Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 72 Azka Narendra


__ADS_3

Suara tangis kencang Zayyid memecah kesunyian pagi itu, setelah dua hari tinggal di rumah itu lagi dan bersikap manis. Kehebohan terjadi karena Barata yang harus menenangkan Zayyid di dalam gendongannya. Setelah hampir lima menit menangis tanpa henti.


Inara dan Dania yang yang ditahan oleh tubuh suami mereka masing-masing di dalam kamar, hanya mampu mengelus dada karena tidak diperbolehkan keluar meski Zayyid menangis. Azka dan Rusli sudah sama-sama mau sampai puncaknya dan tidak boleh ada yang menghentikan itu. Kalau hal itu terjadi, bisa dipastikan kalau mereka akan merasa pusing satu harian penuh.


"Sssstttt...kau mau apa?." Di tangan Barata sudah ada dot berisi susu dan air putih. Pria paruh baya itu meminta Zayyid kecil untuk memilih salah satunya.


"Kau mau ini atau ini?." Tanya Barata pada Zayyid yang tidak kunjung menjawab malah terus saja tidak berhenti menangis dan semakin kencang.


Barata tidak putus asa, pria itu membawa Zayyid keluar dari kamar dan berjalan menuju halaman depan. Di mana ada beberapa pelayanan sedang membersihkan kolam renang, memotong rumput dan merapikan taman milik Inara


"Siapa diantara kalian yang bisa menghentikan tangisan Zayyid, maka aku akan memberikan uang satu gepok." Barata membuat sayembara bagi para pegawai itu, mereka saling menatap satu sama lain.


Apa yang bisa mereka lalukan untuk menghentikan tangis bayi itu karena mereka sendiri belum menikah, apalagi sampai memiliki anak.


"Coba kau kemari!." Tunjuk Barata pada sosok wanita muda yang berdiri di pinggir kolam dan wanita itu menghampiri Barata setelah menaruh selang yang sudah dimatikan airnya.


Sambil tersenyum wanita yang bernama Wulan itu menatap Zayyid dan mencoba mlakukan sebisanya. Namun hingga sepuluh menit sudah berlalu, hanya sebentar Zayyid berhenti tapi pada detik berikutnya kembali menangis.


"Selanjutnya, kau!." Barata meminta tukang kebun itu maju dan mulai menampakkan wajahnya pada Zayyid. Tapi belum apa-apa, Zayyid kecil sudah dibuat semakin histeris menangis.


Yang ada semua orang menertawakan pria yang bernama Holid itu.


Begitu juga seterusnya sampai tidak ada yang bisa membuat cicitnya itu terdiam dan tersenyum. Lalu Barata kembali ke dalam rumah setelah mengatakan payah pada mereka semua.


Barata yang semakin kewalahan pun bisa bernafas lega karena di saat yang bersamaan Inara dan Dania turun dari lantai dua dengan wajah yang cantik, wangi dan sangat segar.


Kedua wanita beda generasi itu hanya tersenyum tipis saat Barata menelisik mereka cukup intens.


"Aku akan menghukum anak dan ayah itu!." Ucap Barata setelah menyerahkan Zayyid ke dalam pangkuannya ibu kandungnya. Seketika tangis Zayyid terdiam dan menatap wanita cantik yang telah melahirkannya.

__ADS_1


Barata sudah menghilang di lantai itu. Entah kamar siapa yang akan didatanginya terlebih dahulu.


Sedangkan Inara dan Dania duduk santai di meja makan karena Zayyid sudah tenang dan tidak rewel lagi ketika di tangan orang yang tepat. Keduanya terlihat seperti sedang berlomba, siapa yang makannya paling banyak dan cepat, dia lah pemenangnya. Kira-kira itu lah gambaran Inara dan Dania saat ini.


"Kamu lapar sekali sayang?."


"Mama juga, sangat lapar ya?."


Ibu dan menantu itu saling melempar pertanyaan tanpa mau ada yang menjawab. Karena akan terasa sangat memalukan jika saling mengetahui apa alasan dibalik mereka tidak ada yang langsung mengambil Zayyid.


