Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 28 Azka Narendra


__ADS_3

Barata meninggalkan Joanna yang sedang berbicara padanya. Joanna kembali keluar dari rumah dengan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Supaya bisa cepat sampai di rumah sakit.


Sesampainya di sana, Joanna langsung menuju kamar inap Azka dan pria itu masih duduk di depan laptopnya. Sementara dirinya mengalami kehamilan simpatik, dunianya menjadi terbalik. Pagi hari dipakainya untuk beristirahat dan malam hari dipakainya untuk bekerja.


"Sayang..." Joanna langsung masuk kamar Azka tanpa mengetuknya terlebih dulu dengan keadaan wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata.


Azka menoleh ke samping di mana Joanna sedang berdiri saat ini.


"Sayang, tolong katakan pada ku bahwa itu semua tidak benar. Kalau di luar sana ada perempuan yang sedang mengandung anak mu." Seketika Joanna menangis tersedu. Dirinya benar-benar tidak siap jika sampai hal itu terjadi.


Azka masih menatapnya, cukup terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Joanna. Kira-kira tahu dari mana?.


"Sayang!." Panggil Joanna dengan nada cukup tinggi setelah Azka masih diam bungkam.


Dengan cepat Azka menggelengkan kepalanya, dirinya tidak bisa mengakui itu sebelum Joanna dan Radit membayar perbuatan mereka padanya.


Dengan sedikit senyum diwajahnya, Joanna menghampiri Azka dan langsung memeluknya sangat erat. Bagaimana pun semua perasaan Joanna tercurah untuk Azka seorang, meski bermain gila dengan Radit. Dirinya sangat percaya dengan cinta dan kesetiaan Azka yang tidak pernah diragukannya. Terbukti selama ini Azka berada disisinya.


"Tuh kan benar dugaan ku, pasti itu tidak mungkin." Joanna mendongak dan hendak mencium pipi Azka. Tapi, pria itu sudah menahan wajah Joanna supaya tidak menyentuhnya lagi. Satu pelukan sudah cukup dan tidak ada yang lainnya.


"Kenapa sayang?."


"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan yang akan di bawa meeting besok pagi. Jadi lebih baik kamu pulang sekarang." Usir Azka dengan cukup halus. Dirinya tidak mau terganggu dengan pikiran-pikiran perselingkuhan Joanna dan Radit yang masih belum mau menghilang dari kepalanya.


"Sayang, aku menemani mu saja di sini." Rengek Joanna tapi Azka tetap memintanya pulang.


Dengan berat hati Joanna mengikuti kemauan Azka, lagian dirinya pun pasti akan didiamkannya. Jika melihat banyak dokumen di dekap laptop.


"Baik aku pulang, Sayang."


"Iya, kamu hati-hati."


Azka menatap kepergian Joanna, ada rasa sakit di dalam hatinya mengetahui wanita yang sangat dicintainya namun tidak setia. Dan sekarang dirinya pun sudah tidak setia karena sudah meniduri Dania bahkan sampai hamil.


.....

__ADS_1


Pagi ini sekitar pukul delapan pagi, Azka masih merasakan perutnya yang bergejolak, kepalanya sangat pusing, sudah bermandikan keringat dan tubuhnya kembali akan melemah.


Dokter Tantan adalah satu-satunya orang yang menemani Azka di saat terburuknya. Sebagai seorang Dokter pun, dirinya tidak bisa banyak membantu Azka untuk mengatasi morning sickness yang bisa dikatakan sangat parah.


"Kau mau jika Dania datang ke sini dan membantu?."


Azka menggeleng lemah, dirinya tidak ingin bertemu dengan Dania untuk sementara ini. Biar lah dirinya sendiri yang menanggung derita yang hanya beberapa jam ini.


Dokter Tantan pun tidak ingin memaksa, sebab itu keputusan dan kenyamanan pasiennya.


Sudah satu jam Dokter Tantan menemani Azka di dalam kamar inap Azka, Dokter tampan itu berpamitan karena harus buka praktek seperti biasanya.


"Jaga diri baik-baik, aku ke depan."


Azka hanya mengangguk.


