
"Ini pasien yang bernama Dania, Zayyid." Dokter Tantan memperkenalkan Dania pada Zayyid yang akan membantu penyembuhan mental Dania.
Zayyid menatap Dania prihatin, memperhatikan gadis muda yang cantik yang di ikat pada tangan dan kakinya supaya tidak lagi berusaha mengakhiri hidupnya. Ada banyak luka sayatan pada kedua pergelangan tangan dan luka memar di kepala karena membenturkannya pada dinding.
"Ok, Dania. Sekarang lihat dan tatap aku!." Perintah Zayyid pada Dania yang sedari tadi menatap arah lain.
Dania masih tidak menghiraukan perintah Zayyid, Dania terlalu asyik menatap sebaris semut yang berjalan namun tidak ada lelahnya mereka seperti saling bersalaman. Itu yang ada dalam penglihatannya.
Zayyid dan Dokter Tantan mengikuti arah tatapan Dania. "Apa yang kamu lihat tentang mereka?." Tanya Zayyid sambil mendekat dan jongkok di hadapan Dania untuk mensejajarkan dirinya.
"Aku ingin seperti semut itu!." Suara lirih Dania akhirnya terdengar juga setelah hampir satu bulan berada di sana. Jarinya menunjuk pada barisan panjang semut-semut itu.
"Kenapa kamu ingin menjadi semut?." Sekilas Zayyid menatap Dokter Tantan yang berpamitan padanya dengan menganggukkan kepala kemudian keluar dan menutup pintu. Lalu Zayyid fokus lagi menatap Dania yang kembali terdiam.
Dengan sabar Zayyid masih jongkok sambil menunggu jawaban Dania.
"Mereka tidak saling menyakiti." Jawab Dania sambil memejamkan matanya.
Namun sesaat kemudian, kedua matanya terbuka dan sangat beringas lalu Dania berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya hingga terluka.
Zayyid yang melihat hal itu pun segera membuka kunci pada keempat alat tersebut dan langsung memeluk Dania yang berontak untuk keluar dari ruangannya.
Sejenak Dania merasakan sebuah kenyamanan, ketenangan dan kedamaian berada dalam pelukan Zayyid. Seperti sebuah pelukan dari orang yang sering memeluknya. Tapi saat Dania menyadari ternyata orang yang berbeda, Dania berontak sambil berkata yang tidak-tidak.
"Biarkan aku mati!. Aku ingin mati!. Biarkan aku mati!." Teriak Dania histeris sambil menangis.
Ada amarah dan kekecewaan yang coba diluapkan Dania tapi itu sangat tidak terkontrol yang bisa membahayakan Dania dan bayinya.
"Kalau kamu mati bagaimana dengan bayi mu?." Zayyid masih memeluk Dania dengan sangat erat. Sehingga Zayyid bisa merasakan detak jantung Dania yang bergemuruh hebat. Serta Zayyimerasakanmerasakan gerakan halus dari perut Dania.
"Bayi ku?."
Zayyid mengangguk lalu melerai pelukannya di saat Dania meraba perutnya. Ada ketenangan dalam jiwa Dania ketika perut itu memberikan responnya.
"Aku lupa kalau ada bayi di dalam sini." Ucap Dania sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
"Bayi mu terus saja bergerak."
Dania mengangguk lemah lalu tenang dan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tangan yang terus saja mengusap perutnya.
Keadaan Dania yang sudah tenang tetap dalam pengawasan Zayyid, karena bisa saja sewaktu-waktu Dania berontak dan melakui dirinya atau pun bayinya.
Sementara itu di tempat lain, Eva dan Darwin masih belum bisa menerima kematian Adnan yang secara tiba-tiba. Mereka berdua merasa ada yang tidak wajar dengan kematian Adnan, meski Dokter sudah mengatakan kalau Adnan meninggal karena saluran pernafasan yang tersumbat.
"Apa kita minta bantuan Rusli dan Inara untuk mengetahui kematian Adnan?." Tanya Darwin pada Eva.
