
Kehadiran Azka seorang diri di sana menjadi bulan-bulanan semua orang yang ada di dalam ruang inap Radit dan Medina. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Rusli yang betapa di luar.
Sudah waktunya bagi Rusli untuk benar-benar melepaskan Medina dan menyerahkannya pada Radit. Pernikahan itu akan digelar sebentar lagi dan dirinya harus sudah siap kehilangan Medina untuk selamanya.
"Medina sangat bahagia bersama Radit." Ucap Barata yang hadir di sana dan menatap Medina yang tersenyum bahagia kearah Radit.
Hubungan Azka dan Medina pun tidak seburuk kelihatannya. Karena bagaimana pun Azka tidak bisa melarang kalau sudah masalah hati.
"Iya, aku bisa melihatnya." Jawab Rusli sambil pergi dari tempat itu yang diikuti oleh Barata.
Mereka yang berada di dalam sana semakin kencang tertawa ketika Almeer dan Shaka berhasil meledek seorang Azka Narendra.
"Kebahagiaan itu sekarang bukan menjadi milik kau saja Azka, ada aku, Radit dan Shaka yang sebentar lagi akan merasakannya. Jadi kau sudah tidak bisa pamer lagi pada kami bukan?."
Mereka kembali tertawa dan Azka hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Almeer. Jauh di dalam lubuk hatinya, Azka merasa sangat bahagia karena sahabat-sahabatnya telah bisa menemukan wanita baik-baik yang akan menjadi pasangan mereka kelak.
Saat Azka sudah sampai rumah, Dania dan Zayyid masih terbangun. Kedua orang yang telah memberinya kebahagiaan itu menyambutnya pulang di dalam kamar. Azka segera berganti pakaian sebelum menyentuh istri dan anaknya.
"Daddy sudah bersih dan wangi!." Seru Azka sambil mendekati Dania dan Zayyid lalu mendaratkan sebuah kecupan sayang pada keduanya.
"Horreee...." Dania bersorak girang dengan menirukan suara anak kecil. Seolah itu suara anak mereka yang masih kecil.
Azka mengambil alih Zayyid lalu menggendongnya. Mengajak anak kecil itu bicara seakan mengerti dengan apa yang diucapkannya.
Puas bermain dengan kedua orang tuanya, lantas anak itu tertidur pulas di tempat tidurnya sendiri yang ada di dalam kamar mereka. Karena malam ini Dania ingin tidur bersama anak dan suaminya.
"Zayyid sudah tidur?." Azka mengelus punggung Dania dengan sangat lembut. Azka tahu ibu satu anak itu pasti sangat kelelahan menjaga dan mengurus putra mereka. Ya, walaupun ada Inara yang selalu membantu Dania.
"Sudah Kak." Keduanya berjalan menuju tempat tidur mereka.
Dania dan Azka tidak langsung tidur, mereka membicarakan banyak hal, salah satunya rencana sekolah Dania yang bulan depan akan segera dimulai dan pendidikan Azka yang sudah mau selesai. Dan pria tampan itu akan mulai fokus membantu Rusli di perusahaan.
"Kenapa Kak Azka tersenyum?. Memangnya ada yang lucu?." Dania merasa heran karena tiba-tiba saja suaminya tersenyum sendiri tanpa ada pembicaraan sebelumnya diantara mereka.
__ADS_1
Dania duduk di depan meja rias sambil merapikan rambutnya.
"Rasanya baru kemarin aku mengenal mu, sekarang sudah ada Zayyid diantara kita. Namun untuk itu semua, dari lubuk hati ku yang paling dalam, aku meminta maaf pada mu. Karena dengan cara ku yang sangat salah telah membawa mu dalam situasi yang serba sangat menyakitkan." Azka mengingat momen pertama mereka, tatapan matanya tertuju pada Dania yang tidak pernah berubah sedikitpun. Selalu memandangnya penuh cinta meski sudah banyak luka yang ditorehkan Azka untuk wanita cantik itu.
"Iya." Jawab Dania singkat.
"Hanya iya, sayang?."
