
Dania masih belum bisa sepenuhnya melupakan bayang-bayang kejadian itu saat Azka akan memasukinya dirinya lagi. Walaupun Dania sangat menikmati setiap sentuhan dan belaian yang diberikan Azka terhadap tubuhnya.
"Maaf, sayang. Aku terlalu cepat." Azka menjatuhkan tubuh polosnya pada sisi kanan Dania. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Azka sudah keburu nafsu untuk menghilangkan jejak Adnan yang masih menempel pada tubuh Dania. Sehingga dirinya lupa akan kenyamanan dan keamanan Dania. Azka mengusap kasar wajahnya saat menyadari kebodohannya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Kak. Aku..." Dania memiringkan tubuhnya menghadap Azka lalu melingkarkan tangan kecilnya pada pinggang Azka.
"Tidak sayang, aku yang terlalu bersemangat karena aku ingin menemui jagoan ku." Ucap Azka beralasan. Lalu mengusap perut Dania dan mengecupnya.
"Lebih baik sekarang kita tidur saja, semalam kita tidak ada tidur sama sekal bukan?." Azka memejamkan kedua matanya untuk meredam amarah dan hasratnya yang datang bersamaan.
"Kak Azka marah?." Dania mendongak menatap wajah Azka sambil meletakkan dagunya di atas dada bidang Azka yang tanpa penghalang.
Mata Azka terbuka lalu menunjukkan senyum terbaiknya pada Dania dengan tangan yang merapikan rambut Dania.
"Tidak alasan bagi ku untuk marah pada mu, sayang. Nanti kita coba lagi sampai kamu siap dan bisa menerima ku kembali."
"Aku sudah siap kalau Kak Azka mau mencoba lagi." Dania merasa kasihan pada Azka yang harus menahan hasratnya yang sudah sampai ubun-ubun. Senjata laras panjangnya masih berdiri tegak meminta tempat guna menembakkan peluru tajamnya.
"Aku tidak ingin memaksa sayang. Sudah abaikan saja, nanti juga dia tidur." Azka memeluk Dania dengan hati yang sangat berdebar dan nafas yang sangat memburu.
Dania menggeleng lalu menurunkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Biarkan aku mencobanya Kak, Kak Azka diam saja, biar aku yang bergerak." Sebelum mendapatkan persetujuan dari Azka, Dania sudah bergerak naik ke atas tubuh atletis Azka.
"Kamu yakin?." Tanya Azka sambil memegangi paha mulus Dania.
Dania menganggukkan kepalanya malu-malu. Dania harus bisa mekawan ketaukannya sendiri. Bukan orang lain yang saat ini berada bersamanya. Melainkan Azka Narendra, pria yang sangat dicintainya dan mencintainya juga sekaligus ayah dari calon bayinya.
Azka menatap wanita yang sedang berjuang melawan ketakutannya, itu sangat terlihat dari wajah cantik Dania. Tapi Azka tetap membiarkannya, karena ingin melihat sampai sejauh mana Dania bisa mengatasi rasa takut akan bayangan itu.
Dania mengecup bibir Azka dengan tubuh yang sedikit bergetar dibarengi keringat yang tiba-tiba membasahi seluruh tubuhnya. Bibir Dania perlahan bergerak di atas bibir Azka, Azka menyambut gerakan Dania dan dirinya pun membalas permainan bibir Dania. Azka tidak ingin membiarkan wanitanya berjuang seorang diri.
__ADS_1
Azka membantu Dania mengarahkan senjata laras panjangnya pada arena yang sebenarnya, Dania menarik nafas panjang dengan mata yang tidak pernah lepas dari Azka. Pria yanh saat ini bersamanya adalah Azka Narendra.
"Aahhh..." Azka mendapatkan apa yang diinginkannya dan Dania bisa mengatasi ketakutannya meski dengan bercucuran air mata saat mereka kembali menyatu.
"Kamu bisa sayang!." Seru Azka bersorak gembira, sementara Dania hanya tersenyum puas dan mulai menggerakkan panggulnya di atas senjata laras panjang milik Azka.
Sedangkan di tempat lain, di sebuah gedung perkantoran. Okki, Mama Salma mendatangi kantor Papanya Almeer, Dwiki.