Usai menghabiskan makanannya, Inara dan Dania masih betah berada di sana. Mereka membicarakan apa saja yang dapat mereka bantu untuk mempersiapkan pernikahan Radit dan Medina yang akan digelar secara sederhana.


"Sahabat kamu itu gadis yang sanagt baik." Puji Inara pada sosok Medina yang baru dikenalnya. Namun sedikit banyaknya Dania sering membicarakan kebaikan ketiga sahabatnya, salah satunya Medina.


Inara selalu berterima kasih pada Dania dan Medina, karena berkat mereka berdua pernikahannya bersama Rusli dapat dipertahankan.


"Mama sudah menyiapkan hadiah untuk mereka berdua."


"Rumah yang di blok depan sayang."


Dania terdiam sejeank, sebab Dania dan Radit sudah berjanji tidak akan menerima hadiah apa pun kecuali pekerjaan mereka di Semarang. Karena setelah menikah Radit akan membawa Medina unyuk tinggal menatap di kota tersebut.


Pernikahan mereka terjadi salah satunya karena Radit ingin membantu Medina supaya bisa lepas dari Rusli yang selalu masih menunjukkan perhatian kecil.


Terlebih lagi Medina sudah sangat banyak membantu disaat Radit di sekap oleh Eva dan Darwin.


"Ada kamu ada ide lain selain rumah yang di depan?."


"Bukan itu, Ma. Aku rasa Kak Radit dan Medina tidak akan mau menerimanya, Ma."

__ADS_1


"Tapi kenapa sayang?."


"Mereka ingin memulai semuanya dari nol Ma. Kak Radit dan Medina mau berdiri di kaki mereka sendiri setelah menikah. Aku harap Mama tidak tersinggung dengan apa yang mereka inginkan."


Kini giliran Inara yang terdiam, mungkin dirinya tahu kenapa Radit dan Medina menolaknya. Dan itu harus dirinya hormati apapun yang telah mereka putuskan bersama.


Inara mengangguk mencoba memahami mereka.


Waktu sudah menunjukkan sore menjelang malam, ketika Dokter Levi dan Dokter Tantan menemukan jasad Joanna dan kedua orang tuanya. Yang menyisakan cerita pilu dibalik itu yang disampaikan oleh Reza dan Christin yang diberikan kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri mereka.


Pekerjaan mereka sebagai Guru dan Dosen pun tetap aman, selama keduanya berjanji tidak akan terlibat apapun yang dapat merugikan orang lain yang nantinya akan berimbas buruk pada diri mereka masing-masing.


Joanna yang masih bisa bertahan dengan kewarasan setelah kejadian beberapa hari lalu, tidak tega dan tidak ingin melihat Eva yang depresi lebih dulu. Yang kemudian di susul oleh Darwin.


Ternyata tidak sampai membutuhkan waktu 3X24 jam untuk membuat mereka depresi. Sehingga Joanna lebih memilih untuk mengakhiri hidup Eva dan Darwin lalu setelah itu dirinya.


Kematian itu mejadikan Reza dan Christin berpikir ulang untuk menyakiti orang lain, terlebih orang-orang yang berada disekeliling Azka Narendra.


"Kau sudah membersihkan semuanya?." Tanya Azka pada Dokter Levi dan Dokter Tantan yang baru tiba di tempat itu bersama Barata dan Rusli.


"Sudah, semuanya sudah bersih dan steril." Jawab Dokter Levi karena Dokter Tantan akan membawa Christin dan Reza ke rumah sakit untuk pendampingan.


"Ok, terima kasih."


"Sama-sama."


Mereka meninggalkan tempat itu dan semuanya menuju ke rumah sakit untuk menindaklanjuti kesehatan Reza dan Christin yang cukup terganggu dengan adanya peristiwa yang terjadi di depan mata mereka.


Sekaligus untuk menemui Radit dan Medina yang sudah dalam kondisi jauh lebih baik.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, ternyata sudah ada Salma dan Almeer serta Chaca dan Shaka.


Azka pun ikut bergabung bersama mereka tanpa adanya Dania.


__ADS_2