Dania menganggukkan kepalanya pelan. "Sampai Mama dan Papa meninggal, mereka tidak pernah tahu kalau aku mengandung anak dari Kak Azka.
"Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah sangat menganggap Kak Azka pria baik yang tercipta untuk putri bungsu mereka. Tapi kenyataannya pada waktu itu..."
Grep
Langsung saja Azka memeluk Dania dari belakang sambil kembali mengatakan maaf beribu maaf pada Dania atas kejadian dimasa lalu hingga menyebabkan kedua orang tua Dania meninggal.
"Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan bersujud dikedua kaki mereka dan memohon ampun. Aku sudah sangat melukai dirimu dan mereka." Dengan segala kerendahan dan kesungguhan hati, Azka mengungkapkan penyesalan terdalamnya.
"Sekarang, mungkin mereka sudah memaafkan Kak Azka karena sudah bertanggung jawab pada kami serta membantu Kak Radit dan Kak Rania."
.....
Pernikahan Radit dan Medina sudah digelar secara sederhana beberapa jam yang lalu, sekarang mereka sedang beramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga Azka.
Radit dan Medina menjadi pasangan yang paling sangat berbahagia. Semua keluarga dan orang terdekat datang menghadiri, memberikan ucapan selamat dan doa restu.
Radit dan Medina sama-sama berdoa dan berharap akan menjadi keluarga yang bahagia, walau mereka tahu semuanya tidak semudah membicarakannya.
Si kecil Zayyid menjadi pusat perhatian karena dia anak kecil tertampan satu-satunya. Salma, Fathia dan Chaca memperebutkan Zayyid untuk bersua foto bersama. Mereka ingin segera memiliki anak yang setampan dan selucu Zayyid.
Namun di sini Fathia yang belum memiliki pasangan, termasuk Rania juga. Tapi keduanya masih bisa santai karena keduanya memiliki alasan kenapa belum ingin memiliki kekasih.
Padahal untuk Rania sendiri sudah ada Dokter Tantan yang dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.
__ADS_1
Seperti sekarang ini, Dokter Tantan selalu mencuri pandang dan kesempatan untuk melihat atau pun berbicara pada Rania. Walau sangat terkesan basa basi saja.
"Kamu sudah makan, Ran?."
"Sudah, Dokter."
"Tapi aku perhatikan, kamu cuma sedikit makannya."
"Itu sudah banyak, Dok."
"Kamu akan tetap sangat cantik walau sedikit berisi." Puji Dokter Tantan sambil berbisik di telinga Rania. Tapi Rania tidak sedikit pun terganggu.
Dokter Tantan mengarahkan pandangannya ke depan, di mana semua yang memilik pasangan sudah berdansa diringi musik yang begitu romantis.
Apalagi untuk pasangan yang sudah benar-benar halal, mereka tidak segan-segan untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih terhadap pasangannya. Dan itu sangat terlibat jelas pada Azka dan Dania serta Inara dan Rusli.
Sementara Barata dan Fathia sibuk dengan Zayyid yang mulai memperhatikan sekelilingnya.
"Kenapa kau tidak mengajak Dokter Levi untuk berdansa?." Barata merasa heran pada Fathia yang lebih senang menggendong Zayyid.
"Tidak, Tuan. Katanya Dokter Levi sudah memiliki tunangan. Jadi aku mau cari yang single saja." Jawab Fathia sambil mencium gemas pipi Zayyid.
"Aku single kalau kau mau."
"Ha...ha...ha...ya bukan Opa juga kali." Jawab Fathia sambil kembali tertawa.
Fathia tahu kalau Barata hanya bercanda dan tidak bermaksud sungguh-sunguh dengan perkataannya.
"Memang, Dokter Levi sudah bertunangan. Tapi eggak ada salahnya kalau kalian hanya sekedar berdansa."
Fathia menggeleng lemah sambil tersenyum.
"Aku tidak ingin rumit seperti Medina dan Salma. Aku hanya ingin pria yang masih single dan bisa menerima aku apa adanya."
__ADS_1
Dokter Levi yang mendengar sepintas percakapan Fathia dan Barata, hanya mengulum senyum.