
"Ku kira hubungan kita masih bisa diselamatkan dengan kamu menyeret pria itu ke dalam penjara. Tapi, justru kamu malah menikmati perselingkuhan mu bersamanya. Jadi lebih baik aku mengakhiri hubungan kita." Pungkas Azka menatap Joanna yang terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya sambil menangis.
Setelah menghapus air matanya Azka pun keluar dari apartemen tersebut. Dirinya sangat sedih dengan perpisahan mereka yang tidak pernah terlintas dalam pikiran Azka.
Hubungan yang dibangunnya dengan kepercayaan dan penuh cinta, nyatanya sekarang harus berakhir dengan sangat sia-sia. Karena semuanya itu tidak dihargai oleh Joanna.
Meski pun demikian, ada sedikit kelegaan yang dirasakan oleh Azka saat sudah pergi jauh meninggalkan apartemen itu. Kenangan mereka akan tetap ada tapi sudah tidak miliki pengaruh apa pun bagi hidup seorang Azka.
Sekilas ingatannya kembali pada wajah Dania yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Wajah yang satu bulan penuh dilihatnya demi memuluskan rencananya dan berhasil menjerat gadis polos itu.
Meninggalkan Joanna yang masih tidak percaya dengan malam bahagia mereka yang harus berakhir menjadi sebuah bencana. Bencana besar yang sanggup merusak semuanya seketika.
Tidak ada penyangkalan atau sanggahan yang dilayangkan oleh Joanna mengenai video dirinya dan Radit. Karena kejadian itu masih baru, jadi Joanna hanya tertunduk malu dan lesu.
"Radit yang harus disalahkan atas semua kejadian yang menimpa ku, kalau bukan karena kecerobohannya hal seperti ini tidak akan pernah terjadi." Gumam Joanna sambil memukul-mukul lantai dengan tangan lentiknya.
"Aku bersumpah Azka, kamu hanya akan menjadi milik ku bukan wanita lain!. Kalau aku tidak bisa memiliki mu maka kamu harus mati!." Sumpah Joanna dengan rasa sakit hati yang luar biasa.
Kenikmatan dalam bercinta bersama Radit nyatanya tidak mampu menjadi penawar bagi rasa sakit hati Joanna karena cintanya pada Azka. Dia benar-benar mencintai Azka Narendra, namun penuh dengan keserakahan.
Sedangkan di tempat lain, Radit sedang mencecar Rania dengan banyak pertanyaan mengenai apa yang di lihat oleh matanya di atas meja kosan Rania. Tapi, dengan cepat Rania membantah dan menceritakan apa yang ditemukannya di kamar Dania. Jadi kemungkinan itu adalah milik Dania.
Radit tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Rania. Sebab Radit juga tahu Rania selalu mencari kesalahan Dania. Dania merupakan adiknya yang sangat polos dan bisa dikatakan sangat awam terhadap yang berbau-bau hubungan dewasa. Hingga sudah puluhan kali Radit memastikannya lagi dan jawaban Rania tetap sama. Kalau semuanya itu bukan miliknya melainkan milik Dania.
"Siapa yang sudah menghancurkan Dania?." Batin Radit. Meski dia telah menipu Dania dengan uang 30 jt itu, tapi dirinya sangat tidak rela jika adik bungsunya sampai harus hamil di luar nikah.
Dengan langkah seribu Radit pergi membawa hasil USG yang dikatakan Rania milik Dania. Tapi, Radit sangat beratap jika itu milik Rania bukan Dania.
Pagi-pagi sekali Radit sudah mengetuk pintu rumah kedua orang tuanya. Penghuni Rumah yang sudah duduk di meja makan pun harus menoleh kearah pintu dan saling melempar pandang.
"Siapa yang datang?." Tanya Papa Hamzah.
Dania dan Mama Ningrum menjawabnya serempak. "Enggak tahu."
Tidak lama kemudian, suara Radit terdengar dari luar memanggil nama Dania.
"Dania!. Dania!. Dania!."
__ADS_1
"Kak Radit?." Dania heran kenapa Radit datang sambil memanggil namanya dengan sangat kencang. "Ada masalah apa lagi?." Batin Dania.
