Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 18 Azka Narendra


__ADS_3

"Kenapa, Radit?." Tanya Joanna masih dengan posisi setianya di bawah tubuh atletis Radit.


Pagi tadi, setelah tahu Azka pergi ke dokter. Joanna langsung pergi ke kampus. Tapi, saat di area parkir Joanna dan Radit berpapasan dan akhirnya mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berdua.


"Dania belum pulang." Jawab Radit kembali memompa Joanna.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi di mana ya?. Ahhh...Radit semakin dalam, aku sangat suka." Pinta Joanna sambil menggila di bawah sana.


"Seperti yang kamu mau, princess."


Radit selalu menuruti apa yang diinginkan oleh Joanna, makanya Joanna selalu dan selalu datang padanya untuk minta dipuaskan.


Sementara itu ketiga sahabat Dania yang sekarang berkumpul di rumah Salma, mereka semua masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Dania. Mereka bertiga bukan gadis bodoh yang tidak mengerti dengan suara merdu Dania.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Dania?." Tanya Medina mulai buka suara.


"Mungkin kaki Dania terpijak atau terkena air panas yang tumpah mengenai anggota tubuh Dania yang lain?." Timpal Fathia masih berbaik sangka.


"Tapi kenapa harus bersuara merdu seperti itu?." Sanggah Medina yang lebih paham soal begituan.


"Terus seharusnya bagaimana?." Tanya Salma.


"Supaya kamu tahu bagaimana suaranya, lebih baik kamu coba sendiri jatuhkan benda itu ke kaki mu atau ambil air panas lalu tumpahkan pada paha deh." Jawab Medina bercanda.


Sebab Salma sangat ingin tahu, karena diantara mereka berempat hanya Salma dan Dania yang terbilang jauh dari hal-hal yang berbau-bau orang dewasa.


"Sakit lah, Medina!." Protes Salma sambil meringis seolah kedua benda itu memang mengenai dirinya.


Ketiganya kembali diam, berpikir keras tentang Dania yang melakukan itu karena apa dan bersama siapa?.


"Apa di rumah Pak Rusli dan Ibu Inara ada orang lain lagi yang tinggal di rumah itu?. Karena tidak mungkin jika Dania bersama Azka Narendra. Kita tahu juga pria setia itu." Fathia mencoba menebak dengan analisanya sendiri.


"Kamu benar. Lalu sama siapa dong?." Tanya Salma.


Medina dan Fathia mengangkat bahu mereka tinggi-tinggi karena ya, mereka memang tidak mengetahuinya.


Sedangkan di apartemen milik Azka Narendra, si pemilik suara merdu itu sedang terbaring lemas tanpa kain yang menutupi tubuhnya di atas tempat tidur yang menjadi saksi pergulatan panas mereka.


Meski Dania sangat tidak menginginkan penyatuan dirinya dan Azka, tapi tetap bibirnya tidak bisa berhenti bersuara merdu. Karena ini baru pertama bagi Dania dan rasanya sangat memabukkan. Dibarengi dengan kemampuan Azka yang sudah hafal titik-titik sensitif Dania yang bisa dengan cepat dibangkitkan oleh Azka.

__ADS_1


"Aku tidak percaya jika sekarang ada sebuah kehidupan di dalam perut mu yang masih rata." Ucap Azka menyapu permukaan kulit perut Dania dengan bibir seksinya.


Bibir Azka terus saja bermain di area perut Dania.Sebab, Dania sendiri sudah sangat kelelahan dan tidak memiliki tenaga untuk mengomentari perkataan Azka lagi.


"Tumbuh lah dengan baik di dalam sana, jangan pernah takut pada apa pun yang ada di dunia ini. Karena ada aku dan Dania yang akan membimbing, melindungi dan merawat mu." Lagi-lagi bibir Azka sudah puluhan kali mendaratkan kecupan-kecupan singkat yang sangat menggemaskan.


"Aku tidak akan menelantarkan mu dan Dania meski nanti aku sudah menikah dengan Joanna. Kamu akan mendapatkan hak yang sama dengan putra kami nanti." Bibir Azka kini semakin naik hinggap pada Dada Dania yang diyakininya masih akan membesar lagi.


Azka sangat memanjakan bibirnya dengan tubuh indah Dania yang semakin sempurna dengan kehamilannya.


