Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 80 Azka Narendra


__ADS_3

Makan malam berakhir ditutup dengan hal yang sangat manis. Di mana Rania sudah menjadi kekasih Dokter Tantan karena sebuah permainan yang dimenangkan oleh pria tersebut. Sepertinya Dokter tampan itu tidak mempermasalahkan sebab musabab mereka menjadi kekasih. Yang penting baginya, sekarang adalah mereka sepasang kekasih.


"Besok aku akan menjemputmu." Ucap Dokter Tantan saat sudah sampai di depan rumah besar Rusli. Karena atas permintaan tuan rumah, maka Rania pun masih tinggal di rumah itu.


"Apa itu tidak berlebihan?."


"Tidak, justru itu akan menjadi awal yang baik."


Rania hanya terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Selamat malam, Rania." Dokter Tantan berusaha mencairkan sisi hati Rania yang lain, siapa tahu bisa dirinya selami. Tidak masalah jika Dokter Tantan harus berubah menjadi pria yang banyak bicara untuk mengimbangi Rania yang irit Bicara.


Rania hanya tersenyum tipis sebelum menutup pintu rumah. Dokter Tantan kembali masuk ke dalam mobil dan meninggal rumah besar tersebut.


Sedangkan di apartemen, Azka gagal menjalankan keinginannya karena ternyata tubuh Zayyid demam dan Dokter Levi yang masih berada disekitaran apartemen Azka segera meluncur kesana guna mengecek kesehatan Zayyid. Karena mereka sengaja ingin menghabiskan malam ini berdua dengan berjalan kaki di sekitar sana.


Pemeriksaan telah dilakukan, Zayyid hanya demam biasa. Bukan karena apa-apa. Dania bisa melakukan banyak cara untuk menurunkan demam Zayyid tanpa minum obat. Namun Dokter Levi tetap memberi Dania resep obat penurun panas untuk Zayyid


Fathia merasa sedih karena kondisi Zayyid yang kurang sehat. Kalau bisa dan boleh, rasanya Fathia ingin selalu berada di dekat anak itu.


"Besok sebelum ke kantor, aku akan mengantarkanmu ke sini untuk melihat si tampan Zayyid. Tapi, sekarang biarkan anak itu untuk istirahat. Itu yang dibutuhkannya." Dokter Levi meletakkan tangannya pada pundak Fathia sambil menatap Zayyid yang tidur tenang dalam gendongan Azka.


"Dokter sudah janji ya, jangan lupa kita kesini lagi."


"Iya." Dokter Levi mengacak gemas rambut Fathia.


Kemudian keduanya berpamitan dan segera pulang. Meninggalkan Azka dan Dania yang malam ini akan begadang menjaga buah hati mereka tercinta.


Azka pun memberitahu Inara dan Rusli serta Barata yang ada di Kanada. Jarak dan waktu tidak menjadikan masalah yang begitu berarti untuk tetap bisa bicara satu sama lain.

__ADS_1


Sama halnya dengan Dania dan Azka, bahkan Fathia. Mereka di sana juga sangat bersedih dengan keadaan Zayyid saat ini. Mereka bisa merasakan apa yang anak itu rasakan.


Obrolan mereka cukup lama, termasuk kehamilan Inara yang semakin membaik dan tubuhnya kian berisi karena makan terus. Dan Rusli pun sama, terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Pria itu sengaja memanjangkan rambutnya supaya bisa diikat.


Sambung telepon pun harus berakhir kala Zayyid mulai menangis dalam gendong Azka. Kini Dania yang mencoba menenangkan dalam gendongannya. Dan cukup berhasil. Zayyid kembali tidur pulas dalam pelukan Mommy nya.


Sepanjang malam Zayyid hanya bisa atau mau tidur dalam gendong Azka ataupun Dania saja. Begitu juga dengan pagi ini yang Fathia coba lakukan untuk menggantikan Dania, tapi anak kecil itu tudak mau. Zayyid justru terbangun dan menangis.


