Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 39 Azka Narendra


__ADS_3

Azka dan Almeer berdiri di luar di dekat mobil Almeer yang parkir tepat di depan rumah Dania. Kedua pria dewasa itu bicara empat mata mengenai Dania dan calon bayinya.


"Apa lagi yang kau ingin kan dari Dania?."


Jujur saja, Almeer sangat cemburu melihat ada Azka di rumah Dania setelah apa yang telah dilakukan oleh pria itu. Padahal Almeer sudah mengira jika Azka tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Dania.


"Aku menginginkan Dania dan calon bayi kami." Jawab Azka jujur.


Almeer tersenyum sinis sambil melipat kedua tanganya di dada.


"Setelah apa yang telah kau lakukan pada keluarganya?. Kau tidak malu sedikit pun untuk muncul di hadapan Dania?." Almeer mengingatkan semua kesalahan yang telah diperbuat oleh Azka.


"Aku tahu kesalahan ku sudah tidak termaafkan, tapi setidaknya aku sudah meminta maaf pada Dania atas apa yang telah aku lakukan."


"Kau memang egois!." Almeer meninggalkan Azka di depan, dirinya masuk ke dalam rumah menemui Dania.


"Kak Almeer."


"Apa yang telah dia lakukan pada mu, Dania?. Apa dia menyakiti mu lagi?."


Dania menggeleng. "Tidak, Kak Almeer!."


"Lalu kenapa dia ada di sini, Dania?. Kamu lupa apa yang telah dia lalukan pada mu dan keluarga mu?. Apa dengan mudahnya kamu bisa memaafkan orang itu dan mau kembali padanya?." Ucap Almeer di depan wajah Dania.


Almeer tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengekspresikan dirinya akan cintanya yang begitu besar pada Dania. Dirinya sangat takut kalau Dania akan kembali dalam pelukan Azka.


"Kak Almeer tenang dulu, aku tidak akan pernah kembali pada Kak Azka. Kak Azka hanya singgah di sini bukan untuk menetap." Dania menunjuk dadanya sendiri. "Karena aku akan ikut kemana pun Kak Almeer membawa ku."


"Benar kah Dania?. Berarti aku bisa menikahi mu dan menjadi ayah dari calon bayi mu?."


Dania mengangguk saat Azka sudah berada di depan pintu. Dania yakin jika Azka melihatnya.


"Empat bulan setelah bayi ini lahir, Kita akan menikah dan tinggal bersama di rumah yang Kak Almeer belikan untuk ku."


Karena luapan dari rasa bahagia atas apa yang telah dikatakan oleh Dania, Almeer langsung memeluk tubuh Dania dengan sangat erat. Dania membalas pelukan Azka dengan tidak kalah erat sambil melihat Azka yang masih mematung ditempatnya.


"Aku ingin belajar mencintai Kak Almeer dan belajar untuk melupakan Kak Azka." Batin Dania.


Tatapan mereka beradu untuk beberapa saat sampai Almeer melepaskan pelukannya lalu mencium kening Dania dengan begitu sayang untuk beberapa lama.


"Aku akan membuat mu sangat bahagia."


"Teirma kasih Kak Almeer."


Keduanya berpelukan lagi dan Dania sudah tidak menemukan Azka di sana, kedua mata Dania terpejam. Entah pergi kemana pria itu dan rasanya sangat berbeda.

__ADS_1


"Tidak akan susah untuk mencintai orang sebaik Kak Almeer." Batin Dania lagi.


.....


Pagi ini, pagi pertama Dania bekerja di toko bunga Dania. Tentu saja Almeer yang telah mengantarnya sekalian Almeer berangkat ke kantor milik keluarganya.


Setelah perkenalan dengan satu pegawai yang beberapa hari ketus padanya, Dania mulai melayani beberapa pembeli yang berdatangan.


Hernita, si pegawai ketus itu cukup takjub dengan kemampuan yang dimiliki Dania saat merangkai bunga dengan cepat namun sangat cantik untuk ketiga pembelinya. Sampai-sampai ketiga pembeli itu memberikan Dania uang karena puas dengan rangkaian bunganya sebelum meninggalkan toko.


"Dania!."


Dania menengok asal sumber suara sambil tetap merapikan potongan tangkai bunga yang tidak terpakai.


"Iya Kak." Dania memasukkan tangkai-tangkai tersebut ke dalam tong sampah khusus. Kemudian Dania menghampiri Hernita yang berdiri di area kasir.


