Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 41 Azka Narendra


__ADS_3

Azka bisa bernafas lega dan tersenyum lebar ketika Dania memberitahunya kalau calon bayi mereka masih aman. Bahkan dia baik-baik saja di dalam sana. Begitu juga dengan Dania, saat membuka matanya, yang pertama kali ditanyakan Dania pada Dokter Tantan adalah bayinya.


Untung saja semuanya masih bisa terselamatkan dan tidak ada yang serius.


"Aku sudah berpikir yang buruk saat melihat mu pingsan di pinggir jalan dengan banyaknya darah yang keluar." Azka mengungkapkan kecemasannya pada Dania.


Dania bisa menangkap itu dan itu sungguh tergambar dari raut wajah Azka saat ini.


"Aku juga berpikir seperti itu Kak. Bagaimana aku harus bilang ke Kak Azka kalau bayi kita tiada karena tidak mendapatkan pertolongan dengan cepat." Dania juga menceritakan ketakutannya pada saat terjadi peristiwa itu.


"Tapi sekarang semuanya tidak apa-apa karena Dokter Tantan dan Kak Azka yang membawa ku tepat waktu ke rumah sakit. Terima kasih, Kak." Lanjut Dania.


"Aku sangat senang kalau aku orang yang telah menyelamatkan mu dan bayi kita." Azka meraih tangan Dania lalu menggenggamnya erat lalu mengecupnya berulang kali.


Dania hanya terpaku melihat perlakukan manis Azka yang mengingatkan kembali pada satu bulan hubungan mereka yang sangat manis.


Sementara Almeer yang ditemani oleh Salma mendatangi rumah Dania, sangat merasa khawatir karena rumah Dania dalam keadaan gelap.


"Tidak mungkin Dania pergi malam-malam begini, tapi kenapa rumahnya gelap semua?." Gumam Almeer sambil mencoba menghubungi Dania namun nomernya tidak aktif.


"Nomernya juga enggak aktif!." Almeer semakin mencemaskan keadaan Dania.


Salma ikut mencoba menghubungi Dania dan nomernya memang tidak bisa.


Karena hampir satu jam mereka menunggu di depan rumah Dania tapi tidak mendapatkan informasi apa-apa. Almeer mengantarkan Salma pulang. Karena malam ini mereka berdua bertemu di tempat jamuan makan malam yang dihadiri oleh keluarga Almeer juga. Dan Mama Salma termasuk salah satu pebisnis yang ada di ibu kota.


"Kak Almeer sangat khawatir pada Dania?." Tanya Salma saat sudah dalam perjalanan sambil menatap pria tampan yang semakin tampan dengan penampilan formalnya.


Seandainya Almeer bukan orang yang sangat mencintai Dania, rasanya dirinya juga ingin ikut bersaing untuk mendapatkan hati Almeer.

__ADS_1


"Sangat, Sal. Aku merasa bersalah telah meninggalkan Dania sendiri. Biasanya jam segini aku baru pulang mengantar Dania."


Salma melirik jarum jam yang melingkar di tangan kirinya, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. "Ah, Dania. Kamu sangat beruntung bisa dicintai pria sesempurna Kak Almeer." Batin Salma. Mata Salma berbinar kala menatap Almeer dari samping. Tapi, Almeer tetap fokus pada kemudinya.


Hening sampai beberapa waktu, hingga perjalanan mereka pun sampai mendekati tujuan. Dan kesempatan itu dipergunakan Salma untuk mengajak bicara Almeer lagi.


"Kak Almeer."


"Hem." Almeer menoleh sebentar kearah Salma. lalu kembali fokus pada kemudinya.


"Ada apa?." Tanya Almeer saat sudah menatap jalanan ibu kota yang ternyata masih ramai.


"Bagaimana kalau ada wanita lain yang suka pada Kak Almeer?." Tanya Salma sambil menatap Almeer, harap-harap cemas dengan apa yang akan dikatakan Almeer.


Almeer hanya tertawa pelan lalu melirik Salma yang menanti jawabannya. "Pasti wanita itu tidak tahu kalau aku sudah memiliki kekasih."


"Bagaimana kalau wanita itu sudah tahu kalau Kak Almeer kekasihnya Dania. Tapi, wanita itu tetap suka pada Kak Almeer?."


"Begitu ya?."


