Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 69 Azka Narendra


__ADS_3

Kehebohan di sekolah sudah terjadi sejak para murid mulai berdatangan di sekolah. Hanya terjadi pada para murid, tidak sampai pada kalangan tenaga pengajar di sana. Mereka menanti kedatangan Dania yang sampai sekarang belum terlihat.


Berulang kali Erina menggelengkan kepalanya, sangat tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya dari video yang telah menyebar luas di area sekolah mereka.


Erina mencoba menghubungi Dania namun tidak bisa juga.


Reza begitu menikmati setiap apa yang dilakukan para murid terhadap video tersebut.


"Seandainya kamu tidak memiliki masalah dengan Joanna, sudah aku pastikan kalau kamu akan menjadi kekasih ku, Dania." Batin Reza.


Sepertinya apa yang Reza rencanakan tidak bisa berjalan mulus, ketika sampai siang ini Dania tidak kunjung terlihat sampai di sekolah. Sebuah informasi baru disampaikan oleh wali kelas Dania kalau Dania sedang tidak kurang sehat, sehingga untuk beberapa hari ke depan tidak bisa masuk sekolah.


"Ah, sial." Reza menggerutu sendiri lalu mengirimkan pesan pada Joanna dan Christin.


Panasnya terik matahari sangat menyengat kulit siang ini, tapi tidak menyurut langkah Azka untuk menemui wanita dari masa lalunya. Wanita yang menyebabkan luka pada orang-orang terdekatnya.


Azka bisa melihat melalui ekor matanya kala Christin menggeram kesal setelah membaca sebuah pesan yang masuk pada ponselnya. Azka sangar yakin jika itu ada hubungannya dengan Dania yang tidak masuk sekolah.


"Kau memang sangat dingin pada wanita yang baru kau kenal." Chtistin buka suara setelah berhasil menguasai dirinya lagi lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Tidak juga, mungkin karena kau kurang menarik bagi ku." Kali ini Azka mau bicara pada Christin setelah berhari-hari mengacuhkannya.


"Apa yang ada pada diri ku tidak menarik sama sekali?."


"Mungkin bagi orang lain menarik, tapi bagi ku tidak." Jawab Azka tanpa melihat Christin yang menahan amarahnya.


"Apa karena Joanna?."


Barulah Azka menoleh pada wanita yang berjalan disebelahnya.

__ADS_1


"Joanna?. Tidak juga, tapi mungkin karena aku lama menjalin hubungan bersamanya. Jadi terkesan standar ku ada pada Joanna, padahal tidak sama sekali."


Menyesal, Azka tidak ingin menyesal telah menjalin hubungan bersama Joanna. Karena sejauh ini Joanna bersikap baik padanya, kecuali hanya perselingkuhannya bersama Radit. Tapi Azka hanya menyayangkan atas tindakan Joanna yang telah menyakiti banyak pihak, terlebih orang disekelilingnya.


Sampai di tempat tujuan, Azka tidak langsung menemui Joanna di dalam kamar hotel yang telah dipesan oleh Joanna. Azka tidak ingin terjebak dengan permainan Joanna dan kawan-kawan. Jadi Azka meminta Joanna untuk turun dan bicara di cafe yang ada di sana.


"Kau takut kalau aku akan memberikan jebakan?." Tanya Joanna penuh percaya diri saat dirinya sudah berada di depan Azka.


Azka menggeleng sambil menatap wanita yang sudah tidak dikenalinya lagi.


"Kau semakin tampan saja, sayang. Hot Daddy, aku suka dengan gelar itu." Joanna menggoda Azka, tapi Azka tetap diam tidak membalas.


Sudah hampir 3 jam lamanya Azka dan Joanna bicara di cafe itu, namun Azka merasa sia-sia karena tidak menemukan informasi penting lainnya dari Joanna. Azka mengakhiri pertemuan itu dan kembali mengatur waktu untuk bertemu dengan Joanna di tempat lain yang lebih pribadi.


Azka pun pamit undur diri dari Joanna walaupun wanita itu memintanya untuk tinggal lebih lama di cafe itu. Karena Joanna merasa jika obat yang dimasukkan ke dalam minuman Azka belum bereaksi apa-apa. Tapi sayang Azka memaksa untuk tetap pergi dari sana tanpa mempedulikan Joanna lagi.


Barata dan Rusli sudah sampai di rumah sakit saat tengah malam, di sana sudah ada Dokter Tantan dan Dokter Levi. Kedua Dokter itu sudah mengabari keadaan Radit dan Medina saat mereka sudah mendapatkan hasilnya.


Radit dan Medina sama-sama berjuang untuk bisa sembuh dan bertahan hidup. Keduanya tidak ingin menyerah sedikit pun pada kondisi mereka yang sudah tidak lagi sempurna. Tetapi mereka sudah bertekad untuk memperbaiki diri secara bersama-sama. Makanya mereka bisa cepat untuk pulih.


Setelah memastikan keamanan untuk mereka berdua, Rusli dan Barata kembali pulang ke rumah di saat penghuni yang lain sudah tertidur saat mereka sampai di sana.


"Eva dan Darwin sudah masuk ke dalam perangkap kita, kita tunggu saja Azka mau mengambil langkah apa untuk masalah ini. Karena Radit juga tidak mungkin melakukan apa pun pada mereka." Rusli membaca laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya.


"Ulur saja terus waktu mereka di sana tanpa ada yang mencurigakan." Balas Barata sambil menaiki anak tangga.


"Aku rasa itu lebih baik."


"Hem."

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Rusli sudah berangkat ke rumah sakit. Karena ingin memastikan lagi keadaan Medina, dirinya ingin melihat dan berbicara pada wanita yang masih memiliki tempat di dalam hatinya.


Rusli langsung masuk dan sudah berdiri di hadapan Medina yang masih memejamkan matanya. Begitu juga dengan Radit yang masih tertidur pulas.


Salah, katakanlah dirinya salah karena sangat mengkhawatirkan wanita lain selain Inara. Di saat Medina dalam kondisi buruk seperti ini, tidak ada sanak saudara yang dimiliki Medina menjadikan Rusli semakin peduli pada wanita yang sudah lulus SMA tersebut.


"Om Rusli?." Tidur Medina terganggu ketika tangan Rusli membelai lembut pipinya.


"Apa aku mengganggu mu?." Tatapan Rusli semakin dalam pada Medina, namun Medina malah menoleh kearah Radit yang masih tertidur.


"Om pasti sudah tahu keadaan aku dari mereka, jadi aku rasa itu sudah cukup buat Om tanpa harus menemui ku di sini." Balas Medina lirih.


Medina tidak ingin kembali memasukan nama pria yang sedang berusaha dilupakannya. Dirinya tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain apalagi orang itu sangat baik terhadap dirinya.


"Apa aku tidak boleh menemuimu lagi?."


"Aku rasa itu jauh lebih baik untuk kita, Om. Aku kita sama-sama sedang berusaha, maka berusaha lah lebih keras lagi." Jawab Medina sambil membuang wajah ke sini kanan di mana wajah Radit berada.


Rusli mengikuti tatapan Medina dan di sana kedua mata Radit sudah terbuka.


"Om Rusli di sini?, dari kapan?." Tanya Radit.


"Belum lama, Om ingin memastikan keadaan kalian."


Radit menatap Medina yang tersenyum padanya.


"Om, ada yang ingin aku sampaikan."


"Apa, bicarakan saja?."

__ADS_1


"Aku minta izin pada Om sebagai orang yang baru kemari menjalin hubungan bersama Medina dan sebagai keluarga ku, aku ingin menikahi Medina."


__ADS_2