medina di dalam hatinya. Karena Medina tidak melihat hartanya yang melimpah atau kedudukan dan kekuasaannya. Gadis itu mencintai dirinya dengan tulus tapi dirinya pun tidak ingin mengecewakan Inara dan pernikahannya.
"Om belum tidur?."
"Bagaimana Medina?." Dengan tidak sabarannya Rusli langsung menanyakan Medina. Hal itu dlihat dan didengar oleh Inara. Namun wanita itu tidak bereaksi yang berlebihan.
__ADS_1
"Medina menolaknya, Om. Tapi tetap dia akan ikut bersama ku ke Semarang, tapi mungkin akan bekerja di tempat lain."
"Kenapa Medina menolaknya?."
"Om Rusli pasti lebih tahu jawabannya apa."
Rusli mengangguk lalu menatap punggung Inara yang sedang menaiki anak tangga. Rusli mengusap kasar wajahnya, Inara pasti mendengar apa yang mereka bicarakan mengenai Medina.
Radit segera pergi dari sana setelah Rusli menyusul Inara masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirakan." Rusli berusaha menjelaskan pada Inara. Tapi Inara hanya tersenyum sambil memegangi wajah tampan suaminya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus lagi.
"Aku tahu, pasti kamu sudah berusaha keras. Tapi mungkin harus lebih keras lagi. Aku tidak marah kalau kamu masih perhatian pada Medina, karena gadis itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi dan mungkin saat ini dia pun sedang kesusahan dengan keuangan.
"Coba sekarang kamu biarkan gadis itu berdiri di kedua kakinya dulu, masih ada banyak hal yang harus dipelajarinya. Setelah dia merasa tidak sanggup, baru kita datang dan tawaran bantuan atau kalau perlu kita membantunya tanpa diketahui gadis itu."
Rusli mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Inara. Wanita yang pernah disakitinya itu masih peduli dengan kehidupan wanita yang pernah dicintai suaminya.
Maka dari itu sungguh bodoh sekali jika Rusli menyia-nyiakan wanita sebaik Inara.
Malam dingin di luar sana tidak sampai masuk ke dalam kamar Rusli, karena Inara tetap memberinya kehangatan meski setelah apa yang mereka bicarakan.
Keesokan paginya...
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, hal yang selalu dinanti oleh Barata. Makan bersama bersama di meja besar itu.
"Cicit ku kapan lahir?. Aku sudah tidak sabar mau menggendongnya."
"Aku juga mau mengajaknya bermain." Sahut Rusli.
"Bermain saham?."
"Tidak lah Pa, bermain bola pastinya." Karena dulu, Rusli sudah membawa Azka masuk ke perusahaan sejak usia dini.
Barata dan Azka hanya tersenyum tipis.
__ADS_1