Okki ingin membicarakan pertunangan anak-anak mereka yang bagi Salma tidak ingin melanjutkan pertunangannya bersama Almeer. Tanpa Salma menyebutkan alasan yang sebenarnya, Salma hanya mengatakan ingin fokus pada sekolah dan cita-citanya saat ini.
"Apa mungkin ada alasan lain selain itu?. Karena kemarin kan semuanya baik-baik saja." Dwiki merasa heran atas keputusan Salma yang tiba-tiba ini. Padahal menurut Dwiki, Salma begitu senang dengan pertunangan tersebut.
"Aku rasa tidak ada, selama ini juga Salma selalu mengatakan pada ku apa yang disukainya atau masalah yang sedang dihadapinya."
Dwiki mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Almeer yang ternyata sedang bersama Shaka di cafe milik Azka.
"Kenapa tidak kau angkat?, siapa tahu ada hal penting?." Tanya Shaka saat ponsel Almeer kembali berdering setelah beberapa saat lalu mati dengan sendirinya.
"Paling masalah pertunangan ku dengan Salma." Tebak Almeer. Karena Salma sudah memberitahunya kalau dirinya sudah mengatakan pada Mamanya.
Almeer hanya mengangguk sambil menatap ponselnya yang sudah tidak berdering.
Almeer sudah tahu keinginan Papanya jika tidak diikuti, bisa-bisa semuanya diambil lagi darinya. Tapi dirinya pun tidak bisa menerimanya Salma begitu saja, karena di dalam hatinya masih ada Dania dan kini malah sudah ada Medina.
"Kau sendiri serius pada pegawai itu?." Almeer menatap Shaka yang lebih santai menjalani hidupnya. Tidak ada tekanan dari mana pun, sebab orang tua Shaka sangat cuek untuk urusan asmara anak-anaknya.
"Dia baik, manis, tulus dan pengertian. Sudah cukup bagi ku."
"Medina?."
"Ha...ha...ha...sepertinya aku bukan tipe Medina. Jadi lebih baik aku sadar diri saja dan meneruskan hubungan ku bersama Chaca. Bukannya kau juga suka pada Medina?."
"Entah lah aku juga bingung, apa aku benar-benar suka atau cinta atau karena dia mirip dengan Dania?. Aku tidak tahu."
__ADS_1
"Cepat kau sadari perasaan kau terhadap Medina, jangan sampai membuang gadis sebaik dan setulus Salma."
Almeer hanya diam sambil mentapa Shaka, tidak salah dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Hanya saja dirinya masih bingung dengan perasaannya sekarang ini.
Ponsel Almeer kembali berdering dan kali ini Almeer langsung menjawabnya.
"Iya Pa, ada apa?."
"Cepat pulang ke rumah sekarang juga!."
Tut...tut...tut...
"Aku pulang." Pamit Almeer setelah sambungan teleponnya dimatikan oleh Papanya.
"Ok, hati-hati."
"Hem..." Shaka menatap Almeer yang keluar dari ruangannya dan menutup pintu.
Sementara Azka dan Dania kembali mengarungi surga dunia untuk yang kedua kalinya. Mereka melebur menjadi satu dan mencoba menata hati dan hidup mereka untuk masa depan.
Setelah beberapa menit berlalu, percintaan mereka pun sudah selesai. Kini keduanya masih santai di atas tempat tidur. Membicarakan hubungan mereka di masa depan.
"Aku sudah meminta Mama untuk menyiapkan pesta pernikahan kita secara sederhana. Hanya keluarga saja dan sahabat-sahabat mu. Bagaimana?."
"Iya, aku bisa berbaur dengan yang lain."
Dania bangkit dan memakai kembali pakaiannya lalu duduk di samping Azka sambil menyerahkan ponsel Azka yang bergetar. Dan itu telepon dari Rusli, Papanya.
"Iya, Pa."
"Eva dan Darwin membawa kasus kematian Adnan ke kantor polisi. Jadi kau dan Radit harus berhati-hati karena Darwin memiliki orang dalam di sana yang siap membantu mereka. Papa sudah meminta Radit untuk pergi ke luar kota untuk sementara waktu. Sekarang kakek mu sudah turun tangan."
Azka menatap Dania yang sedang mengelus perut besarnya.
__ADS_1
Baru juga dirinya merasakan kebahagiaan, kini sudah ada masalah baru yang siap memisahkan lagi dirinya dan Dania.