
Sampai pagi menjelang, Azka masih betah duduk berlama-lama di atas kasur empuk miliknya. Melupakan janjinya untuk kembali ke rumah sakit sebelum Joanna bangun. Tidak memikirkan apa yang Dania katakan tentang Joanna. Justru Azka mengingat setiap percintaannya bersama Dania di dalam kamar yang akan dijadikan kamar untuk dirinya dan Joanna.
Dering ponselnya yang begitu nyaring membuyarkan lamunan Azka dan melihat siapa si peneleponnya.
"Joanna." Gumam Azka sambil menatap layar ponselnya. Azka memasukkan ponsel itu dan segera keluar apartemen ketika Azka mengingat Joanna akan pulang pagi ini.
Dengan kecepatan sedang Azka mengendarai mobilnya supaya bisa cepat sampai di rumah sakit.
Sampai di depan pintu ruangan Joanna, sudah terlihat ada Adnan, kedua orang tua Joanna dan kedua orang tuanya di dalam sana.
Samar-samar terdengar, jika mereka sedang merundingkan pernikahan dirinya dan Joanna.
Senyum sedikit terlihat dari wajah tampan Azka sambil mengetuk pintu.
Tok...Tok...Tok...
Azka melangkah masuk di saat semua pasang mata tertuju padanya.
"Sayang, kenapa kamu tidak lagi datang semalam ke sini?. Aku menunggu mu tahu, kata Mama kamu mau datang lagi. Aku tunggu, eh malah enggak ada." Dengan suara yang mendayu-dayu Joanna berbicara pada Azka.
"Maaf, sayang. Aku harus segera menyelesaikan tugas akhir ku supaya cepat lulus." Akhirnya ini lah jawaban yang di pilih Azka untuk menyelamatkan wajahnya.
Tadinya Azka mau memakai alasan karena orang tuanya, tapi malahan mereka sudah ada di sini.
"Bagus lah Azka, setidaknya kalau pun kau tidak memegang perusahaan lagi, ternyata kau sedang fokus pada pendidikan. Setelah selesai, kau bisa duduk di kursi CEO lagi." Dengan bangganya Rusli merangkul pundak Azka.
"Kami sudah mengatur rencana pernikahan kalian, supaya kau belajar bertanggung jawab untuk dua hal yang sangat kau cintai. Satu Joanna dan satu lagi pekerjaan." Timpal Inara mengusap rambut kepala Azka dengan sayang.
"Hem." Balas Azka sangat singkat.
"Baik lah, aku harus segera ke kantor. Selama di sini kalian bisa tinggal di rumah kami dan istri ku yang akan mengurus semuanya. Nanti malam kita bicarakan lagi kelanjutan pernikahan Azka dan Joanna."
"Terima kasih, Rusli." Balas kedua orang tua Joanna.
__ADS_1
Rusli menyalami kedua calon besannya kemudian pergi dari sana dengan asisten pribadinya.
"Apa jadwal ku siang ini?." Tanya Rusli saat akan memasuki mobil mewah yang selalu menemani perjalanannya.
"Tidak ada, Tuan Rusli." Jawab Ramon setelah memastikannya lagi.
"Baik lah, saat makan siang aku akan ke apartemen dan kau bisa katakan apa saja pada mereka yang mencari ku. Sebelum makan malam aku sudah sampai di rumah."
"Baik, Tuan Rusli." Ramon membawa mobil itu menuju kantor.
Sementara di sekolah, Dania berhasil mengamankan dua tiket sekaligus beasiswa untuk kuliah di tempat yang sama dengan sekolahnya saat ini.
Tidak sia-sia perjuangan Dania dalam belajar, karena ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Dania selalu bersyukur, sebab selalu saja ada jalan di setiap kesulitan yang dialaminya.
"Wah, Dania kamu memang sangat hebat. Selamat ya kamu mendapat dua beasiswa penuh sampai S2 di sini. Kami sangat bangga pada mu." Ucap Fathia seraya menjabat tangan Dania lalu memeluknya.
Tidak ketinggalan Salma dan Medina ikut memeluk Dania juga. Karena dari mereka bertiga tidak ada satu pun yang mendapatkan beasiswa selain Dania.