"Kenapa harus teriak-teriak?." Ucap Mama Ningrum lirih.
Dania hanya menggelengkan kepalanya.
"Biar Papa saja yang buka pintunya." Papa Hamzah bangkit kemudian membuka pintu rumahnya dengan lebar.
"Ada apa, Radit?. Kenapa harus berteriak memanggil adik mu?." Tanya Papa Hamzah.
"Kamu juga dari mana saja?. Menghilang begitu saja dari rumah sakit sampai Papa tidak bisa menghubungi mu. Di mana tanggung jawab mu, Radit?." Lanjut Papa Hamzah sambil mengomel pada Radit. Tapi, Radit tidak menggubrisnya karena saat ini dia hanya ingin berbicara yang sangat penting dengan Dania.
"Dania!. Ayo berangkat sekarang!. Aku akan mengantar mu ke sekolah!." Teriak Radit lagi dari pintu, dirinya tidak ingin masuk ke dalam rumah kecil itu.
"Radit!." Papa Hamzah hanya menarik nafas panjang. Dirinya tidak dianggap penting oleh putra sulungnya sehingga diabaikan begitu saja.
Dania melihat jarum jam yang menggantung tidak jauh dari tempat mereka makan, tidak apa lah berangkat lebih awal. Ada yang ingin Dania tanyakan pada Radit soal uang yang 30 jt.
"Baik Ma, aku pamit ya. Jangan lupa di minum obatnya dan istirahat yang cukup. Ada buah-buahan di dalam lemari makanan.
Dania menyalami Mama Ningrum kemudian pamit juga dan bersalaman pada Papa Hamzah.
"Kami berangkat ya, Pa."
"Kamu hati-hati Dania."
"Iya, Pa." Dania pun pergi dari hadapan Papa Hamzah menuju mobil Radit.
Suasana hening seketika saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Hanya sesekali Radit yang melirik perut Dania yang seperti tidak sedang hamil atau mencari gelagat aneh tentang apa saja yang terjadi pada wanita hamil pada umumnya.
Tiga puluh menit perjalanan sudah mereka lalui, akhirnya keduanya buka suara di saat yang bersamaan.
"Kak Radit...Dania..."
"Aku duluan ya, Kak Radit?."
"Aku tahu pasti kamu bertanya tentang uang 30 jt kan?."
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku harus mengembalikan uang itu, karena uang itu dapat aku pinjam dari Chaca teman kerja di cafe."
"Itu gampang, Dania. Asalkan kamu mau bicara jujur pada ku?."
"Bicara apa, Kak?."
"Siapa yang menghamili mu?." Tanya Radit setelah menepikan mobilnya di depan Indo Juli.
Deg
Jantung Dania seperti mau copot saja kala mendapatkan pertanyaan yang tidak pernah diharapkannya keluar dari mulut siapa pun.
Dirinya sudah bersyukur tidak merasakan gejala saat hamil, kalau tidak mungkin dari awal pun kehamilannya sudah diketahui oleh banyak orang.
Tapi, Dania sadar tidak mungkin selamanya bisa menyembunyikan kehamilannya tersebut.
"Kakak tahu dari mana?." Tanya balik Dania dengan mata yang berkaca-kaca.
Deg
Gadis polos itu seolah menandakan suatu kebenaran yang sangat memukul harga dirinya. Walau pun dirinya bejat, tapi Radit tidak ingin jika itu menimpa Dania yang sangat polos.
Radit memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Siapa yang telah melakukannya pada mu, Dania?." Dengan suara yang lebih tinggi kali ini Radit kembali bertanya pada Dania.
Dania menggeleng lemah, Dania tidak ingin permasalahan Kakaknya dan Azka semakin panjang dengan kehamilan dirinya.
"Apa kamu melakukannya dengan suka rela?."
Dania menggeleng sambil menghapus air matanya.
"Lalu?. Bicara lah Dania!." Bentak Radit.
"Sudah Kak, lupakan saja. Aku mohon jangan beritahu Mama dan Papa." Mohon Dania sambil menangis.
Radit mengusap kasar wajahnya, berulang kali memukul setir mobi hingga Dania merasa ketakutan.
__ADS_1