Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 23 Azka Narendra


__ADS_3

Azka mengantar Dania pulang setelah puas menikmati tubuh Dania. Azka mengecup bibir Dania sebelum pria itu membuka kunci pintu mobilnya.


Dania bisa bernafas lega kala tidak ada siapa pun di ruang tengah, mungkin mereka sudah tidur. Dania langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mengguyur tubuh lengketnya dengan air hangat.


Tubuh lelah Dania sudah berbaring di atas ranjang berukuran kecil, tapi sangat membuatnya nyaman. Apalagi di saat seperti ini, ketika lelah jiwa dan raganya.


"Sampai kapan aku akan diperlakukan rendah seperti ini?. Kak Radit belum tentu mau membantunya untuk melawan Kak Azka." Batin Dania sambil meneteskan air mata.


Memorinya kembali pada perkenalan dirinya dan Azka yang sangat cepat beberapa bulan yang lalu. Namun, Dania tidak memiliki pikiran buruk apalagi sampai menaruh curiga. Tidak ada sedikit pun keraguan atas sikap Azka dan pernyataan cinta Azka setelah satu Minggu mereka menjalin kedekatan. Karena Azka pun melibatkan kedua orang tua Dania dalam hubungan mereka.


Tapi, ternyata perkenalan dirinya dan Azka adalah awal kehancuran hidupnya yang belum juga usai. Akan bertahan berapa lagi kebohongan ini dia jalani?. Belum lagi dengan perutnya yang nanti akan semakin membesar dengan bertambahnya usia kehamilan.


Sungguh tidak sanggup bila harus membayangkan itu semua.


Keesokan paginya...


Dania sudah berada di sekolah, dia tidak ingin datang lagi ke rumah itu untuk membantu Azka. Sekarang Dania memikirkan cara untuk membebaskan diri dari jeratan Azka Narendra.


Saat baru beberapa langkah menuju kelas, Dania dikejutkan dengan kehadiran Almeer yang menghadang jalannya. Dania sudah berpikir yang jelek saja pada Almeer hingga langsung menuduhnya.


"Kak Almeer di suruh Kak Azka untuk menemui ku?."


Almeer mengerutkan dahinya, kenapa bisa Dania berpikiran seperti itu?. Tapi, Almeer segera menggeleng. "Tidak, bukan Azka. Tapi, aku sendiri yang ingin menemui mu."


Dania memegang dadanya sambil menghembuskan nafasnya ke udara. Dirinya merasa sangat lega.


"Ada apa Kak Almeer mencari ku?."


Almeer mengajak Dania berbicara di belakang sekolah, di situ ada taman kecil dan beberapa bangku. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju taman tersebut.


"Ada apa, Kak Almeer?." Tanya Dania saat mereka sudah duduk di sana.


"Dari kapan kamu memiliki hubungan dengan Azka?." Almeer to the points menanyakan hubungan antara Dania dan Azka.


Dirinya sudah tidak bisa menahan keingintahuan hal tersebut.


Dania cukup terkejut mendapatkan pertanyaan pribadi seperti itu.


"Aku sudah melihat kalian berciuman di mobil Azka. Jadi kamu tidak perlu mengelak nya lagi." Almeer menekan sekuat tenaga perasaannya supaya tetap bisa menguasai diri.

__ADS_1


"Apa yang Kak Almeer pikirkan tentang aku setelah melihat aku dan Kak Azka berciuman?."


Almeer menggeleng lemah. "Aku tidak tahu, Dania. Makanya aku bertanya langsung pada mu, aku berharap ada yang salah dengan penglihatan ku."


"Apa Kak Almeer akan percaya dengan apa yang akan aku katakan?."


Dengan sungguh-sungguh Almeer menganggukkan kepalanya. Karena dia sudah tahu dari pihak Azka yang hanya mempermainkan Dania.


Dania memberanikan diri untuk tidak masuk sekolah, dirinya lebih memilih untuk mencari tempat yang enak dan santai untuk dirinya dan Almeer berbicara serius.


Setelah sampai di tempat yang direkomendasikan oleh Almeer, adalah sebuah tempat makan siap saji yang jauh dari keramaian. Karena itu yang sekarang mereka butuhkan.