Padahal pihak sekolah mengadakan tes itu untuk seluruh siswa-siswi kelas tiga, yang delapan bulan lagi mereka akan keluar dari sekolah itu. Dari semua murid yang mengikuti tes, hanya ada satu orang yang mendapat beasiswa secara full dan itu Dania seorang.
Siang ini setelah pulang sekolah, Salma mengajak berkumpul di rumahnya sekaligus untuk merayakan keberhasilan Dania. Tapi, sayangnya Medina yang tidak bisa ikut pergi bersama mereka.
"Tumben sekali kamu enggak bisa ikut, kenapa?." Tanya Fathia merasa penasaran karena biasanya Medina yang paling solid diantara mereka semua.
"Iya kali ini aku benar-benar tidak bisa ikut bersama kalian. Tapi, bukan berarti aku tidak senang dan tidak merayakan keberhasilan Dania. Hanya saja aku merayakannya di tempat lain." Jawab Medina sembari merangkul Dania dan Salma.
"Sampai kan salam ku sama Tante Okki." Lanjut Medina kemudian berpamitan pada ketiga sahabatnya setelah pesanan taksi online nya tiba.
"Baik lah, lain kali kita kumpul berempat lagi." Sahut Fathia.
"Hati-hati, Medina." Ucap ketiga sahabatnya.
"Iya. Bye... bye..." Medina melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil lalu membawa Medina pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam lamanya melewati perjalanan yang cukup jauh karena tujuannya saat ini adalah kawasan apartemen mewah.
Medina sudah turun dari mobil dan langsung menuju unit apartemen yang biasa didatanginya.
Ternyata Medina memiliki akses masuk yang mempermudah dirinya untuk masuk ke dalam unit apartemen no 8.
"Hello, Om tampan." Sapa Medina pada pria tampan yang sudah menyambutnya di depan pintu dengan sebuah kecupan kerinduan.
Sedangkan di rumah milik kedua orang tua Azka Narendra. Joanna dan kedua orang tuanya sudah menempati kamar tamu yang ada di rumah itu. Mereka langsung istirahat setelah makan siang selesai beberapa menit yang lalu. Hanya Adnan yang tidak ikut, karena Adnan lebih suka tinggal di apartemen yang sudah lima tahun di sewanya.
Tok...Tok...Tok....
"Azka!." Panggil Inara setelah mengetuk pintu ruangan pribadi Azka di rumah itu. Yang biasanya di pakai Azka untuk mengerjakan apa pun.
"Iya, Ma. Masuk. Tidak aku kunci pintunya." Hanya sesekali saja Azka akan bicara panjang lebar pada Mama nya.
Inara membuka pintu lalu melihat putra semata wayangnya sedang mengerjakan sesuatu di balik meja kesayangannya.
"Duduk, Ma." Ucap Azka lagi setelah melihat Mama nya yang masih berdiri didepannya.
Inara pun mendaratkan bokongnya pada kursi.
"Sebelum Mama dan Papa nanti bicara lagi tentang pernikahan mu dan Joanna pada kedua orang tua Joanna. Apa ada yang mau kamu jelaskan atau ada yang ingin kamu sampai kan pada kami?."
"Tidak ada, karena aku sendiri sudah lama menginginkan pernikahan ini. Jadi aku tidak memiliki keraguan apa pun."
"Baik kalau itu sudah pilihan mu, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa yang menjadi kebahagiaan mu."
Azka hanya mengangguk lalu Inara pamit undur diri dan di waktu yang bersamaan, Azka pun keluar dari rumah itu dan berjanji pada Inara akan pulang sebelum makan malam.
Azka menuju apartemennya, bila dari rumah jaraknya hanya tiga puluh menit saja.
Sampai di lobby apartemen, Azka berpapasan dengan pria yang sudah menghancurkan hidup calon istrinya. Hingga tanpa aba-aba lagi, langsung saja Azka melayangkan bogem mentah pada wajah sayu Raditya.
__ADS_1
Bugh Bugh Bugh
"Kau brengsek!." Azka mengumpat Radit yang sudah tersungkur.