
"Aku pasti akan kangen kalau Om tampan pergi selama itu." Medina bermanja di dada bidang pria yang usianya jauh lebih tua darinya.
Mungkin lebih pantas sebagai ayah Medina, tapi itu lah hubungan dan perasaan. Mereka datang tidak mengenal waktu dan tempat. Sepertinya yang terjadi pada Medina dan Om tampannya.
"Apalagi Om, cantik. Om pasti akan lebih merindukan mu. Senyum manis ini, bibir ini dan pelukan ini." Om tampan milik Medina langsung memeluk tubuh ramping Medina.
"Geli, Om Tampan." Medina terkekeh saat di gelitik oleh Om tampan sambil menempelkan brewoknya pada pundak Medina yang terbuka.
Medina bangkit dan mengambil minuman kemasan di dalam kulkas. Sementara Om Tampannya duduk bersandar di sofa.
"Om sudah mengisi ATM milik mu."
"Uang yang kemarin masih banyak, Om Tampan. Aku rasa cukup kalau aku mau beli rumah mewah."
"Beli lah, sayang. Nanti kalau kurang Om akan menutupi kekurangannya. Oh iya, bagaimana dengan teman mu yang membutuhkan uang banyak itu?. Apa sudah selesai masalahnya?."
Medina menyodorkan satu minumannya pada Om Tampan. "Mereka lebih memilih pindah ke rumah yang lebih kecil karena rumahnya sudah diberikan pada pihak bank. ATM nya sudah aku kembalikan kan pada Om Tampan."
"Masih ada di laci kamar, sayang. Om kira sudah tidak ada uangnya lagi."
Medina menggelengkan kepala. Tidak, uangnya masih utuh."
"Berikan Om vitamin sayang, sebelum Om berangkat besok pagi." Om Tampan Medina menarik tubuh Medina hingga terjatuh di atas pangkuannya.
Hubungan yang tidak lazim itu terjalin semenjak Medina duduk di kelas 3 SMP. Di mana kala itu Medina dan Om Tampannya bertemu di salah satu villa di Bali, kalau Medina sedang berlibur bersama teman-teman satu kelasnya. Sedangkan Si Om Tampan sedang meeting dengan para kliennya.
Dan hubungan itu terjalin dan bertahan sampai sekarang dan entah sampai kapan mereka akan mempertahankan hubungan yang salah itu?.
Sementara itu Azka dan Dania masih berdebat kusir di lantai 2 yang menjadi ruangan kerja Azka dan kedua sahabatnya.
"Menuruti keinginan ku atau aku bongkar rahasia besar hidup mu?." Ancam Azka dengan sengit setelah Almeer, Shaka dan Joanna keluar dari ruangan itu.
"Oh, sekarang Kak Azka mengancam ku dengan kehamilan ini?." Aku tidak takut!."
__ADS_1
"Boleh juga keberanian mu, Dania. Mungkin buat mu tidak masalah, tapi apa bagi Mama dan Papa mu ini tidak masalah juga?. Sebab setahu ku mereka begitu peduli dan menjaga mu, benar bukan?."
Nyali Dania seketika menciut kala Azka sudah membawa nama kedua orang tuanya.
"Apa sekarang kamu masih bisa menolak ku, Dania?." Tanya Azka dengan jarak yang begitu dekat setelah CCTV yang ada di ruangan itu dimatikan oleh Azka.
Azka langsung memeluk tubuh Dania dan menguncinya hingga Dania tidak bisa berontak.
"Setiap pagi aku begitu tersiksa dengan kehamilan simpatik itu. Hanya saat di dekat mu saja aku tidak mengalaminya, jadi kamu harus mau menerima tawaran ku." Azka melabuhkan ciuman lembut di bibir Dania yang merah karena pewarna.
Dania tidak bisa menolak lagi karena banyak yang harus dirinya pertaruhan jika tidak menerima tawaran tersebut. Tapi, di sini Dania mencoba bernego dengan manusia egois seperti Azka.
"Kak Azka..." Dania mencoba tidak terbawa arus kenikmatan yang berusaha Azka ciptaan atas tubuhnya lagi.
