
Sore itu untuk pertama kalinya Azka berangkat bersama Dania menuju cafe miliknya. Itu pun Dania sudah telat tiga puluh menit. Entah di tambah berapa menit lagi jika sudah sampai di cafe.
Meninggalkan Adnan yang masih sibuk dengan pekerjaan yang diberikan Azka. Sementara Joanna pamitnya akan bertemu dengan teman-teman tongkrongannya.
Sesampainya di cafe, Almeer dan Shaka dari lantai 2 menatap intens pada mobil Azka yang baru saja terparkir di depan cafe. Keduanya tidak berkedip dari atas sana saat melihat Azka tidak sendiri di dalam mobil.
Sedangkan di dalam mobil, Dania kesusahan membuka pintu sebab Azka masih belum memperbolehkan Dania turun karena ada yang harus mereka lakukan.
"Ok, aku tidak boleh menyentuh mu. Tapi tidak dengan sebuah ciuman."
Cup
Setelah mengatakan itu tanpa adanya aba-aba, Azka langsung mengecup bibir Dania yang sedikit terbuka.
Dania tidak merespon atau menolak apa yang dilakukan oleh Azka. Tapi hal tidak terduka dikatakan oleh pria tampan tersebut.
"Belajar lah untuk membalas ciuman ku, Dania. Kamu bukan sebuah patung. Aku tahu kamu juga merasakannya." Azka mengusap bibir Dania yang basah karena air liurnya.
Azka sedikit membuka bibir itu kemudian menciumnya kembali penuh perasaan, tapi Dania belum juga meresponnya. Tapi, dengan sabar Azka terus ******* bagian atas bawah bibir Dania yang lebih berisi, sedikit menggigitnya lembut sehingga Dania memberikan respon. Belajar membalas ciuman Azka yang masih terasa lembut.
Ciuman Azka dan Dania samar-samar terlihat oleh Almeer dan Shaka. Almeer mengepalkan tangannya ketika mengingat perkataan Azka yang hanya bermain-mainnya bersama Dania. Ya, Almeer menyakini jika wanita yang di maksud Azka adalah Dania.
"Benar dugaan ku, kalau Azka ada main bersama Dania. Tapi kenapa Dania mau?. Kemarin saat bersama Adnan, Dania seolah memberinya harapan. Tapi, kini Dania dan Azka malah berciuman." Almeer mengucapkannya dengan nada penuh kekesalan bercampur api cemburu yang mulai berkobar.
"Kau tanya saja sendiri pada Azka." Saran Shaka.
Sebab jangan sampai persahabatan mereka kacau gara-gara wanita.
Azka dan Dania masuk bersamaan, hanya saja Dania langsung ke ruangan ganti sementara Azka langsung naik ke lantai 2.
Setibanya Azka di sana, Almeer langsung mencari tahu dengan bertanya langsung pada yang bersangkutan.
__ADS_1
"Kau dan Dania bermain di belakang Joanna?."
"Kalian sudah tahu?." Azka tertawa. "Ayo lah, Dania hanya mainan ku, tidak lebih!." Azka menepuk pundak Almeer dan Shaka bersamaan.
"Sekarang kau jangan permainkan Dania lagi, karena aku menyukainya." Tawa Azka seketika berubah menjadi wajah yang sangat tidak bersahabat bagi Almeer dan Shaka.
"Kau seperti tidak ada wanita lain saja, Almeer. Kenapa kau harus menyukai barang mainan ku?." Azka duduk sambil menatap Almeer dengan sangat intens.
"Mungkin bagi kau dia hanya sebuah mainan. Tapi, bagi ku dia gadis yang bisa aku jadikan partner hidup." Almeer sangat serius terhadap Dania.
Tidak peduli Azka dan Shaka akan memperolok perasaannya. Tapi, itu lah perasaannya pada Dania saat ini.
Azka terdiam mendengar pengakuan menohok dari sahabat yang dikenalnya. Apa yang tidak diketahuinya dengan kedekatan Danai dan Almeer, sehingga Almeer memiliki perasaan mendalam pada ibu dari anaknya.
Suasana di dalam ruangan itu sangat tidak nyaman bagi ketiganya, mereka hanya saling terdiam tanpa melakukan apa pun.
