
"Kak Adnan!. Apa Kak Adnan datang ke sini mau menyelamatkan aku?." Dania segera menghampiri pria yang dikenalnya sangat baik.
Adnan tersenyum manis sambil memegangi tangan Dania. "Tentu saja, Dania. Aku akan menyelamatkan mu dari mereka yang ingin mencari mu dan membawa mu pergi dari sisi ku."
Dania mengerutkan dahinya, Dania merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Adnan.
"Apa maksudnya Kak Adnan?." Dania mundur satu langkah sambil menatap wajah Adnan yang berubah sedikit menyeramkan.
"Azka atau pun Almeer tidak akan ada yang bisa memiliki mu selain aku, Dania!." Adnan menarik lengan Dania hingga jarak mereka semakin dekat. Kemudian Adnan memeluknya erat.
"Kenapa Kak Adnan mengatakan itu?." Dania berusaha melepaskan diri dari Adnan tapi sayangnya Adnan begitu kuat memeluk tubuhnya.
Adnan menghirup aroma wangi tubuh Dania yang pagi ini belum terkena air atau pun sabun serta parfum yang biasa gunakan gadis itu. Tapi tetap saja wangi.
"Kak, aku sedang hamil dan Kak Adnan tahu bukan ini anaknya siapa?. Kak Azka, ya aku sedang mengandung anaknya Kak Azka!." Ucap Dania penuh penekanan di dalam pelukan Adnan yang membuatnya sesak.
"Iya, aku tidak masalah jika harus membesarkan anak milik Azka, asalkan tetap bersama mu." Adnan mengecup pucuk kepala Dania dengan penuh kasih sayang.
"Bukannya tadi kamu haus, lapar, mau ke kamar mandi?. Ayo aku akan mengantar mu." Adnan menuntun tangan Dania perlahan hingga masuk ke dalam sebuah kamar yang begitu besar dan sangat tertata rapi.
Adnan menutup pintu kamar mandi lalu duduk di tepi tempat tidur. Dirinya harus secepatnya menikahi Dania sebelum Azka atu pun Almeer menyadari perbuatannya.
Sedangkan Dania yang berada di dalam kamar mandi, berusaha berpikir keras bagaimana dirinya bisa keluar dari tempat ini atau setidaknya memberitahu Azka tentang keberadaannya.
"Kak Azka." Gumam Dania, hanya nama itu yang sanggup di ingat dan diucapkannya di saat apa pun. Cintanya pada pria itu semakin besar dan tidak akan pernah pudar.
Belum juga menemukan cara untuk keluar, pintu kamar mandi sudah di buka Adnan dari luar. Pria itu beralasan takut dirinya kepana-napa di dalam kamar mandi karena tidak ada suara apa pun.
"Iya, Kak Adnan aku sudah selesai." Dania berjakan mendekati Adnan dan mereka berjalan keluar dari kamar menuju meja yang ada di sana.
Banyak makanan yang sudah tersaji di atas sana dan entah siapa yang sudah menyiapkannya.
__ADS_1
"Sebelum aku berbuat kasar pada calon bayi Azka, lebih baik kamu buang jauh-jauh keinginan untuk pergi dari ku. Karena aku tidak akan pernah melepaskan mu, Dania!. Bersikap lah manis di depan ku demi bayi yang ada di dalam rahim mu."
Adnan tahu pasti Dania sedang memikirkan cara supaya bisa lepas darinya setelah tahu kalau Adnan tidak sebaik yang di lihat Dania selama ini.
Dania tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Sementara itu di rumah Azka, semua orang sudah melihat rekaman CCTV yang ada di jalan perumahan mereka, tapi sayangnya dari dua orang yang membawa Dania pergi tidak ada yang dikenali. Kedua orang itu telah mengguanan penutup wajah sebelumnya.
"Kenapa kita tidak lapor polisi saja?."
"Jangan dulu, Inara!. Takutnya itu akan membahayakan Dania dan calon bayinya." Balas Rusli.
"Terus mau sampai kapan kita akan menunggu?." Inara begitu panik dengan keadaan yang menimpa Dania. Meski baru mengenal Dania tapi Inara sudah peduli dan perhatian pada wanita yang akan menjadi ibu dari cucunya.