Saat Dokter Tantan akan membuka pintu, dirinya dikejutkan dengan kehadiran Barata di sudah berada di sana.


Barata memberikan isyarat untuk tidak memberitahukan kedatangan dirinya pada Azka, dirinya sangat kasihan melihat apa yang dialami oleh cucu kesayangannya.


"Sejauh ini memang kehadiran ibu dari calon bayinya yang bisa meredam apa yang dirasakan oleh cucu anda."


"Kenapa kau tidak membawanya ke sini?."


"Sudah setiap pagi aku menawarkan diri untuk membawa wanita itu. Tapi, cucu kesayangan anda selalu menolaknya."


"Kenapa kau tidak memaksanya?."


Dokter Tantan tersenyum tipis. "Itu di luar wewenang saya untuk memaksa pasien menerima treatmen dari dokternya."


"Baik lah, kau boleh pergi!. Terima kasih. Aku akan mencoba apa yang tidak bisa kau kerjakan."


Dokter Tantan mengacungkan ibu jarinya pada Barata yang sudah bersiap akan masuk.


Sedangkan di rumah Dania, Rania datang ke rumah itu untuk mengambil beberapa pakaian untuk Mama Ningrum yang sudah disiapkan oleh Dania sebelum Dania berangkat sekolah.

__ADS_1


Rania yang sudah mendengar hasutan dari Radit, otomatis semakin menambah rasa tidak suka Rania pada Dania. Dari waktu mereka masih kecil, Rania memang sudah sangat iri dengan apa yang selalu dimiliki oleh Dania. Makanya Rania lebih sering berbuat jahat pada Dania.


"Pasti kamar Dania tidak di kunci." Gumam Rania sambil membukanya dan benar saja, pintu itu terbuka lebar.


Terlihat lah kamar kecil itu bersih, rapi dan wangi.


Rania mendekati lemari pakaian yang terbuat dari bahan plastik. Rania sengaja membuat berantakan susunan pakaian Dania hingga berserakan di lantai dan tempat tidur.


Tidak puas sampai di situ, Rania pun membuka setiap laci lalu mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya, tidak lupa buku pelajaran Dania juga kena sasarannya. Di sobek, di gunting, di remas bahkan ada yang dilemparkan ke dalam ruang tengah.


Hingga tatapan Rania tertuju pada sebuah plastik putih yang berukuran kecil yang menggantung di dekat beberapa pakaian Dania yang menggantung.


Rania mendekat lalu menarik plastik itu sehingga semua isinya berjatuhan ke atas lantai.


Wajah Rania saat ini sangat serius dan terlihat fokus menatap apa saja yang keluar dari plastik tersebut.


Kening Rania berkerut sampai berlipat. "Foto hasil USG, vitamin kemahilan dan alat testpack."


"Apa ini milik Dania?. Wah gadis kecil itu bin @l juga sampai bisa hamil." Senyum jahat Rania memenuhi wajahnya yang menyimpan banyak ketidaksukaan terhadap Dania. Dan dengan apa yang didapatnya saat ini, bisa menghancurkan Dania dengan sangat mudah.


Rania segera memasukkan temuannya ke dalam tas, lalu mengambil tas yang berisi pakaian Mama Ningrum dan meninggalkan rumah itu setelah menguncinya.


Sementara Azka sudah duduk berhadapan dengan pria yang selalu menyebutnya cucu kesayangan.


"Rusli dan Inara pun tidak tahu kau menderita seperti ini?."


"Kalau mereka tahu, berarti mereka akan tahu kehamilan Dania."


"Sekarang kau baru tahu bukan, wanita J@ l@ng itu wanita ular. Sampai kau harus menghancurkan hidup gadis tidak bersalah."


Azka terdiam, lalu menyandarkan kepalanya pada bantal yang sudah di susun tinggi.


"Kau pusing?."


Azka mengangguk pelan dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


"Calon bayi kau sangat luar biasa, dia membalas langsung apa yang telah kau lakukan pada ibu nya. Sampai kapan pun calon bayi kau akan menjadi pengikat yang kuat untuk hubungan kalian berdua kelak kedepannya."


__ADS_2