
Kelahiran yang paling dinanti pun telah tiba, Dania berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk bertemu dengan jagoannya secara normal. Karena tidak ada masalah apa pun yang mengharusnya melakukan operasi sesar.
Setelah hampir satu jam lamanya Dania berada di dalam ruangan persalinan yang selalu ditemani suami tercinta. Akhirnya terdengar juga pecah suara tangis seorang bayi yang telah dilahirkan oleh Dania tanpa kekurangan suatu apa pun.
Tangis haru menyelimuti keluarga kecil itu, tidak ada henti-hentinya Azka mengatakan cinta pada wanita yang telah memberinya seorang jagoan tampan yang langsung disematkan sebuah nama yang pernah dikatakan oleh Dania sebelumnya.
Barata, Inara dan Rusli yang sejak tadi menahan nafas pun kita mereka bisa bernafas dengan lega setelah mendengar lengkingan suara tangis bayi yang berasal dari ruangan di mana Dania berada.
"Aku sudah menjadi buyut." Barata tidak bisa lagi menahan tangis bahagiannya ketika bayi merah itu diperlihatkan padanya sebelum dibersihkan.
Begitu juga dengan Rusli dan Inara, mereka tidak menyangka akan secepat ini mendapatkan gelar seorang nenek dan kakak. Bahagia itu berlipat ganda mereka rasakan karena mereka masih ada dalam ikatan pernikahan saat menyambut kedatangan cucu jagoan mereka.
"Aku sangat bahagia sayang." Rusli langsung mengecup bibir Inara yang sudah dibasahi oleh air matanya. Inara hanya mengangguk sambil memegang wajah Rusli.
Mereka semua sudah berkumpul di ruangan Dania, mereka begitu takjub dengan malaikat kecil yang baru saja menjadi anggota baru dalam keluarga mereka. Wajah tampan nan rupawannya tidak bisa dipungkiri jika itu dari garis keturunan Barata.
Azka tidak pernah sedetik pun jauh dari Dania, pria itu selalu siaga di samping istrinya jika membutuhkan apa pun. Bukannya Azka tidak ingin dekat dengan bayinya, tapi karena sudah ada tiga orang yang selalu mengelilingi box bayinya. Siapa lagi kalau bukan buyut dan nenek kakeknya.
"Ada yang kamu butuhkan sayang?." Azka membantu Dania yang hendak bangun.
"Aku sangat lapar Kak, tolong ambilkan makanan itu." Tunjuk Dania pada nampan berisi makanan.
Mendengar Dania meminta makan pada putranya, Inara langsung membuka kulkas kecil yang ada di sana lalu mengeluarkan buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong-potong.
"Di makan juga buah-buahannya, supaya kamu lebih bertenaga lagi." Inara meletakkan potongan buah itu di depan Azka dan Dania.
"Terima kasih, Ma." Balas keduanya serempak.
"Iya, sayang." Setelahnya Inara kembali pada cucunya yang masih tertidur pulas.
Sudah hampir 3) jam Dania dan Azka berganti status menjadi Mommy muda bagi Dania dan Daddy bagi Azka. Kini Dania menggendong bayinya untuk menyusus, karena dari lima menit yang lalu mulai gelisah.
__ADS_1
"Mau aku bantu sayang?." Azka menawarkan diri membantu Dania, tapi Dania merasa aneh dengan tawaran tersebut. Karena aoa yang bisa dibantu oleh suaminya.
"Tidak ada Kak." Jawab Dania sambil menggeleng.
Dengan pintarnya bayi jogoan itu langsung menghisap ujung dada yang dimasukkan Dania ke dalam mulut bayinya.
Azka menelan ludahnya kasar, gairahnya langsung tersulut kala melihat bayinya menyusu pada bagian tubuh Dania yang sudah menjadi candu dan favoritnya.
Yang lebih parah dan membuatnya cukup jengkel, di mana dirinya harus berpuasa cukup lama untuk memasuki Dania. Tapi kalau hanya bermain-main dan mendaki gunung tidak masalah. Asalkan jangan yang satu itu.