Dengan cepat Eva menggeleng memberikan jawabannya. Rasanya Eva sudah tidak bisa memperlihatkan wajahnya lagi di depan Rusli setelah penolakan yang sering dilakukan oleh Rusli terhadap dirinya tanpa sepengetahuan Darwin.
"Biasanya kau paling bersemangat untuk mengunjungi keluarga mereka?."
"Aku sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, kita masih memiliki harga diri."
"Sejak kapan kita memiliki harga diri, Eva?." Darwin tertawa pelan mengejek Eva.
"Mulai dari sekarang, aku tidak akan meminta bantuan mereka lagi untuk membebaskan Joanna apalagi kembali meminta mereka melanjutkan pernikahan Joanna dan Azka." Jawab Eva berapi-api.
Malam semakin larut, Zayyid belum beranjak dari tempatnya. Zayyid masih menatap Dania yang masih betah dengan posisinya berbaring sambil mengusap-usap perutnya.
Dua kali jam makan dilewatkan oleh Dania, obat-obatan tidak ada yang diminumnya. Tapi Zayyid pun sangat merasa takjub dengan perkembangan bayinya yang sangat sehat dan baik-baik saja.
"Kamu belum mengantuk?." Tanya Zayyid dari tempatnya.
Dania menggeleng. "Aku tidak ingin melihat atau mengingat apa-apa saat mata terpejam."
"Bicaralah pada ku, Dania?. Apa yang kamu rasakan?, apa yang kamu butuhkan?, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mu keluar dari tempat ini?." Tanya Zayyid panjang lebar sambil mendekati Dania.
"Aku hanya ingin mati!." Jawab Dania kembali dengan sorot mata penuh amarah.
"Apa dengan mati masalah mu bisa selesai?."
"Aku hanya ingin mati." Setelah mengatakan itu, Dania kembali mengusap perutnya yang terus bergerak.
__ADS_1
Zayyid terus berada di ruangan Dania hingga pagi menjelang. Sebelum pukul lima pagi, Zayyid meminta Dokter Levi untuk menggantikan dirinya memberikan penjagaan pada Dania.
Tidak lama pun Dokter Levi datang dan membiarkan Zayyid pergi dari sana dengan setengah berlari.
"Selamat pagi Dania." Sapa Dokter Levi.
Dania hanya menoleh tanpa merespon apa yang dikatakan oleh Dokter Levi.
"Kamu tidak tidur lagi?." Meski tidak pernah mendapatkan jawaban dari Dania, tapi Dokter Levi tetap saja mengajak bicara Dania.
Dania terlalu asyik dengan dunianya yang entah seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
Radit datang bersamaan dengan dua orang perawat yang akan memeriksa keadaan Dania. Seperti yang sudah-sudah, Radit yang akan melakukan pekerjaan perawat tersebut.
Sedangkan di rumah Rusli, Inara sedang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Barata sangat senang dengan hubungan Inara dan Rusli yang kembali menghangat. Hubungan yang sudah sangat lama begitu dingin kini perlahan berubah lebih baik dan lebih dekat lagi.
"Selamat pagi istri ku,Inara" Sapa Rusli sambil mengecup pipi Inara di depan Barata.
Inara hanya tersenyum simpul. Dirinya pernah bermimpi merasakan ini dan sekarang mimpi itu seakan menjadi nyata. Ini semuanya tidak akan pernah terjadi kalau bukan karena kebaikan Medina yang mau mundur dari hubungan rumit bersama suaminya.
"Selamat pagi, Mas Rusli..." Balas Inara sambil memberikan secangkir kopi yang masih sangat panas.
"Terima kasih."
"Sama-sama Mas." Inara duduk di sebelah Rusli dan mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Kau ke kantor atau ke rumah sakit?." Tanya Barata setelah menyeruput teh hangat herbal kesukaannya.
"Ke kantor dulu baru ke rumah sakit."
"Papa jadi bertemu sahabat Papa?."
"Iya, katanya dia bisa membantu kita menghilangkan video itu. Siapa tahu saja benar."
"Iya, Pa. Team ku juga masih berusaha melakukannya."
__ADS_1