"Sebelum kerja di sini kamu bekerja di mana?." Tanya Hernita ingin tahu.


Dania hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa Kak?."


"Kami sangat mahir dalam merangkai bunga, sangat cantik."


Hernita mengangguk mempercayainya.


"Tapi, ngomong-ngomong kenapa nama toko ini sama dengan nama mu, Dania?." Tanya Hernita.


"Kalau itu aku tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan saja. Aku harus ke sana ada pembeli." Dania langsung meninggalkan Hernita dan menghampiri pembeli.


Pembeli wanita itu menatap sinis pada Dania yang berdiri disampingnya.


"Kau kan Dania yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil duluan?."


Dania hanya diam dan mendengar apa yang dikatakan pembelinya. Berharap dirinya tidak akan dikeluarkan dari sini karena masalah perutnya.


"Apa mereka tahu kalau kamu sedang hamil karena menggoda pria kaya yang sebentar lagi akan menikah?.


"Wah kamu hebat sekali sanggup melemparkan diri mu pada pria kaya itu demi segepok uang. Tapi, sayangnya pria itu tidak mau bertanggung pada bayi mu."


Dania tetap diam, tidak ingin membalasnya supaya tidak terjadi keributan di dalam toko. Lebih baik Dania menelan perkataan pembeli itu meski sangat menyakitkan.


Setelah memilih beberapa bunga, wanita itu melewati tubuh Dania dan dengan sengaja menyenggolnya. Namun untungnya Dania tetap mampu bertahan ditempatnya.


"Aku ingin kamu yang merangkainya."

__ADS_1


"Iya Kak."


Hernita menatap Dania yang sedang menatap kearahnya.


Dania hanya mampu menarik nafas, mungkin setelah ini dirinya akan dikeluarkan dari tempat yang penuh dengan kenangan.


"Kamu harus hati-hati pada pegawai yang satu itu, pegawai itu wanita murahan." Tunjuk pembeli itu pada Dania sebelum keluar dari toko, sehingga Hernita merasa heran. Lalu mendekati Dania.


"Kamu mengenal wanita tadi?.


Dania menggeleng sebab memang Dania tidak mengenalnya.


"Tapi kok bisa dia mengatakan kalau kamu wanita murahan."


"Entah lah, aku juga tidak tahu."


Hernita menatap Dania dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi. Jika dilihat dengan seksama sih memang Dania sangat cantik tapi, tidak terlihat seperti wanita murahan seperti yang dikatakan wanita tadi.


"Lalu atas dasar apa wanita tadi mengatakan itu pada mu?." Hernita masih penasaran.


Sementara itu Medina tidak masuk sekolah karena Om Tampannya meminta bertemu pagi ini di apartemen.


"Om sangat rindu pada mu." Pria itu mengecup bibir Medina dengan sangat mesra, selalu berhasil membuat Medina terbakar api gairah.


"Om, aku sedang datang bulan." Medina menghentikan tangan kekar pria itu yang hendak melepas kain segitiga berwarna merah menyala.


"Oh sayang sekali, sayang. Padahal Om sudah lama tidak melakukannya dengan mu." Wajah Om Tampan berubah kecewa. Pagi ini berharap bisa bercinta dengan Medina, eh malah Medina nya sedang ada tamu bulanan.


Karena tidak ingin mengecewakan Om Tampannya, Medina memuaskannya dengan cara lain yang sama-sama mampu membakar jiwa pria tersebut.


"Kamu selalu yang terbaik sayang." Medina mendapatkan sebuah ciuman yang sangat hot.


Kini mereka bersantai di atas tempat tidur saling memeluk. Tiba-tiba saja ponsel Om Tampan berdering dan Medina mengambilnya dari atas nakas.


"Eva siapa?." Tanya Medina pada Om Tampan sambil menyerahkan ponselnya.


"Wanita gila yang mau memberikan tubuhnya pada ku demi pernikahan putrinya bersama putra ku."


"Terus Om Tampan mau pada wanita gila itu?. Siapa tahu permainannya lebih hot dari pada aku?.


"Pria kan tidak pernah puas hanya dengan satu wanita saja." Rajuk Medina.


"Buktinya aku bisa sayang, aku sudah tidak pernah menyentuh Inara lagi setelah aku jatuh cinta pada mu."


"Gombal."

__ADS_1


__ADS_2