Hingga waktunya tutup cafe, baik Azka mau pun Almeer sama-sama terdiam. Hanya Shaka yang sesekali mengajak keduanya untuk bicara tapi ditanggapi hanya seperlunya oleh Azka dan Almeer.
Tatapan Azka dan Almeer kini tertuju pada Dania yang sedang berdiri di depan cafe, seperti biasa Dania menunggu ojek online pesanannya.
"Memang dia siapa?. Menyuruhku untuk mengakhiri yang belum ingin aku akhiri." Sewot Azka.
Shaka hanya bisa menggeleng sambil menghela nafas panjang.
"Aku akan menemani Almeer, aku takut dia minum dan tidak bisa pulang."
"Sekalian kau katakan padanya, dia harus mau menunggu ku bosan dulu kalau mau bersama Dania!." Balas Azka setengah berteriak pada Shaka. Sampai-sampai di pemilik nama pun menengok ke belakang dan terlihat Azka yang sedang menatapnya tajam.
Dania segera balik badan lagi karena ojeknya sudah ada di depan matanya. Tapi, saat Dania hendak menaikinya tiba-tiba Azka meminta ojek itu segera pergi setelah menyerahkan uang sebagai ganti rugi.
"Pergi, Bang!. Gadis ini tidak jadi naik."
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih." Siapa yang tidak senang di kasih uang cuma-cuma sebesar 200.000. Sedangkan pesanan yang dibatalkan hanya 34.700.
"Kenapa Kak Azka selalu berbuat sesuka hati pada ku?." Dania sangat kesal dengan sikap Azka yang seperti anak kecil.
"Masuk mobil ku sekarang!."
"Aku enggak mau!. Kak Azka mau apa?."
"Kau akan tahu akibatnya, Dania!." Azka langsung menggendong tubuh kecil Dania, meski Dania berontak tapi itu tidak masalah bagi Azka. Karena tetap bisa membawa Dania masuk ke dalam mobil miliknya.
"Kak Azka turunkan aku!. Lepaskan aku, Kak Azka!."
Dengan senyum devil, Azka membawa mobilnya menjauh dari cafe. Saat ini apartemen yang menjadi tujuannya.
"Kak Azka aku harus pulang!." Dania mencoba memecah konsentrasi Azka tapi Azka tetap fokus pada kemudinya.
"Kau mau tahu bukan, apa mau ku?. Nanti setelah sampai apartemen kamu akan tahu apa yang aku inginkan."
"Aku mohon antar kan aku pulang, Kak Azka!." Mohon Dania sangat lirih namun penuh penekanan kalimatnya.
Azka tidak menggubris apa yang menjadi permohonan Dania. Saat ini keinginannya hanya satu yaitu menikmati kembali tubuh yang sudah menjadi candunya.
Sementara itu di tempat lain, benar saja ketakutan Shaka terjadi. Almeer mendatangi sebuah klub malam yang sangat ramai pengunjung.
Almeer langsung meneguk minuman yang sudah ada didepannya, hingga sanggup menghabiskan 10 gelas sekaligus.
"Kau jangan terlalu banyak minum." Shaka melarangnya sambil mengambil gelas yang ke 11 lalu meneguknya.
"Aku benar-benar patah hati. Kenapa Azka harus menjadikan Dania mainannya?. Di mana mereka memulai semuanya?." Almeer kembali meneguk minuman yang sudah memenuhi gelasnya.
"Kau bisa bicarakan dengan Dania. Tapi kau harus berbesar hati untuk alasannya yang akan diberikan oleh Dania." Sebagai sahabat, tentunya Shaka ingin yang terbaik bagi Almeer dan Azka.
__ADS_1
Di tengah suara dentuman musik yang semakin membuat gendang telinga mau pecah, hilir mudik orang-orang berpasangan saling mencumbu yang ada di depan matanya. Sampai Almeer dan Shaka menegaskan penglihatan mereka pada dua sosok yang sangat dikenalnya sedang melantai bersama.
Ya, di sana ada Joanna dan Radit yang sangat intim. Momen kebersamaan mereka pun diabadikan oleh Almeer dan Shaka.