"Kenapa Zayyid tidak mau pada ku?." Tanya Fathia sambil memasang wajah sedih. Berharap sekali bisa menggendong anak itu, malah berujung kecewa. Tapi Fathia sangat mengerti dengan kondisi Zayyid yang lebih ingin dekat dengan Mommy dan Daddy nya.


Fathia dan Dokter Levi kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kantor dan bisa dipastikan kalau Mommy dan Daddy muda itu tidak akan ke kantor hari ini. Walau Dania tahu ada agenda meeting penting siang ini.


"Bagaimana kalau putra kita tidak kunjung reda demamnya?." Azka begitu khawatir terhadap putra pertama mereka. Walau sudah berulang kali Dokter Levi menjelaskannya. Padahal tadi juga Azka dan Dania menghubungi Dokter Tantan. Penjelasan Dokter Tantan pun sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Levi. Jadi seharusnya mereka bisa bersikap lebih tenang dan santai dalam menyikapi kesehatan Zayyid.


Di sini, Dania memang cukup bisa santai dan berusaha untuk tetap tenang dalam memantau keadaan Zayyid. Sangat berbeda dengan Azka.


"Kak, berangkat saja ke kantor. Aku dan Zayyid akan baik-baik saja. Hari ini ada meeting penting dan Kak Azka harus hadir." Dania mencoba meyakinkan suaminya untuk tetap datang menghadiri meeting lalu bisa pulang kalau sudah selesai.


"Terserah Kak Azka kalau masih tetap tidak ingin berangkat." Akhirnya Dania tidak ingin lagi membujuk Azka karena hasilnya pasti akan sama.


Beberapa jam kemudian, keadaan Zayyid membaik disaat sudah pukul tiga sore. Azka dan Dania bisa bernafas lega karenanya. Zayyid sudah tidak rewel dan menangis lagi. Senyum mulai perlahan terlihat lagi dari wajah tampannya.


"Mommy dan Daddy sangat bersyukur sayang, kamu sudah lebih baik. Sudah tidak demam lagi." Dania berulang kali mengecup pipi Zayyid. Si kecil Zayyid sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Dania.


"Oh Zayyid, akhirnya Daddy bisa bernafas lega." Azka mengusap dadanya. Menarik nafas dalam-dalam karena ada hal lain juga yang kini sangat menggangunya.


"Ada apa Kak?. Zayyid sudah sehat, kenapa Kak Azka masih terlihat seperti ada beban?." Pria tampan itu menatap Dania lalu menarik nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya.


"Papa memberikan jabatan sekretaris pada anak teman Papa. Dan hari ini sudah masuk kerja, aku lupa memberitahu Papa kalau jabatan itu sudah diisi oleh mu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak. Mungkin dia lagi membutuhkan pekerjaan." Dania tidak pernah berpikir jelek atau buruk pada orang.


"Kamu tidak tahu saja sayang, wanita itu seperti apa kalau sudah beraksi." Jawab Azka.


"Kak Azka mengenalnya?."


Azka menganggukkan kepalanya lemah.


"Kenapa lagi?."


"Dulu, wanita itu sering mengatakan suka dan cinta pada ku."


"Oh ya, sekarang juga?."


Azka menggeleng lemah.


Karena setahunya dulu juga pernah beberapa kali wanita itu menjebaknya dengan kejadian-kejadian cukup mengerikan saat mereka kuliah semester awal. Itu pun saat dirinya sudah bersama Joanna.


Pembicaraan Azka dan Dania terhenti ketika ada orang yang menekan bel apartemen.


"Siapa?." Tanya Azka pada Dania.


"Mungkin Fathia."


Azka segera berjalan kearah pintu dan langsung membukanya tanpa melihatnya terlebih dulu.


"Elma?."


"Azka!." Wanita itu langsung memeluk tubuh tegap Azka yang diam mematung di depan pintu.

__ADS_1


Dania menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Suaminya diam saja saat dipeluk oleh wanita lain, meski Azka tidak beraksi membalasnya.


__ADS_2