"Hem..." Azka mencium aroma wangi tubuh Dania yang memang sangat wangi dan sanggup menenangkan jiwanya.
"Aku akan mengikuti semua keinginan Kak Azka, asalkan Kak Azka mau melakukan satu hal saja untuk ku." Dania sudah memejamkan matanya saat gelenyar aneh menyerang dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan?."
"Cari lah kebenaran tentang Joanna dan Kak Radit. Bukan untuk ku atau bayi ku. Tapi, untuk Kak Azka sendiri yang akan hidup bersama Joanna. Jangan sampai kebohongan menjadi landasan hubungan kalian berdua." Dania menurunkan kembali kaosnya karena kini Azka menjauh dari tubuhnya.
"Aku tidak mau menurutinya." Tolak Azka.
"Ok, kalau itu jawaban Kak Azka. Sekarang, kalau aku yang bisa membuktikan pengkhianatan mereka. Kak Azka harus mau melakukan apa yang aku minta. Bagaimana?."
"Aku juga tidak menyetujuinya. Aku sangat percaya pada Joanna ku!."
Dania menatap kesal pada Azka karena Azka sangat keras kepala tapi terlalu bodoh dan buta karena cinta Joanna.
"Walau pun Kak Azka tidak mau, aku tetap akan membuktikannya untuk diri ku sendiri yang tidak pernah salah dalam masalah kalian."
"Ok, aku terima kalau seperti ini. Aku akan melakukan apa pun yang kamu kalau berhasil membuat ku percaya kalau kamu tidak bersalah."
__ADS_1
"Setuju." Keduanya bersalaman dan mulai besok pagi Dania akan datang ke rumah besar milik Azka Narendra.
Pagi-pagi sekali di rumah Azka, Joanna dan Adnan yang mengantarkan Rusli dan Inara serta Eva dan Darwin ke bandara. Azka tidak bisa ikut menemani karena keadaannya yang sedang muntah-muntah.
Walau pun Inara sangat berat meninggalkan Azka di saat sedang sakit. Tapi, pekerjaannya bersama Rusli tidak kalah jauh penting dan Inara pun hanya bisa menyimpan kesedihannya di dalam hati saja.
Dua mobil mewah itu sudah keluar dari pekarangan rumah besar Azka Narendra.
"Joanna, Tante titip Azka ya. Tolong perhatikan segala kebutuhannya, jangan biarkan Azka merasa sendiri dan kekurangan." Ucap Inara saat mobil sedang melaju di jalan tol.
"Iya, Tante Inara. Aku akan melakukan apa yang Tante pesankan pada ku." Jawab Joanna sambil tetap fokus menyetir.
"Kau tenang saja, Joanna sudah pilihan yang paling tepat untuk putra kita. Jadi Joanna sudah tahu dengan apa yang harus dilakukannya pada Azka." Rusli ikut menimpali.
"Tante senang mendengarnya, Joanna. Terima kasih."
"Sama-sama, Tante Inara."
Di dalam mobil pun sudah hening, tidak ada lagi yang berbicara. Rusli sendiri sudah sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Memeriksa beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan Azka.
Sedangkan di kamar Azka, pria itu dari setengah jam yang lalu belum keluar dari kamar mandinya. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak berdamai, sehingga Azka sudah sangat lemas dibuatnya.
Dania yang baru datang langsung di minta untuk menuju kamar Tuan mereka. Karena itu yang sudah diperintahkan oleh Azka.
Dania melihat isi kamar besar tersebut, sangat besar dan mewah dengan barang-barang yang pastinya sangat mahal. Tapi, Dania tidak menemukan manusia menyebalkan dan bodoh itu.
"Di mana dia?." Gumam Dania sambil menatap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Tapi, Dania tidak mau lancang. Dirinya tetap berdiri ditempatnya.
"Dania, kamu sudah datang?." Dania melihat pria itu sudah berada di atas lantai dengan pakaian yang sudah basah semua.
"Kak Azka!."
"Apa separah ini, Kak?." Dania merasa iba dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1