"Hem...coba sekarang kamu bayangkan. Betapa wanita itu akan merasa sakit hati setiap kali tahu kalau pria yang disukainya selalu mencintai, memikirkan dan merindukan kekasihnya. Belum lagi aktivitas yang dilakukan pria itu dan kekasihnya yang diketahui oleh wanita yang menyukai pria tersebut." Jelas Almeer panjang lebar. Hingga tidak terasa mobil Almeer pun sudah sampao di depan rumah Salma.


"Salam buat Mama mu, maaf aku sampai sini mengantar mu pulang. Aku akan mencoba kembali ke tempat Dania. Siapa tahu Dania sudah pulang atau ada informasi yang bisa aku dapatkan."


Salma hanya menganguk sambil menghela nafas.


Sedangkan di rumah sakit, tidak ada bosannya Azka menatap Dania yang tidur terlelap di tempat tidur pasien. Malam ini Dokter Tantan meminta Dania untuk menginap di rumah sakit, supaya besok pagi bisa dilakukan pemeriksaan.


Azka sudah tahu semua cerita dari Dania, kenapa Dania sampai mengalami pendarahan dan kedua kakak Dania yang sedang bermasalah dengan polisi yang sekarang sangat membutuhkan uang.

__ADS_1


Semua rentetan kejadian yang dialami Dania adalah berawal dari Radit dan Joanna. Yang seterusnya menimbulkan kesalahanpahaman yang berkepanjangan dan dengan bodohnya, dirinya sangat mempercayai Joanna tanpa mau mencari kebenarannya. Padahal Dania sudah memberitahunya. Itu lah penyesalan selalu datang diakhir dan semoga saja Azka masih bisa memperbaiki semuanya.


"Inara sudah setuju untuk membawa Dania pulang ke rumah. Besok dia akan datang ke sini menjenguk Dania." Ucap Barata saat sudah duduk di sebelah Azka. Barata menatap wajah polos Dania yang begitu cantik, pantas saja cucunya mau melepas keperjakaannya pada Dania.


"Kenapa tidak pulang ke apartemen ku saja?." Azka memegangi tangan Dania yang menganggur.


"Paling kau makan terus tuh anak kalau di bawa ke apartemen. Kalau di rumah setidaknya ada aku yang mengawasi kalian." Barata memukul kencang pundak cucu kesayangannya sampai Dania terganggu dan membuka sedikit matanya.


"Kau seperti tidak pernah muda saja." Cibir Azka pada kakeknya.


"Lagi pula kalau kau bawa Dania ke apartemen, mana mau Almeer melepasnya, iya kan?. Ini kan Inara yang memintanya jadi mana mungkin Almeer menolak."


"Betul juga. Di rumah kan Dania bisa menempati kamar tidur ku." Seketika Azka menyetujuinya.


"Pikiran mu itu selalu saja hal-hal yang berbau keiintiman."Protes Barata kembali memukul pundak Azka.


Azka hanya tersenyum sambil menyugar rambutnya.


Dania hanya menatap kedua pria itu yang belum menyadari kalau dirinya sudah bangun dan menyimak apa yang mereka bicarakan. Keduanya sudah menyiapkan tempat baru untuk dirinya bahkan melibatkan orang tua Azka.


Tidak mungkin Dania menerima tawaran itu karena sama saja dengan membiarkan Azka untuk tetap berada di dalam hatinya. Dan tidak menutup kemungkinan apa yang pernah terjadi pada mereka akan terulang lagi.


Mengingat dari tiga hari yang lalu tiba-tiba saja Dania menginginkan adanya sentuhan fisik dari pemilik calon bayi yang ada dirahimnya.


"Kak Azka, aku akan tetap tinggal di rumah ku dan tidak mau pergi kemana pun." Tiba-tiba Dania mengajukan keberatannya.


Azka dan Barata hanya saling melempar pandang lalu Batara mendekati Dania dan duduk di depan Dania.


"Yang ada di dalam perut mu adalah cicit ku, jadi aku minta kamu ikuti apa yang aku perintahkan. Karena sebagai imbalannya aku akan membantu kedua kakak mu bebas dan tidak lagi berurusan dengan polisi. Bagaimana?."

__ADS_1


"Kakek!." Protes keras Azka.


"Itu karena Dania tidak mau ikut dengan kita secara sukarela, jadi aku memaksanya. Bagaimana Dania?."


__ADS_2