"Kenapa semenggoda itu?."
Jakunnya ikut turun naik dan sesuatu yang di bawah sudah berontak. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya?, apa ini reaski alami atau hanya pikirannya saja yang memang sudah terfokus pada tubuh Dania.
Sangat lahap dan cukup lama bayi mereka menyusu pada Dania. Dengan senang Dania memberikan Asi nya karena itu merupakan kebahagiaan tersendiri baginya sebagai seorang ibu. Hingga Dania memberikan bayi yang sudah kenyang itu pada Azka untuk dimasukkan ke dalam box bayi lagi.
"Kak Azka kenapa?." Tanya Dania ketika melihat suaminya begitu gelisah padahal dekat dengan dirinya dan bayi mereka.
"Kak, kenapa bisa begitu?."
"Ini semua karena mu, sayang?."
Dania langsung menatap pada tubuhnya sendiri, semuanya tertutup dan tidak ada yang aneh. Lalu apa?.
Perahan tangan Azka naik dan mendarat pada salah satu dadanya.
"Aku ingin ini juga!." Suara Azka sudah terdengar sangat berat lalu membuka kancing blouse yang dikenakan Dania.
"Kak!." Dania menoleh kearah pintu yang tidak terkunci. Dirinya takut jika saat aksi mereka diketahui anggota keluarga yang lain.
"Ok, sayang." Secepat kilat Azka berlari mengunci pintu itu dan kini sudah berhadapan dengan Dania.
__ADS_1
Meski ini sangat keterlaluan, tapi dirinya bisa apa jika tubuh istrinya selalu berhasil memancing api gairahnya. Dan walau pun dengan cara alakadarnya, namun Azka tetao merasakan kepuasan cairan itu sudah keluar.
Bersamaan dengan itu, Barata yang hendak masuk ke dalam ruangan meraba dihalangi oleh pintu yang dikunci dari dalam. Ada apa sampai pintu harus dikunci segala, pikir Barata.
Namun tidak lama kemudian, Azka segera membuka pintu dan mempersilakan kakeknya masuk dengan memperlihatkan senyum penuh kelegaan.
"Kau itu harus belajar menahan segalanya." Ucap Barata sambil melewati tubuh tegap Azka.
"Sudah Kek, tapi belum bisa." Azka mengekor dibelakangnya.
Barata hanya mampu menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya, lalu senyumnya mulai terbit ketika cicitnya membuka mata sedikit demi sedikit kemudian tertidur lagi.
"Cicit ku sungguh sangat menggemakan." Barata menyentuh pipi merah jagoannya.
"Sama sepetak aku kan Kek?."
"Iya, sama kau masih bayi. Tapi sekarang kau itu sangat menyebalkan." Barata beralih menatap Azka dan ikut duduk disebelahnya.
Barata melirik Dania yang memejamkan matanya sebelum berbicara pelan pada Azka.
"Darwin sudah berhasil membawa Radit pergi saat sudah sampai di Semarang. Sekarang Rusli dan dan anak buahnya sedang mencari keberadaan Radit. Kalau sudah seperti ini, kita tidak bisa membawa polisi lagi dalam kasus kalian. Dan kemungkinan besar mereka juga akan mengincar kau. Jadi berhati-hatilah."
Azka menoleh kearah Barata yang mengangguk.
"Jangan sampai Radit kenapa-napa, kalau tidak aku akan membuat perhitungan pada mereka." Bisik Azka lebih pelan lagi bicaranya.
Barata mengaangguk sambil menepuk pundak cucu kesayangnya yang sudah menjadi ayah.
Sementara itu di tempat lain yang menjadi tempat Radit di sekap dan di siksa oleh anak buah Darwin atas perintah Darwin dan Eva.
Wajah tampan Radit sudah tidak terlihat lagi, hanya dipenuhi oleh darah yang sudah mengering dan banyaknya luka lebam.
__ADS_1
"Nyawa harus dibayar nyawa, berengsek!." Kemudian Eva meludahi wajah Radit.