Air mata Dania akhirnya meleleh juga walau matanya terpejam. Hatinya penuh sesak setiap mendengar penuturan Azka tentang si calon bayi mereka. Kisah cinta pertamanya yang sangat tragis sekaligus penghancur masa depannya.


.....


Dania sudah kembali ke rumah dengan cepat, Papa Hamzah yang menjemput langsung ke tempat kerja Dania. Adnan dan Almeer yang berniat akan mengantar Dania pun harus berbesar hati ketika Papa Hamzah sudah menunggu anak gadisnya di depan cafe.


Mama Ningrum sudah menunggu kepulangan Dania.


"Di rumah Pak Rusli dan Ibu Inara selain kamu ada siapa lagi?." Tanyanya dengan tidak sabaran.


"Ada beberapa mahasiswa dan pelajar SMA yang lain juga, Ma." Jawab Dania santai karena dirinya sudah bisa menebak jika ini pasti karena suara desahannya.


"Tadi saat kita sedang berbicara di telepon, apa mereka ada di dekat mu, Nia?." Mama Ningrum masih berusaha berpikir positif.


Dania melihat Mama Ningrum mengelus dada.


"Maaf kan Dania, Ma. Dania harus bohong sama Mama Papa." Batin Dania penuh sesal. Tapi dirinya pun tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mereka.


"Baik lah, Nia. Mama Papa lega mendengarnya. Sekarang kamu istirahat, besok masih harus sekolah." Mama Ningrum mengusap pucuk kepala Dania dengan sangat teramat sayang.


"Iya, Dania masuk kamar dulu." Dania pun masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya.


Berita kehamilannya beberapa jam yang lalu kembali terngiang dalam ingatannya. Bagaimana bisa dirinya menyakiti hati kedua orang tuanya?. Bagaimana bisa dirinya menyembunyikan ini dari kedua orang tuanya dan para sahabatnya?.


Sesak, Dania memegangi dadanya yang teramat sakit karena berita yang seharusnya menggembirakan. Tapi ini justru malah memperburuk masa depan dan jalan hidup Dania.


Seorang calon bayi yang hadir di saat semuanya sedang Dania perjuangkan. Masa depan, cita-cita, harapan dan impian, kini semuanya tampak suram bagi dunia Dania.


Keesokan paginya di sekolah, saat Dania sedang berjalan sendiri menuju kelasnya. Adnan sudah tiba lebih dulu di depan Dania sambil membawa satu kantong plastik berisi beberapa kue.

__ADS_1


"Tadi aku membelinya di jalan, rasanya tidak kalah enak dengan kue-kue yang di jual di mall." Adnan menyerahkan kantong tersebut pada Dania.


"Terima kasih, Kak Adnan." Dania menerimanya.


"Nanti pas istirahat Pak Gupta meminta bertemu dengan mu di gedung kampus, bisa?."


"Ada apa ya, Kak Adnan?."


"Biasanya kalau Pak Gupta itu membahas soal untuk ujian atau tes masuk universitas."


Dania mengangguk mengerti.


"Iya, aku akan ke sana. Kak Adnan."


"Ok, pasti Pak Gupta akan senang."


Dania ikut tersenyum saat Adnan tersenyum. Kemudian perhatian keduanya beralih pada suara wanita cantik yang memanggil Adnan.


"Adnan!."


"Joanna."


Dania menatap intens wanita cantik yang akan menjadi istri dari Azka Narendra yang telah berselingkuh dengan Kakaknya, Radit.


Joanna pun sama, menatap lekat wajah Dania sambil tersenyum sedikit sinis.


"Ini calon kakak ipar ku, Adnan?." Joanna menunjuk kearah Dania, sementara Dania bersikap biasa saja.


"Ini Dania, adiknya Radit."


"Ooo."


"Mana Azka?."


"Lagi malas aku sama Azka, setiap pagi kerjanya cuma muntah-muntah. Jadi sudah berobat pun tetap sama, belum sembuh juga."


"Serius?."


"Iya, begitu."

__ADS_1


Dania tersenyum tipis saat Joanna mengatakan kalau Azka sedang muntah-muntah karena kehamilannya.


"Semoga saja sampai kamu lahir, Kak Azka tetap muntah-muntah seperti itu. Supaya Kak Azka lebih bisa merasakan kehadiran mu." Batin Dania.


__ADS_2