"Kita harus bersabar dulu, jangan gegabah dalam bertindak." Ucap Rusli sambil menatap wanita yang telah lama menjadi istrinya.
Rekaman CCTV sudah di sebar oleh Azka pada sahabat-sabahat dan orang terdekat Dania. Siapa tahu dari mereka itu ada yang pernah melihat keduanya atau salah satu pelakunya. Dengan ciri-ciri yang ada di dalam sana.
"Aku pernah melihat kemeja yang di pakai mereka, tapi di mana?." Batin Medina sambil kembali fokus pada pria yang ada di belakang Dania.
"Kira-kira siapa ya menculik Dania?." Fathia buka suara setelah meletakkan ponselnya.
"Iya ya Fathia, untuk apa mencoba menculik Dania yang sedang hamil?. Lebih baik menculik kita yang masih ting-ting." Sambung Salma menimpali.
Fathia langsung menyenggol lengan Salma karena keceplosan bicara dan Fathia merasa tidak enak terhadap Medina.
"Ups...maaf Medina bukan aku mau menyindir." Ucap Salma saat Medina menatapnya penuh tanya.
"Ok, tidak apa-apa. Kalau sekarang kalian tidak sudi lagi memiliki sahabat seperti ku, silakan kalian pergi!." Medina pergi dari hadapan keduanya. Bukan cuma itu saja maksud dirinya pergi dari sana. Tapi, ada hal lain yang ingin dibuktikannya dengan datang ke gedung kampus.
"Salma!. Pakai acara keceplosan begitu, jadi pergi kan Medina nya!."
__ADS_1
"Aku lupa Fathia, kalau sekarang Medina sangat sensitive sama yang berbau-bau perawan." Sesal Salma.
Medina kembali lagi ke gedung kampus setelah waktu pulang sekolah karena pencarian pertamanya gagal. Kedua orang yang dicurigai Medina tidak ada di sana. Kemungkinan masuk sore atau tidak datang sama sekali.
Dan ternyata Medina kembali gagal, kedua orang yang dimaksudnya tidak ada di kampus. Medina kembali pulang dengan tangan kosong.
Sampai di tempat kosan, Medina langsung mandi dan kembali melihat CCTV itu. Mobil yang digunakan kedua orang itu seperti tidak asing setelah Medina memperbesar gambar pada mobil.
Medina segera berlari keluar dari kamar kosan guna memastikan mobilnya. "Aku menemukannya."
Medina segera mengambil beberapa foto mobil yang dicurigainya karena memiliki nomor kendaraan yang sama dengan yang di pakai untuk membawa Dania pergi.
.....
Medina sudah berdiri di depan rumah Azka, tujuannya bukan untuk menemui Rusli. Tapi ingin berbicara dengan Azka. Meski Azka sudah salah paham padanya, tapi itu risiko yang harus diterima Medina.
"Kau sudah berani terang-terangan mendatangi Rusli di rumahnya. Apa kau tidak bisa menunggu sampai pria itu menemui kau, sugar baby ." Ucap Azka dengan sinis.
Medina hanya diam lalu pandangannya beralih pada sosok wanita yang berdiri di depan pintu. Wanita itu malah tersenyum dan mempersilakannya masuk.
"Kenapa kamu di luar?. Ayo masuk!."
Hati Medina begitu sakit saat mendengar suara tulus Inara yang memintanya masuk. Wanita sebaik itu tidak pantas untuk disakiti oleh siapa pun.
"Tidak, Nyonya. Terima kasih. Aku di sini saja, biar aku leluasa bicara dengan Kak Azka." Tolak Medina.
"Baik kalau begitu, biar aku yang akan memanggilkan Rusli."
"Tidak, Nyonya Inar! . Aku hanya ingin menyerahkan ini saja pada Kak Azka. Karena aku tidak memiliki nomer ponselnya."
Tidak ingin berlama-lama di rumah itu, Medina memperlihatkan gambar-gambar mobil yang baru diambilnya.
__ADS_1
"Siapa pemilik mobil ini?. Tanya Azka pada Medina.