Almeer sudah membawa nampan yang dipenuhi oleh makanan dan minuman. Sambil menunggu Dania bersiap untuk bercerita.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Dania?."


Sebelumnya Dania sudah meyakinkan dirinya untuk berbicara pada Almeer. Siapa tahu pria ini bisa membantunya.


Kemudian, Dania pun mulai menceritakannya pada Almeer. Dari awal sampai akhir tanpa ada yang ditutupi oleh Dania, termasuk kehamilannya. Dania menahan laju air matanya, tapi sebuah pelukan hangat dari Almeer justru menjadikan air mata itu berjatuhan tanpa henti.


"Menangis lah jika itu meringankan beban di hati mu, Dania." Dania semakin kencang menangis di dalam pelukan Almeer.


Sudah satu jam mereka berada di sana, sudah puluhan kali juga Azka menghubungi Dania tapi Dania tetap mengabaikannya. Rasa lelah dan sakit hati kini memenuhi relung hatinya.


Drrttt...Drrttt...Drrttt...


"Angkat teleponnya, Dania. Kalau Azka meminta mu ke rumahnya, aku akan mengantarkan mu."


Kening Dania mengkerut dalam, merasa aneh dengan Almeer yang malah mau mengantarnya ke sana. Kemudian menjawab panggilan dari Azka.


"Iya, Kak Azka."


"Maaf, Non Dania. Ini Bibi Marni, yang bekerja di rumah Tuan Azka."


"Iya, Bi. Ada apa?."


"Non Dania, tolong sekarang ke rumah!. Tuan Azka pingsan setelah muntah-muntah terus. Bibi bingung, Non Dania. Tolong Bibi."


Dania menatap Almeer yang memberikan sebuah anggukan kecil.

__ADS_1


"Iya, Bi. Aku ke sana sekarang."


"Iya, Non Dania."


Dania mematikan sambungan teleponnya, lalu mengikuti Almeer menuju mobilnya yang terparkir.


Setelah melewati hampir 30 menit waktu tempuh, Dania dan Almeer sudah sampai di rumah Azka. Keduanya langsung diarahkan ke lantai dua, di mana kamar Azka berada.


Di sana sudah ada dokter Tantan yang baru selesai memeriksa keadaan Azka yang sudah sadar. Lalu dokter Tantan pamit undur diri dari hadapan mereka semua.


"Kenapa kamu baru datang, Dania. Rasanya aku mau mati, aku tidak sanggup kalau harus menjalani semua ini sendiri." Keluh Azka pada Dania dengan suara berat.


Almeer merasa kasihan dengan kondisi Azka yang memang sangat mengkhawatirkan. Tapi dia juga sangat membenci apa yang telah dilakukan Azka pada Dania sampai Dania harus menderita.


"Aku...aku tadi ke sekolah. Dan aku memang sengaja tidak ingin datang ke sini." Jawab Dania jujur.


"Kenapa?."


"Aku ingin terlepas dari Kak Azka, makanya aku ingin segera mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan mereka."


"Kamu tidak akan pernah mendapatkannya, Dania. Joanna tidak mungkin berkhianat."


Almeer mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian memudar satu video yang berdurasi cukup panjang lalu diserahkannya pada Azka.


"Setelah ini kau harus melepaskan Dania, jangan pernah kau ganggu lagi hidupnya. Biar kan Dania pergi dari permainan yang kau buat."


Azka tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Almeer karena fokusnya pada apa yang sedang dilihatnya.


Joanna dan Radit saling berpelukan dan berciuman dengan penuh gairah. Serta tangan mereka yang saling meraba dan menikmati setiap lekuk tubuh masing-masing. Hingga ciuman itu berakhir dengan mereka memasuki salah satu ruangan VVIP tempat tersebut.


"Tidak mungkin!."


Brak


Azka membanting ponsel Almeer hingga hancur di atas lantai.


"Pasti ini rencana kau, Almeer!. Kau menginginkan Dania bukan?. Makanya kau melakukan cara kotor seperti itu. Asal kau tahu, Almeer. Di dalam perut Dania ada benih ku yang sedang tumbuh."


"Tidak masalah Azka, karena Dania sudah mengatakannya pada ku. Dan kalau Dania mau, aku bersedia menjadi ayah untuk calon bayi mu."

__ADS_1


Deg...Deg...Deg...


__ADS_2